Cara Cerdas Pangkas Uang Belanja 20 Persen Lewat Tren Urban Farming Jawa Tengah

31 Mei 2026, 06:37 WIB • 2 menit baca
Instalasi sistem akuaponik yang menggabungkan kolam ikan nila dengan tanaman sayur organik dalam pipa peralon di Kampung Akuaponik Kandri, desa wisata Semarang.
SIRKULASI KEHIDUPAN: Salah satu instalasi akuaponik mandiri milik warga di RW 4 Perum Kandri Asri, Gunungpati, Kota Semarang, Ahad (3/5/2026). Sistem sirkulasi air ini memadukan budidaya ikan dan sayur organik secara terpadu, yang kini menjadi tumpuan utama ketahanan pangan keluarga sekaligus napas kebangkitan desa wisata Semarang pasca-pandemi. (Foto: Jatengdata.com)

SEMARANG, Jatengdata.com – Lonjakan harga sayuran di pasar tak lagi membuat pusing warga perkotaan. Melalui strategi cerdas memanfaatkan sisa pekarangan rumah, tren urban farming Jawa Tengah kini terbukti ampuh memangkas biaya makan bulanan keluarga hingga 20 persen. Lantas, komoditas apa saja yang paling cepat panen dan menguntungkan?

Memasuki pertengahan 2026, tren agribisnis perkotaan terus melonjak pesat. Masyarakat di berbagai kawasan padat penduduk mulai mengadaptasi praktik ini secara luas.

Sementara itu, praktik urban farming Jawa Tengah bukan lagi sekadar hobi akhir pekan. Warga kini menjadikannya strategi taktis untuk menekan pengeluaran rumah tangga. Oleh karena itu, langkah ini terbukti sangat efektif untuk menyiasati fluktuasi harga bahan pokok di pasaran.

Menyiasati Guncangan Harga Sayuran

Lebih lanjut, Badan Pusat Statistik (BPS) secara historis mencatat sebuah fakta penting. Komoditas hortikultura seperti cabai merah, kangkung, dan bayam sering memicu inflasi bulanan. Akibatnya, situasi ini membuat warga kota sangat rentan terhadap guncangan harga pangan.

Merespons fenomena tersebut, peneliti urban farming Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Dian Triastari Armanda, memberikan tanggapan. Ia menegaskan bahwa pemanfaatan lahan sempit di perumahan merupakan solusi paling rasional.

“Masyarakat kota kini makin cerdas. Mereka tidak hanya menanam tanaman hias, tetapi mulai beralih pada komoditas sayuran bernilai gizi tinggi,” jelas Dian kepada Jatengdata.com, Ahad (31/5/2026).

Sebagai contoh, Dian menyebut komoditas dengan masa panen sangat singkat kini menjadi favorit. Beberapa varian primadona ini meliputi microgreens, kangkung, hingga selada merah. Selain itu, inisiatif panen sayur mandiri dari pekarangan rumah ini mampu memenuhi kebutuhan nutrisi harian secara konsisten.

Membangun Ketahanan Pangan Keluarga

Di sisi lain, konsep agribisnis lahan sempit membawa dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Dian mencontohkan efektivitas model kebun dapur (kitchen garden), vertikultur, dan instalasi hidroponik sederhana.

“Bahkan, penghematan dari hasil panen sendiri bisa warga alihkan untuk kebutuhan pendidikan atau kesehatan. Ekosistem ini menjadi fondasi utama bagi terciptanya ketahanan pangan keluarga di level akar rumput,” tegasnya.

Faktanya, pernyataan Dian sangat sejalan dengan laporan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS. Laporan resmi tersebut mencatat rata-rata pengeluaran rumah tangga perkotaan untuk konsumsi makanan masih menyentuh 49 persen.

Oleh sebab itu, melalui intervensi pertanian perkotaan, warga dapat menekan beban belanja harian secara drastis. Praktiknya, masyarakat bisa menghemat pengeluaran bahan pangan antara 15 hingga 20 persen setiap bulannya.

Pada akhirnya, masifnya penetrasi urban farming Jawa Tengah menjadi indikator kemandirian yang sangat positif. Selanjutnya, keterlibatan aktif pemerintah daerah dalam menyediakan fasilitas bibit dan edukasi sangat warga harapkan. Dukungan nyata ini akan mengubah swasembada sayur mandiri menjadi gaya hidup permanen yang menyejahterakan masyarakat.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.