Jurus Jateng Atasi Krisis Lapangan Kerja Gen Z dari Bangku Sekolah

5 Juni 2026, 14:24 WIB • 3 menit baca
Gubernur Jateng dan menteri memberikan keterangan pers di depan backdrop acara Launching Insersi Pendidikan Perkoperasian Provinsi Jawa Tengah sebagai upaya menciptakan lapangan kerja Gen Z dari sekolah.
Suasana konferensi pers usai peluncuran Program Insersi Pendidikan Perkoperasian Provinsi Jawa Tengah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (5/6/2026). Sinergi antara Pemprov Jateng, Kemenkop, Kemendikdasmen, dan Kemenag ini mencetak sejarah pendidikan nasional dengan menyisipkan materi perkoperasian bagi 6,38 juta siswa guna membangun kemandirian ekonomi dan mencetak lapangan kerja Gen Z di masa depan. (Foto: Humas Pemprov)

SEMARANG, Jatengdata.com – Langkah strategis Pemerintah Provinsi Jawa Tengah perlahan menjawab ancaman krisis lapangan kerja Gen Z yang selama ini membayangi para lulusan sekolah. Pemerintah provinsi secara resmi merombak cara pandang jutaan siswa terhadap masa depan karir mereka dengan menjadikan nilai ekonomi kebersamaan sebagai senjata utama.

Senjata rahasia itu bernama Program Insersi Pendidikan Perkoperasian. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi meluncurkan langkah krusial ini pada Jumat (5/6/2026) di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang. Melalui peluncuran tersebut, Jateng mencetak sejarah sebagai provinsi pertama di Indonesia yang menerapkan pendidikan koperasi secara sistematis kepada 6,38 juta siswa dari jenjang SD hingga SLB.

Tokoh-tokoh kunci tingkat nasional, seperti Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin, turut menghadiri langsung acara bersejarah tersebut.

Mengubah Mental Pencari Kerja

Menteri Koperasi Ferry Juliantono menilai terobosan ini sangat krusial untuk mencetak ekosistem lapangan kerja Gen Z secara mandiri di masa depan. Ia menegaskan, masyarakat tidak boleh lagi menganggap badan usaha ini sekadar tempat meminjam uang warisan masa lalu. Lembaga ini harus menjelma menjadi koperasi milenial yang modern dan relevan dengan zaman, sejalan dengan visi Koperasi Merah Putih.

“Koperasi bisa menjadi alternatif penyediaan lapangan pekerjaan bagi milenial, Gen Z, generasi muda, hingga generasi Alpha yang saat ini masih berada di bangku sekolah,” ujar Ferry Juliantono.

Sistem Insersi Tanpa Beban Tambahan

Bagaimana pemerintah daerah menjalankan program masif ini? Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menjamin inovasi tersebut sangat ramah bagi mental siswa. Pemerintah daerah telah menyiapkan modul khusus dan memberikan pembekalan kepada kepala sekolah hingga guru untuk menerapkan metode sisipan atau insersi.

Penerapan sistem ini memastikan jadwal belajar tetap berjalan normal tanpa menuntut tambahan beban tugas atau jam kepulangan bagi siswa.

Infografis JatengData tentang jurus Jawa Tengah mengatasi krisis lapangan kerja Gen Z melalui pendidikan koperasi sistematis bagi 6,38 juta siswa tanpa menambah beban jam pelajaran.
Infografis ringkasan Program Insersi Pendidikan Perkoperasian di Jawa Tengah. Kebijakan strategis ini menyasar 6,38 juta siswa dari tingkat SD hingga SLB guna merombak mental lulusan dari ‘pencari kerja’ menjadi ‘pencipta lapangan kerja Gen Z’ melalui metode sisipan mata pelajaran. (Grafis: jatengdata.com)

“Program ini tidak mengubah dan tidak menambah mata pelajaran di sekolah. Materi koperasi disisipkan atau diinsersikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada,” urai Ahmad Luthfi.

Bekal Karakter Hadapi Dunia Nyata

Penanaman nilai kepemimpinan ini rupanya melampaui urusan ekonomi semata. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Toni Toharudin menyoroti pentingnya pembentukan karakter peserta didik agar mereka lebih siap menghadapi kerasnya dunia kerja nyata.

“Pendidikan perkoperasian adalah proses menanamkan nilai kebersamaan, tanggung jawab, kejujuran, kepemimpinan, kemandirian, serta semangat membangun kesejahteraan bersama,” ucap Toni.

Dukungan penuh turut mengalir dari sektor keagamaan. Menteri Agama Nasaruddin Umar melihat konsep ini sangat seirama dengan nilai kepedulian sosial lintas iman. Kemenag bahkan bersiap mereplikasi gagasan cerdas Gubernur Jateng ini.

Mereka berencana membuka peluang pengembangan badan usaha serupa melintasi jaringan masjid, pondok pesantren, hingga rumah ibadah lainnya. Investasi jangka panjang ini tidak hanya menargetkan kelahiran generasi mandiri, tetapi juga menjadi solusi nyata bagi anak muda dalam menciptakan lapangan kerja Gen Z yang tangguh.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.