Walau Asrama Megah dan Gratis, Pendaftaran Sekolah Rakyat Sukoharjo Tingkat SD Masih Sepi
SUKOHARJO, Jatengdata.com – Megahnya fasilitas asrama senilai miliaran rupiah tidak serta merta membuat kuota pendaftaran Sekolah Rakyat tingkat SD pada Sekolah Rakyat Permanen di Sukoharjo terisi penuh. Menjelang dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027 pada 14 Juli mendatang, tercatat baru 37 anak yang mendaftar dari total kapasitas 90 siswa.
Menjelang tahun ajaran baru, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mematangkan kesiapan operasional program pendidikan gratis ini. Proses pendaftaran Sekolah Rakyat di Sukoharjo menunjukkan progres paling cepat dibandingkan rintisan daerah lain. Pemerintah provinsi menargetkan kegiatan belajar mengajar sudah berjalan penuh pada pertengahan bulan ini.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengakui ada tantangan khusus terkait pemenuhan kuota Sekolah Rakyat ini Kondisi sepi peminat di tingkat SD ini terjadi karena orang tua masih merasa berat berpisah dengan anak mereka untuk tinggal di asrama.
“Itu yang masih menjadi PR kita. Mungkin kita harus mencari metode, bagaimana supaya anak-anak kita itu bisa hadir di sini, nyaman, dan orang tua juga tidak kepikiran,” jelas Sumarno.
Menyikapi batas waktu yang semakin dekat, ia menegaskan proses penerimaan peserta didik baru harus segera rampung. Pemprov Jateng memastikan operasional sekolah ini resmi berjalan pada 14 Juli mendatang.
“Posisi memang tahun ajaran sudah harus mulai, sehingga kita harus segera berproses untuk menerima siswanya,” ujar Sumarno.
Fasilitas Premium untuk Siswa Desil 1
Selain mencari solusi pendekatan psikologis bagi orang tua, pemerintah juga menjamin kesiapan fisik bangunan. Kompleks asrama Sekolah Rakyat ini berdiri megah di atas lahan seluas 52.205 meter persegi. Kawasan pendidikan ini menawarkan berbagai fasilitas penunjang yang sangat lengkap.
Pemerintah menyediakan ruang kelas modern, lapangan basket, mini soccer, hingga rumah susun untuk guru. Tersedia juga fasilitas guest house bagi orang tua yang menjenguk anak mereka di akhir pekan. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menilai kemegahan fasilitas ini akan mendongkrak rasa percaya diri anak-anak dari kelompok rentan.
“Yang paling penting adalah bagaimana agar maintenance, perawatannya. Perawatannya harus betul-betul disinergikan atau dikolaborasikan antara Kemensos sama pemerintah daerah,” ujar Cak Imin, sapaan akrabnya.
Sistem Pendidikan Fleksibel
Demi memberikan kemudahan akses, pemerintah juga menerapkan sistem multi-entry dan multi-exit. Kurikulum fleksibel hasil kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini mengakomodasi berbagai latar belakang kemampuan siswa. Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, menganggap terobosan ini sangat mempermudah kelengkapan syarat Sekolah Rakyat.
“Jadi nanti kalau ada anak SD yang menyusul mau masuk ke sekolah tidak ada masalah,” ujar Agus.
Langkah strategis lainnya melibatkan pemberdayaan tenaga pendidik lokal. Pemerintah memprioritaskan guru-guru asal Sukoharjo untuk mengajar di lokasi tersebut. Pendekatan kedaerahan ini bertujuan menciptakan ikatan emosional yang lebih baik antara guru, siswa, dan orang tua.
Secara keseluruhan, kawasan sekolah permanen ini mampu menampung 1.080 siswa. Kapasitas besar tersebut terbagi dalam 30 rombongan belajar (rombel). Rinciannya mencakup 18 rombel SD (540 siswa), 9 rombel SMP (270 siswa), dan 9 rombel SMA (270) siswa.
Ke depan, Pemprov Jateng sedang mengkaji wacana penggabungan fasilitas ini untuk melayani seluruh kawasan Solo Raya.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.