Ngeri! Ancaman Mikroplastik Susupi Rantai Makanan Kita, Pakar India Bongkar Solusinya di UIN Walisongo
SEMARANG, Jatengdata.com – Ancaman mikroplastik kini secara nyata menyusup ke dalam rantai makanan manusia. Merespons kondisi darurat tersebut, pakar lingkungan asal India, Prof. Sadhan Kumar Ghosh, membongkar bahaya tersembunyi ini di Kota Semarang.
Lebih lanjut, ia memaparkan fakta mengerikan itu dalam acara International Guest Lecture dan Focus Group Discussion (FGD), UIN Walisongo, pada Senin (3/8/2026). Bukan sekadar isapan jempol, partikel plastik berukuran renik ini terbukti mencemari tanah, sungai, hingga piring makan masyarakat.
Menurut Profesor Ghosh, ancaman mikroplastik saat ini membutuhkan penanganan super cepat. Ironisnya, partikel mematikan tersebut menyebar luas tanpa publik sadari. Berbekal data lapangan, tokoh penting dari International Society of Waste Management, Air, and Water (ISWMAW) itu menyoroti ngerinya siklus pencemaran lingkungan.
Pada mulanya, limbah plastik hancur menjadi serpihan kecil di alam liar. Selanjutnya, hewan air dan hewan ternak tanpa sengaja memakan serpihan beracun itu. Ujung-ujungnya, manusia mengonsumsi produk hewani yang telah membawa racun berbahaya tersebut. Menyadari bahaya ini, Ghosh mendorong kolaborasi kuat dari hulu ke hilir.
Langkah strategis ini bertujuan memutus rantai polusi secara permanen. Oleh karena itu, pemerintah, industri, dan masyarakat sipil harus bergerak serentak. Sebagai aksi nyata, semua pihak wajib mengerem penggunaan plastik sekali pakai. Mereka juga harus mempraktikkan prinsip ekonomi sirkular.
Solusi Moral Gerakan Ekoteologi
Menghadapi krisis global tersebut, UIN Walisongo menawarkan jalan keluar alternatif. Sebagai langkah konkret, kampus ini menggalakkan Gerakan Ekoteologi untuk meredam ancaman mikroplastik.
Dalam forum akademis itu, Rektor UIN Walisongo, Prof. H. Musahadi, M.Ag., menegaskan, persoalan lingkungan tidak pernah cukup diselesaikan semata-mata melalui pendekatan teknologi modern. Lebih dari itu, masyarakat mutlak memerlukan perubahan paradigma berpikir serta kesadaran moral yang kokoh. Oleh karena itu, institusi perguruan tinggi memegang peran yang sangat strategis dalam menanamkan kepedulian ekologis secara konsisten lewat jalur pendidikan.
Lebih lanjut, Rektor menjelaskan bahwa penyelenggaraan forum ilmiah ini merupakan wujud nyata komitmen kampus dalam mendukung Gerakan Ekoteologi yang diinisiasi oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai pelestarian alam disebarluaskan secara masif kepada para pendidik dan mahasiswa.
Langkah ini bertujuan membangun kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah yang tepat merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bumi. Hal ini sekaligus menjadi fondasi penting dalam mendukung terwujudnya ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Terinspirasi oleh visi tersebut, puluhan peserta FGD sangat antusias membedah isu strategis ini. Para peserta ini meliputi guru MI, SD, SMP, MTs, hingga dosen di wilayah Semarang dan Kendal. Secara langsung, mereka mempelajari rumusan pengelolaan sampah berkelanjutan dari sang pakar.
Melalui edukasi intensif ini, perguruan tinggi optimistis mencetak agen perubahan lingkungan. untuk melindungi masa depan bumi demi terwujudnya Sustainable Development Goals (SDGs).
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.