Tak Cuma Demo! Gubernur Tantang HMI Semarang Lakukan Hal Krusial Ini

1 Juli 2026, 12:16 WIB • 2 menit baca
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menerima cenderamata dan berjabat tangan dengan pengurus dalam acara Training Raya Akbar HMI Semarang.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi (kiri), menerima cenderamata dan berjabat tangan dengan perwakilan pengurus saat pembukaan Training Raya Akbar HMI Cabang Semarang di Balai Diklat Keagamaan, Kota Semarang, Selasa (30/6/2026).

SEMARANG, Jatengdata.com – Orasi dan unjuk rasa di jalanan dinilai belum cukup menjawab ancaman krisis saat ini. Menyoroti tren kritik mahasiswa, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Jateng secara terbuka menantang barisan anak muda, khususnya HMI Semarang, untuk menyumbangkan ide konstruktif demi menyelamatkan ekonomi daerah dari tekanan global.

Tantangan tersebut gubernur suarakan saat membuka Training Raya Akbar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang, di Balai Diklat Keagamaan, Kota Semarang, Selasa (30/6/2026).

Ia memandang kaum intelektual muda menyimpan cadangan energi luar biasa. Potensi raksasa inilah yang sangat dibutuhkan pemerintah guna memecahkan berbagai masalah zaman yang kian rumit.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sangat mengapresiasi kebebasan berpendapat. Luthfi menjamin undang-undang melindungi penuh hak berekspresi publik di muka umum. Namun, ia mengingatkan agar aturan demo mahasiswa serta penyampaian aspirasi wajib mematuhi koridor hukum dan menjaga etika.

“Mahasiswa adalah agen perubahan. Mempunyai energi lebih. Jadi energi lebih ini harus disalurkan dengan banyak menyampaikan ide-ide konstruktif,” ujar Luthfi mempertegas tantangannya.

Ancaman Krisis Global Mengintai

Tuntutan terhadap HMI Semarang dan elemen pemuda ini muncul bukan tanpa alasan. Indonesia saat ini tengah menghadapi hantaman dinamika geopolitik. Ketegangan panjang di Timur Tengah hingga konflik Rusia-Ukraina terbukti memukul langsung stabilitas ekonomi dan fiskal daerah.

Tekanan ini semakin berlapis dengan hadirnya disrupsi kecerdasan buatan (AI). Rentetan krisis tersebut memaksa gubernur beserta jajarannya berpikir ekstra kreatif. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pun tidak akan lagi mampu menutup seluruh target pembangunan fisik maupun kualitas manusia, terang Luthfi.

Ia meyakini kolaborasi lintas elemen menjadi satu-satunya jurus penyelamat paling logis saat ini. “Kita gandeng semua, termasuk mahasiswa. Kita harus ciptakan Jawa Tengah yang adem ayem,” katanya.

Merespons tantangan langsung dari orang nomor satu di Jateng itu, Ketua Umum HMI Semarang M Nabil Muallif menyatakan kesiapannya. Ia menegaskan agenda pelatihan organisasinya memang dirancang khusus mencetak kader unggul anti-krisis. Mahasiswa berkomitmen penuh berkolaborasi demi memenangi persaingan global, sekaligus membuktikan bahwa kritik mahasiswa bisa berujung pada solusi nyata, tandas Nabil.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.