376 Ribu Teror Kekerasan Terhadap Perempuan, Siapa Dalangnya?

15 Juni 2026, 11:07 WIB • 3 menit baca
kasus-kekerasan-terhadap-perempuan-riset-undip
Potret penantian keadilan di tengah bayang-bayang trauma. Riset terbaru FISIP Undip bersama Indoriset Strategis di tujuh provinsi mengungkap bahwa pelaku kekerasan terhadap perempuan mayoritas berasal dari lingkaran terdekat korban. (Foto Ilustrasi/Jatengdata)

SEMARANG, Jatengdata.com – Statistik kelam mencatat peningkatan tajam kasus kekerasan terhadap perempuan dalam setahun terakhir, memicu gerakan perlawanan berskala nasional. Menghadapi rekor kelam ini, gabungan akademisi dan peneliti independen langsung melakukan investigasi mendalam untuk membongkar kegagalan sistem perlindungan di berbagai daerah.

Para ahli menemukan ketidaksetaraan gender yang mendarah daging menjadi biang kerok meluasnya praktik kekerasan ini. Menyikapi hal tersebut, Dosen FISIP Universitas Diponegoro (Undip), Dr. Laila Alfirdaus, memimpin langsung tim peneliti gabungan untuk memotret realita di lapangan.

Penelitian komprehensif ini menggandeng akademisi FISIPOL UGM, aktivis masyarakat sipil, hingga lembaga kajian Indoriset Strategis. Mereka menyasar tujuh provinsi rawan yang meliputi Bali, NTB, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, hingga Maluku Utara.

Fakta Mengejutkan dari Mulut Korban

Tim peneliti tidak hanya duduk di belakang meja. Mereka turun langsung mengumpulkan data survei dari 694 warga dan menggali kisah pilu dari 65 penyintas.

Fakta paling menyayat hati justru datang dari kesaksian mengenai profil pelaku utama di lapangan. Pelaku kejahatan ini rupanya sering bersembunyi di balik lingkaran kepercayaan korban.

“Pelaku yang paling tinggi kekerasan berbasis gender di NTT pada umumnya orang yang paling dekat, keluarga dekat. Jadi di situ ada suami, ada saudara laki-laki. Kalau relasi pacaran ya biasanya pacar,” ungkap salah satu informan dari Yayasan PAPHA, NTT, sebagaimana dilansir dari laman Undip.

Visualisasi data riset komprehensif di tujuh provinsi yang mengungkap realita kelam: pelaku utama kasus kekerasan terhadap perempuan didominasi oleh sosok di lingkaran terdekat korban. (Grafis: Jatengdata.com)

Intervensi Strategis Lintas Lembaga

Langkah investigatif ini merupakan bagian integral dari Voice 4 Equality. Program kampanye yang mendapat dukungan penuh Uni Eropa ini bertujuan memperkuat kapasitas organisasi masyarakat sipil dalam penanganan kasus hingga tahun 2029 mendatang.

Keterlibatan periset independen mempertegas urgensi dari evaluasi kebijakan publik yang selama ini berjalan lambat. Direktur Indoriset Strategis, Widi Nugroho, M.A.P., menegaskan bahwa pemetaan akar masalah mutlak membutuhkan bukti empiris yang kuat.

“Kolaborasi lintas sektor ini sangat krusial untuk membongkar kebuntuan sistemik. Kami memastikan setiap data lapangan yang terkumpul bisa langsung bertransformasi menjadi rekomendasi kebijakan strategis yang tepat sasaran dan efektif melindungi korban,” ujar Widi kepada Jatengdata.com, Senin (15/6/2026).

Sinergi Mewujudkan Kesetaraan

Skala penelitian ini juga meluas hingga ke level nasional dengan melibatkan serangkaian wawancara tingkat tinggi. Tim mewawancarai langsung pemangku kebijakan mulai dari BAPPENAS, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Unit PPA Polri, hingga Kejaksaan Agung.

Langkah proaktif ini menguji efektivitas instrumen hukum yang selama ini aparat gunakan. Kontribusi akademisi dan peneliti independen ini diharapkan tidak hanya menghasilkan tumpukan dokumen akademis belaka.

Riset investigatif ini menjadi wujud nyata komitmen Undip dalam menghasilkan penelitian berdampak. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat sipil ini mempercepat langkah pencapaian target SDGs, khususnya pada aspek kesetaraan gender di Indonesia.

Editor: Agung S Bakti
Sumber: laman Undip
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.