Sejarah Maritim Semarang, Bukan Sekadar Kota Singgah

7 Juli 2026, 16:23 WIB • 3 menit baca
Ilustrasi pelabuhan laut historis Semarang yang kosmopolitan di masa kejayaan, menampilkan berbagai kapal layar Tiongkok dan Barat berlabuh di dermaga kayu yang sibuk, dikelilingi oleh bangunan kota dan pegunungan saat matahari terbenam.
Kilas Balik Visual: Gambaran Ilustrasi kesibukan pelabuhan kosmopolitan Semarang ratusan tahun lalu, sebuah ruang perjumpaan berbagai bangsa yang akan diabadikan dalam Semarang City Archive dan Museum Bahari.m(AI Generated)

MEDAN, Jatengdata.com – Bayangkan sebuah bandar sibuk di pesisir purba sekitar Pelabuhan Tanjung Emas. Para pedagang Gujarat, saudagar Tiongkok, dan pelaut Eropa bertukar sapa ramah di sana. Terik matahari utara Jawa menjadi saksi bisu keakraban mereka. Lebih dari sepuluh abad silam, denyut nadi kehidupan antar-bangsa ini sudah berdetak sangat kencang. Mereka merajut sejarah maritim semarang dengan gemilang.

Momen ini terjadi jauh sebelum jejak kolonial Belanda di Semarang mendominasi literatur sejarah kita. Sayangnya, modernisasi perlahan menggerus memori kolektif akan kemegahan ini hingga mulai samar. Padahal, potensinya teramat besar sebagai fondasi utama wisata budaya Semarang masa depan.

Di Balik Sejarah Maritim Semarang

Jauh sebelum kapal uap Eropa membuang sauh, angin laut pesisir kita telah berdenyut kencang. Guru Besar Sejarah Maritim Universitas Diponegoro, Singgih Tri Sulistiyono, memvalidasi hal tersebut. Kota ini menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa selama lebih dari 1.000 tahun. Fakta ini membuktikan kebesaran sejarah maritim semarang jauh sebelum datangnya kongsi dagang asing.

Menyadari ancaman hilangnya ingatan kolektif, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bergerak cepat. Pada Rabu (1/7/2026), Pemkot Semarang resmi mencetuskan sebuah langkah strategis. Tepatnya dalam seminar “Menyelamatkan Heritage Kota Maritim” di Medan, Sumatera Utara. Acara bergengsi ini merupakan bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Apeksi 2026.

Di forum tersebut, Pemkot Semarang memaparkan rencana besar pembangunan Semarang City Archive dan Museum Bahari. Pemkot Semarang menyiapkan fasilitas pelestari ingatan ini sebagai magnet baru bagi wisata budaya Semarang.

Menyelamatkan Jejak Kolonial Belanda di Semarang

Di hadapan sekitar 100 akademisi dan perwakilan pemerintah daerah, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menegaskan visinya. Ia menolak keras gagasan sempit tentang kemajuan kota. Kita tidak bisa sekadar mengukur kemajuan dari tingginya gedung atau mulusnya aspal.

“Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi fondasi untuk membangun masa depan,” tegas Agustina, sebagaimana dikutip dari laman Pemkot Semarang. Pemimpin daerah ini menyadari betul pentingnya menjaga identitas dan memori kolektif di tengah gempuran zaman.

Dosen Sosiologi dan Sejarah Maritim Undip, Yety Rochwulaningsih, turut mengingatkan hal krusial. Ancaman terhadap warisan sejarah kini tidak hanya sebatas kerusakan fisik bangunan. Ancaman itu beralih rupa menjadi disinformasi dan hoaks sejarah di era digital.

Oleh karena itu, menjaga memori masa pra-kolonial dan jejak kolonial Belanda di Semarang menjadi sangat penting. Digitalisasi arsip dan penguatan literasi sejarah menjadi langkah strategis yang mutlak dilakukan.

Estafet Peradaban Menuju Destinasi Wisata Budaya Semarang

Upaya penyelamatan sejarah maritim ini jelas membutuhkan kerja sama lintas batas. Dosen Leiden University, Suryadi, menyoroti pentingnya kerja sama internasional. Terutama dalam repatriasi (pemulangan) arsip sejarah Nusantara yang masih tersimpan di Belanda. Arsip-arsip tersebut memegang kunci untuk merekonstruksi riwayat panjang di sekitar Pelabuhan Tanjung Emas.

Pendapat senada disampaikan oleh Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Medan (Unimed), Ichwan Azhari. Ia menilai penyelamatan situs-situs maritim adalah agenda nasional demi menjaga bukti peradaban bahari Indonesia.

Angin segar pemulangan memori sejarah ini akhirnya terasa nyata hari itu di Medan. Sebagai wujud nyata kolaborasi, Pemkot Semarang resmi menerima serah terima arsip berharga. Mereka menerima repatriasi Surat Kabar Semarang periode 1858–1942 dari Rumah Sejarah Medan. Selain itu, ada pula penyerahan artefak peradaban maritim koleksi Dr. Jimmy Lassang Manahara Siahaan, MCP.

Upaya pelestarian sejarah maritim semarang bukanlah pelarian melankolis ke masa lalu. Ini adalah sebuah navigasi matang menuju masa depan kota yang berkelanjutan. Kita tidak lagi hanya mengenang jejak kolonial Belanda di Semarang atau riuhnya kapal di Pelabuhan Tanjung Emas. Kita sedang mewariskan sebuah pengingat abadi bahwa kota pesisir ini akan selalu menjadi rumah kosmopolitan bagi peradaban dunia.

Editor: Agung S Bakti
Sumber: laman Kota Semarang
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.