Nyambi Barista hingga Bersihkan Rumah Dosen, Anak Buruh Tani Ini Buktikan Diri Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo
SEMARANG, Jatengdata.com – Bagi sebagian mahasiswa, masa kuliah adalah fase untuk fokus belajar dan bersosialisasi. Namun bagi Yuda Agustian, bangku perkuliahan adalah arena pertarungan nyata untuk bertahan hidup. Pemuda ini terbiasa meracik kopi pelanggan sebagai barista hingga menyapu lantai rumah dosen demi membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Kini, ia sukses membungkam segala keraguan. Akhir pekan ini, putra seorang buruh tani asal pelosok Tasikmalaya tersebut berdiri tegap di mimbar kehormatan. Rektor resmi menobatkan Yuda sebagai wisudawan terbaik UIN Walisongo di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) dengan raihan IPK nyaris sempurna, 3,94.
Menyisihkan Ribuan Lulusan Kampus Unggul
Publik tidak bisa memandang sebelah mata pencapaian Yuda jika melihat ketatnya persaingan akademik di institusi tersebut. Pada Sabtu (22/8), ia menjadi bintang yang bersinar di antara 2.016 mahasiswa yang merayakan kelulusan. Rektor secara resmi mengukuhkan ribuan lulusan UIN Walisongo ini, yang mencakup 46 Doktor, 72 Magister, dan 1.898 Sarjana.
Berhasil menjadi yang terbaik di perguruan tinggi ini memberikan prestise tersendiri. Sejak berdiri pada tahun 1970, UIN Walisongo sukses membuktikan bonafiditasnya dengan mencetak total 64.528 alumni yang menyebar ke berbagai sektor.
Kualitas pendidikannya pun sangat kompetitif. Kampus ini mengelola 55 program studi, di mana 37 prodi telah berstatus akreditasi Unggul dan 38 prodi berhasil mengantongi standar akreditasi internasional ACQUIN. Menembus puncak prestasi mahasiswa UIN di ekosistem akademik seketat ini jelas menuntut determinasi di atas rata-rata.
Cuti Kuliah Demi Menjaga Minimarket
Jalan cerita mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) ini melangkah jauh dari kata mulus. Yuda tumbuh dari keluarga dengan ekonomi yang sangat terbatas di Jawa Barat. Ia sadar dirinya tak punya keistimewaan untuk sekadar menunggu kiriman uang saku dari kampung. Ia membulatkan tekad merantau ke Semarang sekaligus membawa semangat baja untuk mandiri secara finansial.
Bahkan, pada semester awal, Yuda terpaksa menelan pil pahit. Ia mengambil langkah nekat dengan mengajukan cuti akademik satu semester penuh demi bekerja full-time sebagai pelayan toko ritel minimarket. Ia memiliki satu tujuan utama: mengumpulkan modal agar bisa mendaftar ulang di semester berikutnya.
Yuda membuang jauh-jauh rasa gengsi dari kamus hidupnya. Demi menyambung hidup di tanah rantau, ia melakoni berbagai pekerjaan serabutan. Ia pernah mengabdi sebagai instruktur Pramuka, menjadi kurir antar-jemput, menjaga mesin espresso sebagai barista kedai kopi, hingga bekerja sebagai asisten paruh waktu yang bertugas membersihkan rumah dosennya.
“Bagi saya, keterbatasan bukan penghalang untuk berkembang, melainkan ruang belajar yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih tangguh,” ujar Yuda mengenang masa-masa memeras keringat usai jam kuliah.
Air Mata Kebanggaan Sang Buruh Tani
Kerja keras Yuda nyatanya memberikan hasil manis. Prestasi akademiknya justru meroket pesat. Ia berhasil menyusun skripsi berkualitas tentang budaya mutu kepemimpinan di madrasah dasar.
Etos kerjanya yang tinggi juga mengundang kebaikan hati dari banyak pihak. Selama masa sulitnya, Yuda menerima bantuan beasiswa UKT dari dosennya, Syaiful Bakhri, M.MSI., serta dukungan moral yang tiada henti dari Baqiyatush Sholihah, M.Si. Tidak hanya itu, ia juga mendapatkan bimbingan penuh kasih dari sosok orang tua angkatnya di Semarang, Wasis dan Karni.
Momen puncak penganugerahan wisudawan terbaik UIN Walisongo tersebut menjadi ajang pembuktian yang emosional. Rektor secara khusus memberikan penghormatan bagi lulusan-lulusan tangguh yang lahir dari keterbatasan.
“Di balik toga yang mereka pakai, kita melihat doa, peluh orang tua, dan air mata perjuangan,” tegas Rektor dari atas podium.
Bagi Yuda, gelar prestisius tersebut bukanlah target utamanya. Ia hanya menyimpan impian sederhana: melihat ayah dan ibunya duduk di barisan kursi dalam gedung auditorium, menyaksikan putra mereka sukses meraih sarjana.
Lewat keringat di balik celemek barista dan sapu rumah dosen, anak buruh tani itu kini siap menatap masa depan. Di balik predikat wisudawan terbaik UIN Walisongo, Yuda membawa pulang kebanggaan besar, sekaligus menyalakan harapan terang bagi ribuan mahasiswa rantau lainnya yang sedang berjuang keras menggapai cita-cita.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.