Anak Pemotong Ayam, Mahasiswa KIP Kuliah Undip Tembus Magang BCA

4 Agustus 2026, 11:50 WIB • 4 menit baca
Potret Smile Alza Fauzi, mahasiswa KIP Kuliah Undip asal Boyolali, mengenakan toga wisuda cumlaude sebelum memulai karir di program Magang Bakti BCA 2026.
LULUSAN TERBAIK: Smile Alza Fauzi, penerima beasiswa penuh KIP Kuliah Undip, tersenyum bangga mengenakan toga dan selempang cumlaude pada prosesi wisuda Universitas Diponegoro di Semarang. Kisah inspiratif anak Boyolali ini viral usai sukses menembus seleksi ketat Magang Bakti BCA 2026 sebelum resmi diwisuda. (Foto: Dok. Istimewa)

SEMARANG, Jatengdata.com – Tidak banyak yang dibawa Smile Alza Fauzi saat meninggalkan Boyolali menuju kampus Undip Semarang. Hanya berbekal keberanian dan status mahasiswa KIP Kuliah Undip, anak seorang pekerja pemotongan ayam ini membuktikan tekadnya dengan memenangkan kursi prestisius di program Magang Bakti BCA 2026, bahkan sebelum ia resmi mengenakan toga wisuda.

Deretan prestasi sudah mewarnai perjalanan Alza sejak kecil di Boyolali. Ia lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya menggantungkan hidup sebagai karyawan usaha pemotongan ayam, sementara sang ibu mengurus rumah tangga. Keterbatasan ekonomi tak pernah memadamkan semangat belajarnya. Sejak sekolah dasar, ia rajin menyabet juara di Olimpiade Sains Nasional (OSN), olimpiade biologi, hingga matematika.

Bekal prestasi akademik itu membuka pintu beasiswa di setiap jenjang pendidikan yang ia tempuh. Tak hanya mengasah otak di dalam kelas, Alza juga menggembleng mental kepemimpinannya melalui OSIS, Palang Merah Indonesia, dan Pramuka. Langkahnya kian mantap saat menembus Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip melalui jalur beasiswa penuh.

“Saya tidak perlu mengeluarkan banyak biaya sejak SD, SMP hingga SMA karena Alhamdulillah mendapatkan beasiswa dari sekolah. Itu sangat membantu orang tua saya dalam meringankan beban finansial,” kenangnya.

Mengubah Keterbatasan Menjadi Prestasi

Di kampus Undip Semarang, ruang geraknya kian meluas. Ia bergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa, Society of Renewable Energy, dan meneliti alga melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Jejak keterlibatannya kian bersinar saat ia terpilih menjadi perwakilan Mas FPIK Undip pada tahun 2024.

Meskipun beasiswa pemerintah menanggung seluruh biaya UKT dan memberikan bantuan biaya hidup, ia memilih tidak berpangku tangan. Memasuki semester lima, ia mulai bekerja sambilan demi menutup biaya praktikum dan kebutuhan kuliah yang tersisa. Bekerja keras di tengah padatnya jam kuliah bukan hal yang mudah bagi seorang mahasiswa KIP Kuliah Undip.

“Saya nyambi kerja sambil tetap harus mempertahankan IPK agar beasiswa KIP-K tetap berjalan. Hasil bekerja saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan kuliah yang belum sepenuhnya bisa dipenuhi, termasuk biaya praktikum. Dari hasil itu saya bisa membeli laptop dan sepeda motor.”

Kemampuannya membagi waktu berbuah manis. Ia berhasil membeli fasilitas belajar secara mandiri dari keringatnya sendiri. Namun, perjalanan tersebut sempat membawanya ke titik terendah. Tekanan akademis dan beban finansial beberapa kali menggoyahkan pertahanan mentalnya.

“Saya berulang kali hampir menyerah terhadap kuliah saya. Rasanya ingin menyudahi semuanya. Namun saya punya satu tekad, saya ingin menjadi orang yang sukses, menjadi orang yang berguna, dan menjadi pemimpin yang baik. Dari semua kesulitan itu, akhirnya saya menemukan jalan dan kemudahan.” ucapnya lirih.

Dari Kerja Sambilan Menuju Pintu Perbankan

Rasa lelah itu akhirnya terbayar tuntas. Sebelum resmi mengenakan toga wisuda, berbagai perusahaan nasional berebut melirik potensinya. Pilihan akhirnya jatuh pada program rekrutmen perbankan swasta terkemuka. Program ini tidak hanya menawarkan pengalaman berharga di industri perbankan papan atas, tetapi juga kesempatan karier yang menjanjikan untuk mulai menopang perekonomian keluarganya.

Tepat tanggal 1 Agustus 2026, ia resmi memulai hari pertamanya berkarir. Pencapaian ini hadir hanya selang dua hari setelah ia mengikuti prosesi wisuda Undip ke-183. Kisah inspiratif anak Boyolali ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk menembus batas.

“Saya ingin menjadi anak yang benar-benar mengangkat derajat orang tua saya. Saya ingin mengubah kehidupan mereka, menjadi anak yang berbakti, yang dibanggakan, dan membuat mereka merasakan hasil dari semua perjuangan saya.”

Harapan besar itu juga ia tumpahkan untuk sang adik, Mirza, yang kini masih menempuh pendidikan di bangku SMK. Ia bertekad menjadi benteng finansial agar adiknya bisa mengejar impian tanpa membentur dinding keterbatasan biaya.

“Aku ingin adikku nanti bisa menentukan kariernya tanpa rasa takut, tanpa rasa minder karena masalah finansial. Aku ingin dia berhasil menggapai cita-citanya.”

Bagi sesama pejuang pendidikan yang sedang meniti jalan terjal, pesan Alza menggema sederhana namun mendalam.

“Terus jalani apa yang ada, karena semua pasti ada jalannya. Jangan takut ataupun ragu. Setiap orang memiliki perjuangan yang berbeda, dan setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya.” ucapnya.

Lebih dari Sekadar Mengubah Nasib

Perjalanan hidup Smile Alza Fauzi menjadi potret nyata bahwa akses pendidikan mampu mengubah konstelasi masa depan sebuah keluarga. Ketika keistimewaan sebagai mahasiswa KIP Kuliah Undip bersinergi dengan etos kerja tanpa henti, lahirlah generasi tangguh penembus batas.

Kisah inspiratif anak Boyolali ini tak sekadar tentang euforia menembus Magang Bakti BCA 2026 semata, melainkan tentang janji suci seorang anak untuk menaikkan derajat orang tua dan melindungi masa depan adiknya. Semangat pantang menyerah ini menjadi catatan penting bagi pembangunan sumber daya manusia unggul di Jawa Tengah.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.