Keraton Solo Ubah Tradisi Ratusan Tahun Jadi Mesin Cuan UMKM Demak
DEMAK, Jatengdata.com – Pelaku UMKM Demak kini mendapat durian runtuh dari pemanfaatan tradisi peninggalan leluhur. Potensi ledakan ekonomi kerakyatan ini terungkap saat Keraton Surakarta secara langsung mendorong Pemerintah Kabupaten Demak menjadikan ritual sakral berusia ratusan tahun sebagai penggerak roda bisnis warga di Pendopo Notobratan Kadilangu, Ahad (24/5) kemarin.
Transformasi Tradisi Menjadi Cuan
Tradisi Abon-abon kini tidak sekadar berwujud ritual pelestarian sejarah belaka. Perayaan sakral ini terbukti ampuh mendatangkan keuntungan finansial bagi warga lokal. Oleh karena itu, sinergi nyata antara budayawan dan pelaku usaha menjadi sebuah keharusan.
Keraton Surakarta secara proaktif mendorong pemerintah daerah mengambil peluang emas tersebut. Langkah taktis ini bertujuan mengoptimalkan potensi wisata budaya Demak secara menyeluruh. Kolaborasi lintas sektor memegang peran vital dalam mewujudkan target kesejahteraan warga secara merata.
“Kalau berkaitan dengan wisata budaya, tentu saja mesti ada semacam kolaborasi dengan berbagai instansi terkait dan penggerak ekonomi UMKM,” ujar KGPH Adipati Dipokusumo.
Ia menegaskan perayaan sejarah pantang menjadi sekadar rutinitas tahunan yang statis. Tokoh Keraton Solo ini kemudian memperkenalkan konsep komodifikasi budaya kepada masyarakat yang hadir. Konsep cerdas ini bertujuan memberdayakan perekonomian warga melalui pemanfaatan kekayaan warisan leluhur.
Dampak Nyata Komodifikasi Budaya
Pariwisata berbasis sejarah wajib mencetak dampak nyata bagi masyarakat arus bawah. “Dalam budaya ada namanya komodifikasi, yaitu suatu hal budaya yang bisa menggerakkan kegiatan ekonomi,” ujar KGPH Adipati Dipokusumo.

Pemerintah Kabupaten Demak menyambut hangat arahan strategis tersebut. Bupati beserta jajaran birokrasi sengaja hadir untuk mendukung model pelestarian yang berorientasi bisnis ini. Kolaborasi kebudayaan ini sukses membuka banyak peluang usaha baru bagi rakyat menengah ke bawah.
“Wisata budaya itu harus memberikan manfaat dan keuntungan bagi masyarakat,” ujar KGPH Adipati Dipokusumo.
Pada akhirnya, tradisi Abon-abon tidak sekadar merawat jati diri bangsa Nusantara. Ritual kebudayaan ini juga terbukti sukses menyejahterakan warga sekitarnya melalui perputaran uang yang masif.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.