Lewat Dinas Pendidikan, Jateng Bentuk Sistem Pencegahan LGBT Sejak Dini

9 Juli 2026, 10:02 WIB • 3 menit baca
Foto ilustrasi: Sesi konseling tatap muka di sebuah sekolah di Jawa Tengah. Gambar ini mengilustrasikan pendekatan preventif dan edukatif dalam upaya pencegahan LGBT sejak dini. Siswa perempuan SMA Indonesia sedang berbicara aktif kepada guru konseling bimbingan sekolah (kiri). Mereka duduk di ruang konseling yang terang dengan cahaya alami, dengan Bendera Indonesia (Merah Putih) di latar belakang. Siswa mengenakan seragam putih abu-abu, guru mengenakan seragam batik.
Sesi konseling siswa di ruang bimbingan sekolah yang preventif dan edukatif di Jawa Tengah.

SEMARANG, Jatengdata.com – Lingkungan sekolah dan keluarga kini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pendekatan ini diambil sebagai upaya pencegahan LGBT sejak dini di kalangan generasi muda.

Upaya tersebut bukanlah tanpa alasan. Kebijakan ini lahir sebagai tindak lanjut langsung atas Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 yang mengatur tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara.

Untuk memastikan langkah ini berjalan efektif, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi telah menyiagakan sejumlah dinas terkait guna meracik materi edukasi sekaligus memperluas akses layanan konsultasi publik secara gratis.

Sinkronisasi Kebijakan Pusat dan Daerah

Merespons regulasi pusat yang menempatkan isu ini sebagai ancaman nonmiliter, Pemprov Jateng tak mau membuang waktu. Gubernur Ahmad Luthfi langsung menginstruksikan jajarannya untuk memprioritaskan edukasi dengan pendekatan yang ramah anak dan sesuai dengan usia perkembangannya.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesehatan berkolaborasi erat menjalankan strategi preventif ini. Mereka bertugas menyusun kurikulum pencegahan yang komprehensif, namun tetap selaras dengan arah kebijakan pertahanan nasional.

“Dinas kita perintahkan untuk betul-betul melakukan kegiatan-kegiatan pencegahan. Jadi pencegahan itu harus sejak dari dini, mungkin dari sekolah,” ungkap Ahmad Luthfi di Semarang, Rabu (8/7/2026).

Bagi Luthfi, sekolah memegang peranan yang sangat krusial. Bukan sekadar tempat menimba ilmu, sekolah adalah gerbang utama pembentukan karakter sekaligus benteng pertahanan sosial bagi anak. Atas dasar itulah, Dinas Pendidikan Jateng tengah merancang program khusus agar para remaja mendapat pemahaman utuh. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas kesehatan mental mereka di lingkungan belajar.

Optimalisasi Layanan Konseling LOGIS

Jika edukasi di ruang kelas menjadi langkah pencegahan awal, Pemprov Jateng juga menyiapkan jaring pengaman dari sisi psikologis. Pemerintah daerah turut mewujudkan tindak lanjut Perpres ini dengan menyediakan fasilitas pendampingan yang inklusif dan mudah diakses oleh publik.

Saat ini, pemerintah tengah mengoptimalkan program Layanan Online Psikolog Gratis (LOGIS). Melalui platform ini, warga bisa berkonsultasi tanpa membayar sepeser pun. Tujuannya sangat jelas: memberikan ruang aman bagi masyarakat untuk menangani berbagai persoalan perilaku berisiko sebelum membesar dan memengaruhi ketahanan sosial.

“Dinas kita punya terobosan kreatif yaitu Logis. Ini kita gunakan di tiga kabupaten/kota, bisa konsultasi lewat online, termasuk perilaku menyimpang LGBT juga bisa kita gunakan di sana,” tambah Luthfi.

Ke depannya, Dinas Kesehatan akan terus merevitalisasi fasilitas serupa agar daya jangkaunya makin luas. Melalui langkah strategis ini, pemerintah memastikan masyarakat tak lagi bingung mencari tempat bercerita dan menemukan solusi langsung dari ahlinya. Dengan demikian, pemerintah daerah bisa meredam potensi masalah sosial di akar rumput sedini mungkin.

Pendekatan Humanis Tanpa Pidana Buta

Meski regulasi pusat menyoroti isu ini dengan kacamata pertahanan negara, Pemprov Jateng memastikan penanganannya di lapangan tetap mengedepankan sisi kemanusiaan. Sang Gubernur dengan tegas menjamin bahwa persoalan ini tidak lantas berujung pada aksi pemidanaan yang serampangan. Menurutnya, aparat hanya akan menjatuhkan sanksi hukum jika ada individu yang secara sah melanggar hukum positif.

“Kalau ancaman belum ya, artinya selama itu tidak melakukan pidana, bukan ancaman. Itu penyimpangan,” tegas Luthfi saat menjelaskan batasan penindakan bagi aparat.

Sinkronisasi antara regulasi Perpres dan eksekusi program daerah ini harus berjalan beriringan dan saling menguatkan. Pemprov Jateng berharap upaya ini menciptakan lingkungan yang benar-benar aman, sehat, dan suportif bagi tumbuh kembang anak-anak. Lewat kolaborasi erat antara keluarga, sekolah, dan pemerintah, Luthfi meyakini sistem pencegahan LGBT sejak dini ini sangat efektif menjaga ketahanan nasional, sekaligus memastikan penanganan yang memanusiakan warga di tengah masyarakat. warga di tengah masyarakat.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.