Mahasiswa Baru UIN Walisongo Sentil Gaji Guru Honorer 300 Ribu, Wagub Gus Yasin Jawab Begini

19 Agustus 2026, 09:46 WIB • 3 menit baca
Mahasiswa baru UIN Walisongo Semarang menyoroti isu gaji guru honorer Jateng saat berdialog langsung dengan Wagub Taj Yasin Maimoen di PBAK 2026.
Seorang mahasiswa baru Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo dengan lantang menyuarakan aspirasi terkait minimnya gaji guru honorer Jateng secara langsung kepada Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, di sela-sela pembukaan PBAK 2026, Semarang, Selasa (18/8/2026).

SEMARANG, Jatengdata.com – Momen Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 UIN Walisongo Semarang mendadak riuh. Di hadapan 4.623 mahasiswa baru, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) langsung dicecar pertanyaan menohok terkait nasib pilu gaji guru honorer di pesisir dan pedalaman yang jauh di bawah standar kelayakan.

Kejadian bermula saat Gus Yasin memberikan kuliah umum di lapangan utama kampus Unity of Sciences tersebut pada Selasa (18/8/2026). Saat Wagub memaparkan peran guru sebagai pilar pembentukan karakter bangsa, seorang mahasiswa baru dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) bernama Dimas Rifai memberanikan diri berdiri dan mengambil alih sorotan.

Ia membeberkan realita ironis yang menimpa banyak guru honorer madrasah dan sekolah swasta di Jawa Tengah. Para guru ini mengabdi belasan tahun namun gaji guru honorer mereka hanya Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.

“Kami di FTIK belajar untuk menjadi garda terdepan pendidikan. Namun realita di lapangan sangat ironis. Bagaimana seorang guru bisa fokus mengajar dengan tenang jika ia gagal memenuhi kebutuhan dasar keluarganya sendiri?” ungkap Dimas dengan tegas.

Jawaban Tegas Pemprov Jateng soal Formasi PPPK

Mendapat “sentilan” dari calon pendidik, Gus Yasin justru mengapresiasi keberanian mahasiswa tersebut. Ia mengakui realita di lapangan dan langsung membeberkan langkah konkret Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah dalam mengurai sengkarut kesejahteraan tenaga pendidik.

Gus Yasin memastikan Pemprov Jateng terus menjadikan alokasi insentif dan pengawalan pengangkatan Guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sebagai prioritas utama APBD.

“Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak pernah menutup mata. Setiap tahun kita terus mengalokasikan anggaran insentif untuk puluhan ribu guru keagamaan, Ustadz-Ustadzah, serta memperjuangkan kuota PPPK ke pemerintah pusat,” tutur Gus Yasin.

Ia menekankan perbaikan ini menuntut restrukturisasi sistemik yang melibatkan berbagai pihak. “Kami sadar ini belum sempurna, tetapi keberpihakan itu nyata dan terus kita tingkatkan,” tambahnya sembari memancing tepuk tangan ribuan mahasiswa.

Kampus Inklusif: Dari Nusantara hingga Mancanegara

Ekosistem kampus yang majemuk rupanya melahirkan keberanian mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi sosial. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama UIN Walisongo, Dr. Hj. Ummul Baroroh, M.Ag., memaparkan 4.623 mahasiswa baru tahun ini merepresentasikan wajah inklusivitas pendidikan.

Dr. Ummul menjelaskan ribuan mahasiswa di sembilan fakultas tersebut berasal dari 34 provinsi di seluruh Indonesia, bahkan mencakup kehadiran mahasiswa internasional.

Ia menegaskan PBAK menjadi momentum krusial untuk membentuk fondasi awal karakter, mentalitas, serta wawasan akademik para mahasiswa baru.

Lebih lanjut, ia meminta mahasiswa untuk tidak sekadar mengejar nilai akademik di kelas. Kampus menuntut mahasiswa aktif mengasah potensi kepemimpinan dan kepedulian sosial melalui berbagai wadah organisasi dengan tetap menjunjung tinggi moderasi beragama.

Tantangan Rektor: Jangan Sekadar Jadi ‘Mahasiswa Lokal’

Visi besar Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., kemudian memperkuat pesan kemahasiswaan tersebut. Ia menantang ribuan mahasiswa untuk mendobrak ruang lingkup pemikiran yang sempit.

“Kembangkan kemampuan akademik saudara-saudara, tetapi jangan hanya berpikir bahwa saudara-saudara hanyalah ‘mahasiswa Ngaliyan’ atau Jerakah. Di era revolusi digital ini, saudara-saudara harus meneguhkan diri menjadi global student, menjadi mahasiswa dunia,” seru Prof. Musahadi.

Di akhir arahannya, sang Rektor menitipkan pesan kunci agar para mahasiswa terus menjaga akhlak Islami dan nama baik almamater. Hal ini menjadi wujud syukur atas privilese mengecap pendidikan tinggi di tengah ragam keterbatasan pemuda Indonesia lainnya.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.