Opini 7 menit baca

Wajah Baru Nasionalisme Timnas Indonesia Usai Juara Piala FIFA ASEAN Cup

Khairu Roojiqien Sobandi, Ph.D

Khairu Roojiqien Sobandi, Ph.D

Dosen Ilmu Politik, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Wajah Baru Nasionalisme Timnas Indonesia Usai Juara Piala FIFA ASEAN Cup
Khairu Roojiqien Sobandi, S.IP., M.Si., M.A., Ph.D., Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Jenderal Soedirman, penulis kolom opini tentang rekonstruksi nasionalisme Timnas Indonesia pasca-juara Piala FIFA ASEAN Cup 2026.

Tim nasional (timnas) sepak bola Indonesia pada tanggal 5 Oktober 2026 telah mencetak sejarah baru dengan menjadi “Raja” baru di Asia Tenggara setelah memenangkan trofi Piala FIFA ASEAN cup 2026 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Kemenangan timnas sepak bola ini telah menarik perhatian global terutama melalui media digital. Beberapa klub di liga-liga besar, pemain sepak bola dunia, dan para podcaster di Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Latin memberikan komentar dan ucapan selamat atas kemenangan ini.

Salah satu sorotan utama dari timnas ini adalah komposisi pemain kesebelasan sepak bola Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir menampilkan para pemain diaspora Indonesia. Tidak heran para pendukung dan sebagian pemain negara-negara pesaing di Asia Tenggara melihat tim ini bukan sebagai representasi Indonesia. Mereka menilai tim ini sebagai kesebelasan dari Eropa yang secara dominan mencetak para pemain timnas sepak bola Indonesia kekinian.

Komposisi ini memantik diskusi menarik untuk mempertanyakan kembali kebangsaan kita. Atau lebih tepatnya pemaknaan rasa kebangsaan (nation-ness) dan nasionalisme Timnas Indonesia. Komposisi timnas garuda telah memicu perdebatan mengenai makna kebangsaan. Apa makna menjadi bagian dari sebuah bangsa?

Dalam dunia sepak bola global, para pemain diaspora, yang kebanyakan lahir di luar Indonesia, telah memutuskan untuk membela tanah leluhurnya. Fenomena ini sudah menjadi hal jamak secara global. Namun hal ini menjadi menarik untuk kawasan Asia Tenggara karena Federasi sepak bola Indonesia, PSSI, sangat aktif merekrut talenta pesepakbola keturunan Indonesia yang lahir dan tumbuh besar di Eropa untuk mengisi timnas secara dominan.

Dalam konteks ini, batasan sosial (social boundaries) seiring perubahan pola migrasi global telah memberikan perubahan besar dalam konsep kebangsaan. Kita tidak lagi mengenal sekat-sekat kaku seperti tempat lahir ataupun batas wilayah negara.

Batas Sosial dan Kosmopolitanisme

Dalam hal ini, konsepsi batasan sosial usulan Karl Deutsch (1966) menjadi relevan untuk melihat nation-ness terkait komposisi timnas dengan materi pemain keturunan atau diaspora. Deutsch berpendapat bahwa kepadatan dan efisiensi komunikasi—bukan faktor geografis, etnisitas, ataupun garis keturunan—menentukan batas-batas sosial dan pembentukan komunitas politik, seperti bangsa atau negara.

Batasan sosial muncul ketika kemampuan anggota komunitas menurun dalam memahami kode, simbol, dan kebiasaan bersama dengan tingkat gesekan yang tinggi. Dengan demikian, kemampuan para anggota kelompok untuk memahami kode, simbol, dan kebiasaan bersama dengan tingkat gesekan minim akan mengintegrasikan suatu komunitas.

Ketika kita mendapati komposisi timnas sepakbola kita secara dominan berisi para pemain diaspora dari benua Eropa, maka dalam konteks ini faktor migrasi internasional turut memengaruhi pemaknaan keindonesiaan kita. Migrasi internasional ini telah membuat banyak orang, termasuk para pemain yang mengusung nasionalisme Timnas Indonesia ini, memiliki lebih dari satu rumah, lebih dari satu bahasa, lebih dari satu ingatan kolektif termasuk emosi kolektifnya, dan seringkali memiliki lebih dari satu cara untuk merasakan menjadi bagian dari sebuah negara.

Dalam konteks ini, konsep batas sosial Deutsch terhubung dengan konsep kosmopolitanisme yang memandang bahwa manusia dapat melampaui batas-batas etnis, budaya, dan negara untuk membentuk komunitas inklusif. Konsep ini meyakini bahwa identitas kolektif dan batas sosial kelompok tidak bersifat mutlak ataupun hanya terikat pada garis geografis semata, melainkan bersifat dinamis, terkonstruksi, dan masyarakat dapat melintasinya melalui komunikasi sosial. Dengan begitu, batas sosial akan melunak ketika kepadatan transaksi dan komplementaritas komunikasi antar-kelompok meningkat.

Momentum kemenangan timnas sepak bola Indonesia saat ini yang memadukan pemain binaan domestik (Liga 1) dan pemain diaspora atau keturunan yang tumbuh dalam sistem sepak bola Eropa menjadi satu studi kasus menarik yang menghubungkan kedua konsep ini.

Menjembatani Sekat Lokal-Diaspora (Transaction Drop-off)

Batas sosial muncul ketika dua kelompok mengalami hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Komposisi timnas Indonesia mempertemukan dua kelompok dengan latar belakang sistem pembinaan yang berbeda. Sekat perbedaan bahasa (seperti Bahasa Indonesia, Inggris, dan Belanda), budaya sepak bola, dan kecepatan pengambilan keputusan di lapangan awalnya memisahkan pemain binaan lokal dan pemain diaspora.

Keberhasilan timnas saat ini bergantung pada seberapa cepat intensitas interaksi pemusatan latihan mengikis jembatan sekat lokal-diaspora ini. Dan tampaknya seiring waktu berjalan berlangsung dengan baik. Terlebih, selain adanya pemusatan latihan terpadu, jaringan komunikasi global seperti pemandu bakat digital, dan jejaring agen transnasional turut menyempitkan sekat lokal-diaspora tersebut secara tajam.

Pertukaran informasi dan interaksi harian tidak hanya ketika para pemain ini bertemu langsung, namun interaksi melalui dunia digital juga telah mengikis sekat primordial tersebut. Hal ini membuktikan pandangan kosmopolitan bahwa keterhubungan transnasional dapat membangun identitas keindonesiaan dan nasionalisme Timnas Indonesia, bukan sekadar kelahiran di tanah air saja.

Membangun Komplementaritas Komunikasi

Integrasi sosial terjadi ketika individu-individu berbagi kode dan simbol yang sama sehingga komunikasi berjalan efisien dan otomatis. Dalam timnas Indonesia, komunikasi tidak hanya berupa kata-kata, melainkan “bahasa taktis” (tactical dialect) seperti bahasa tubuh, scanning ruang, dan kesepahaman visi bermain.

Ketika pemain diaspora berduet dengan pemain lokal di lini belakang, tengah ataupun depan, mereka harus membentuk komplementaritas komunikasi ini. Kemampuan memahami pergerakan tanpa bola satu sama lain tanpa perlu instruksi verbal yang panjang menunjukkan bahwa tim telah meruntuhkan batas sosial di dalamnya.

Pemain diaspora membawa latar belakang kosmopolitan di mana mereka tumbuh di Eropa, terbiasa dengan lingkungan multikultur, dan memiliki mobilitas global. Namun, ketika mereka membela timnas Indonesia, proses komplementaritas komunikasi pun terjadi. Mereka mempelajari Bahasa Indonesia, menghayati lagu Indonesia Raya dan lagu nasional lainnya, dan menyerap budaya lokal.

Sebaliknya, para pemain lokal mengadopsi etos profesionalisme dan standar komunikasi taktis Eropa. Hasilnya adalah bentuk identitas baru yaitu nasionalisme timnas Indonesia yang berakar namun berwawasan kosmopolitan. Identitas ini memiliki karakter yang menegaskan bahwa perbedaan latar belakang tidak lagi menjadi pembatas secara sosial, melainkan aset taktis.

Pemusatan Latihan sebagai Agen Mobilisasi Sosial Transnasional

Proses modernisasi dan lembaga bersama menarik individu dari latar belakang tradisional yang berbeda ke dalam satu jejaring baru yang solid. PSSI dan tim pelatih bertindak sebagai agen mobilisasi sosial bersama ketika mereka memanggil pemain dari latar belakang lingkungan beragam dari klub-klub domestik Indonesia hingga klub-klub profesional Eropa ataupun Amerika Utara. Mereka secara bersama-sama seiring waktu berjalan telah menundukkan para pemain tersebut pada standar profesionalisme, disiplin taktis, gaya hidup, dan rutinitas latihan yang seragam.

Proses ini meleburkan identitas asal masing-masing pemain menjadi satu identitas kolektif baru. Mobilitas sosial dalam sepak bola Indonesia telah bergeser dari hanya tingkat domestik ke tingkat global. PSSI dan tim kepelatihan memanfaatkan infrastruktur sepak bola modern untuk menarik bakat-bakat keturunan Indonesia dari berbagai penjuru dunia ke dalam satu sistem nasional. Ekosistem komunikasi seragam—mulai dari gaya main, disiplin taktis, dan tujuan bersama—kini mengintegrasikan pemain yang sebelumnya terpisah oleh batas geografis dan budaya.

Rekonstruksi Identitas Nasional

Identitas dan kebangsaan beralih ditentukan oleh kepadatan interaksi sosial, pengalaman Bersama, dan memori kolektif. Teori Deutsch menjawab perdebatan mengenai keaslian atau nasionalisme para pemain diaspora. Menurut model Deutsch, tingginya intensitas transaksi sosial membentuk rasa “Indonesia” dan nasionalisme Timnas Indonesia, bukan sekadar dokumen kewarganegaraan atau garis darah.

Transaksi sosial itu terwujud melalui kebersamaan dalam bertanding, rasa saling membela di lapangan, serta sambutan hangat dari suporter dan teman satu tim. Pengalaman bersama inilah yang telah menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa saling percaya (mutual trust) di tengah keberagaman budaya.

Salah satu representasi yang dapat kita lihat adalah ruang ganti timnas Indonesia yang berjalan sebagai komunitas keamanan mikro yang kosmopolitan. Skuad justru merayakan perbedaan berbasis asal-usul di dalamnya, terutama sentimen “kubu Belanda” vs “kubu lokal” yang meluruh karena tingginya interaksi positif dan rasa saling menghormati.

Keberagaman bahasa dan latar belakang tidak memicu gesekan, melainkan tim mengelolanya secara inklusif. Kepercayaan satu sama lain di dalam dan di luar lapangan membuktikan bahwa skuad berhasil melebur batas sosial menjadi sebuah bentuk solidaritas kolektif, Indonesia.

Dengan demikian, keputusan para pemain diaspora untuk mengenakan seragam timnas sepakbola Indonesia, bahkan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” sebagai lagu kebangsaan negara asal orang tua atau kakek-nenek mereka, mewakili perayaan atas beberapa lapis identitas mereka yang beragam. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa merayakan euforia kemenangan timnas sepakbola Indonesia dalam ajang Piala FIFA ASEAN CUP 2026 menandai eratnya koneksi keindonesiaan kita dalam lingkungan global.

Batas-batas sosial yang sebelumnya memisahkan pemain berdasarkan latar belakang geografis dan pembinaan kini melunak. Hal itu terjadi bukan karena hilangnya rasa nasionalisme, namun karena nasionalisme Timnas Indonesia itu sendiri telah mendefinisikan dirinya menjadi lebih kosmopolitan melalui intensitas komunikasi, keterbukaan transaksi, dan pengalaman bersama di bawah satu bendera bernama Indonesia.

Editor Opini: Agung S Bakti
Isi opini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Opini
Bagikan: