Pelabuhan Tanjung Emas Overload, Jateng Siapkan Dry Port di Kendal

1 Juli 2026, 18:41 WIB • 3 menit baca
Pintu gerbang utama Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang menjadi pusat arus logistik ekspor industri di Jawa Tengah.
Pemandangan gerbang masuk Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Terbatasnya kapasitas pelabuhan ini membuat 70 persen logistik asal Jawa Tengah terpaksa dialihkan ke provinsi lain, memicu rencana revitalisasi mendesak oleh pemerintah provinsi.

SEMARANG, Jatengdata.com – Sebanyak 70 persen logistik asal Jawa Tengah mengalir ke Jakarta dan Jawa Timur akibat keterbatasan kapasitas pelabuhan. Merespons kebocoran ini, Gubernur Ahmad Luthfi mendesak revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas dan menyiapkan dry port alternatif saat menerima Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI di Semarang, Rabu (1/7/2026).

Saat ini, kapasitas pelabuhan di Jawa Tengah belum mampu menampung tingginya arus distribusi barang industri. Oleh karena itu, pemerintah provinsi menjadikan penguatan infrastruktur Jateng sebagai prioritas utama. Langkah strategis ini bertujuan agar arus investasi dan perdagangan kawasan semakin kompetitif di pasar global.

Berdasarkan data, kebutuhan logistik kontainer nasional mencapai sekitar 10 juta per tahun. Dari jumlah tersebut, Jawa Tengah menyumbang sekitar 7 juta kontainer. Namun, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang baru mampu melayani sekitar 30 persen dari total produksi daerah tersebut.

Akibatnya, sebagian besar pengusaha memilih bergantung pada fasilitas pelabuhan di Jawa Timur maupun Jakarta. Kondisi ini tentu memperpanjang rantai pasok industri. Selain itu, biaya distribusi barang ke luar negeri menjadi jauh lebih mahal.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini mengambil langkah tegas untuk mengatasi masalah tersebut. Mereka mendorong perbaikan sistem logistik secara menyeluruh demi memperkuat daya saing ekonomi. Langkah nyata ini berfokus untuk menekan biaya ekspor seminimal mungkin.

“Kami minta didorong revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas. Kalau perlu dibuka pelabuhan di Kendal, Batang, Rembang, maupun Cilacap. Kalau itu belum memungkinkan, kami siapkan dry port di Kendal dan Batang,” ujar Ahmad Luthfi.

Siapkan Infrastruktur Pengganti

Sebagai solusi sementara, Pemprov Jateng tengah mengebut persiapan dry port Kendal dan Batang. Fasilitas ini akan mempermudah penumpukan barang sebelum pengiriman jalur laut. Pemprov Jateng meyakini langkah strategis ini mampu memperlancar urusan logistik Jawa Tengah dalam waktu dekat.

Perbaikan tata kelola logistik ini sejalan dengan minat investor asing yang terus meningkat tajam. Bahkan, sejumlah pemodal global berencana memindahkan industri padat karya mereka dari Vietnam. Jawa Tengah kini menjadi salah satu target utama relokasi modal tersebut.

“Padat karya nanti akan dipusatkan di Jawa Tengah untuk bersaing dengan Vietnam. Di Vietnam sudah mulai penuh. Ada investor yang akan menarik beberapa industri padat karya dari Vietnam ke Jawa Tengah,” kata Luthfi.

Sementara itu, BKSAP DPR RI siap memberikan dukungan diplomasi melalui jejaring 102 negara mitra. Wakil Ketua BKSAP DPR RI, Muhammad Husein Fadlulloh, menilai kesiapan pelabuhan sangat krusial. Terutama untuk memaksimalkan peluang pasar ekspor ke Uni Eropa yang akan bebas tarif.

“Ini menjadi potensi baru bagi Jawa Tengah untuk membuka pasar ke Eropa. Banyak produk Indonesia nantinya sudah tidak lagi terkendala tarif ketika masuk ke pasar Uni Eropa,” ujar Husein.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.