Rangkul Dunia Gelap Hingga Sentuh Keluarga Miskin, Inilah Tekad Pengurus Baru MUI Jateng 2026-2031

25 Agustus 2026, 10:19 WIB • 3 menit baca
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berfoto bersama jajaran Pengurus MUI Jateng 2026-2031 dengan pose mengepalkan tangan tanda komitmen usai pelantikan di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang.
TEKAD BERSAMA: Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi (tengah, seragam dinas) berfoto bersama jajaran Pengurus MUI Jateng 2026-2031 seusai prosesi pengukuhan di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (24/8/2026). Sinergi solid antara ulama dan umaro ini menyimbolkan komitmen kuat untuk menghadirkan dakwah inklusif dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga di Jawa Tengah. (foto; Humas Jateng)

SEMARANG, Jatengdata.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah langsung menunjukkan tekad kuat seusai menjalani prosesi pelantikan. pengurus MUI Jateng 2026-2031 merancang komitmen dakwah inklusif untuk merangkul “dunia gelap” sekaligus merumuskan solusi ekonomi yang membidik langsung ketahanan keluarga miskin.

Semangat pengabdian ini mengemuka pascapengukuhan resmi jajaran pengurus di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (24/8/2026). Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, pada momen pelantikan tersebut mendorong para ulama agar tampil sebagai mitra kolaborasi pemerintah. Sinergi ulama dan umaro ini memegang peran krusial guna menjaga harmoni sosial dan menekan himpitan angka kemiskinan wilayah.

Fokus Ketahanan Ekonomi Keluarga

Merespons dorongan kolaborasi itu, Komisi Ekonomi Syariah MUI Jateng mulai mematangkan tekadnya. Anggota komisi, Dr. H. Agung BM, menilai MUI wajib memformulasikan pendekatan sistem syariah agar kelak memberikan dampak riilbagi masyarakat bawah.

“Ekonomi syariah harus terasa manfaatnya sampai ke dapur keluarga, melalui pemberdayaan masyarakat miskin, penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, dan ketahanan ekonomi keluarga,” ujar Dr. H. Agung BM.

Tekad tersebut selaras dengan realitas angka kemiskinan Jawa Tengah yang masih menyentuh 9,21 persen (3,29 juta penduduk). Himpitan finansial harian ini sangat rentan memicu keretakan rumah tangga, sehingga penguatan ekonomi umat menjadi wacana yang sangat krusial.

“Karena itu pemberdayaan ekonomi umat sesungguhnya juga bagian dari ikhtiar menjaga keluarga. Ketika kepala keluarga mempunyai pekerjaan, usaha kecil memperoleh pasar, dan ibu rumah tangga memiliki peluang ekonomi produktif, yang kita perkuat bukan hanya pendapatan, tetapi juga ketahanan keluarga,” ujarnya.

Guna merealisasikan niat baik tersebut, tim ini berencana membangun ekosistem pemberdayaan lintas sektor. Rencana kolaborasi ini diproyeksikan akan merangkul pesantren, lembaga zakat, hingga institusi perbankan.

“MUI tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Justru kekuatan MUI adalah mempertemukan ulama, pemerintah, akademisi, dunia usaha, perbankan syariah dan masyarakat. Kalau potensi ini dikolaborasikan dengan baik, ekonomi syariah dapat menjadi salah satu jalan nyata untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran di Jawa Tengah,” tuturnya.

Jajaran pakar dan praktisi langsung mengawal komitmen pemberdayaan ekonomi ini. H. Arnaz Agung Andrarasmara, SE., MM kini memimpin Komisi Ekonomi Syariah bersama Sekretaris Dr. H. Nur Fatoni, M.Ag. Skuad ini makin solid dengan deretan anggota tangguh meliputi Drs. Masrokhan Sulaiman, MPA., CGCAE; Dr. Ir. H. Ihwan Sudrajat, MM; H. Andang Wahyu, SE., MM; H. Slamet Sulistiyono, SE; Aris Pandan, S.Kom., MM; Dr. Saifuddin Zuhri; Dr. Agung BM; H. Masykuri Maskur; serta Ir. H. Ferry Firmawan, Ph.D., ST., MT., IPU.

Tekad Dakwah Komunitas Lintas Batas

Sementara itu, wacana pembaruan paradigma turut disuarakan secara lantang oleh Komisi Dakwah. Tim ini bertekad menyusun kerangka pendekatan kultural yang santun untuk menjangkau kelompok marginal tanpa menimbulkan kesan menghakimi.

Anggota komisi yang juga Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Dr. H. KRAT. AM. Jumai, SE., MM., amat mendorong pengembangan dakwah komunitas lintas batas. Ia bertekad agar model dakwah kultural ini mampu hadir menyentuh seluruh lapisan, termasuk menjangkau masyarakat di “dunia gelap dan gemerlap”.

Formulasi gagasan inklusif ini lahir dari kedalaman pemikiran para figur lintas disiplin ilmu. Dr. H. Sarjuni, S.Ag., M.Hum resmi menakhodai Komisi Dakwah bersama sekretaris Dr. H. Agus Fathudin Yusuf, MA.. Kekuatan tim perumus ini ditopang oleh barisan anggota mumpuni, yakni Drs. H. Istajib AS; Moh. Yasir Alimi, S.Ag., MA., Ph.D; Dr. H. AM. Jumai, SE., MM; Hj. Tazkiyatul Mutmainnah, SKM., M. Kes; Dr. H. Samsudin Salim, M.Ag; Dr. H. Fahrurrozi, M.Ag; KH. Mat Rozi; Dr. KH. Saiful Amar, Lc., MSI; hingga Prof. Dr. Agus Waluyo.

Kehadiran deretan ulama dan akademisi andal pada kedua komisi ini mempertegas keseriusan institusi pascapelantikan. Publik Jawa Tengah kini menanti tekad mulia pengurus MUI Jateng 2026-2031 ini segera bertransformasi menjadi program kerja konkret demi terwujudnya kesejahteraan umat. (*)

Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.