Wajah Baru Kungkum di Tugu Suharto pada Malam 1 Suro
SEMARANG, Jatengdata.com – Gapura selamat datang menyambut ratusan langkah kaki di atas aspal jembatan Tugu Suharto yang ramai di malam 1 Suro tahun ini. Kawasan mistis ini menjelma menjadi episentrum wisata malam Semarang yang dipenuhi stand jualan UMKM. Sementara di sungai bawah jembatan sekelompok orang tetap fokus melakukan tradisi kungkum di Tugu Suharto.
Secara visual, kontras malam itu sungguh epik. Di satu sisi, ratusan warga asyik berdesakan di antara deretan gerobak sate, cilok, jagung bakar dan jajanan lainnya. Sebaliknya di bawah sana, sekelompok kecil orang tetap khusyuk berendam. Terlebih lagi, mereka nekat menembus dinginnya arus sungai.
Pemandangan magis ini membuktikan satu hal penting. Nyatanya, dunia profan dan sakral bisa berdampingan dengan sangat damai.
Fakta Sejarah dan Legenda Pelarian
Beranjak ke lini masa, media sosial merekam jelas fenomena pergeseran ini. Faktanya, warga menganggap suasana semalam lebih mirip sebuah ajang rekreasi. Sebagai contoh, akun @RagilSemar membagikan rekaman video menarik. Melalui cuitannya, ia menulis: “Malem 1 Suro di Tugu Suharto = kulineran”
Tentu saja, ada akar narasi sejarah yang kuat di tempat ini. Lebih lanjut, catatan sejarah lokal mengungkap fakta penting. Awalnya, Romo Diyat membangun monumen ini pada tahun 1965 atau tahun 70-an. Rupanya, ia merupakan tokoh spiritual yang memiliki kedekatan dengan Presiden Soeharto.
Konon, Soeharto pernah bersembunyi dari kejaran tentara Belanda di sana. Tepatnya, ia merendam diri di sungai tersebut saat Agresi Militer meletus dan selamat. Sehingga akhirnya kungkum di sungai ini dianggap mengandung tuah.
Di lain pihak, pemerhati sejarah Kota Semarang, Johanes Christiono, memberikan catatan khusus. Secara gamblang, ia menyebutkan ketiadaan bukti historis otentik tentang peristiwa pelarian itu.
Walaupun begitu, cerita turun-temurun ini terlanjur mengakar sangat kuat dan menjadi urban legend. Kisah inilah yang menjadi magnet utama sejarah Tugu Suharto.
Kosmologi Jawa dan Alasan Filosofis Tempuran
Selain aspek sejarah, lokasi tugu ini memiliki signifikansi tinggi dalam filosofi kejawen. Sebab, tugu ini berdiri tepat di tempuran atau titik pertemuan dua aliran sungai Kali Garang dan Kali Kreo. Secara khusus, kosmologi Jawa sangat menghargai pertemuan dua sumber air. Pasalnya, tabrakan arus ini menghasilkan pusaran energi spiritual yang sangat kuat.
Maka dari itu, masyarakat Jawa menganggap malam 1 Suro sebagai waktu paling keramat. Warga lantas memanfaatkan pusaran energi tempuran tersebut secara maksimal.
Da beberapa tujuan bagi mereka yang percaya dan melakukan laku tirakat kungkum di Tugu Suharto. Pertama, ruwat atau pembersihan batin). Tujuannya untuk membuang sial dan energi negatif selama setahun penuh. Kedua, doa pengharapan. Umumnya warga meminta berkah kelancaran rezeki dan kesehatan fisik. Dan ketiga, ritual jamasan atau memandikan benda-benda pusaka warisan leluhur langsung di perairan tempuran.
Transformasi Tradisi: Dari Mistis Menjadi Rekreasi Komunal
Jika ditarik ke belakang, suasana dekade 1990-an terasa sangat berbeda. Kala itu, kawasan bersejarah ini memancarkan aura sakral dan hening. Akibatnya, para pelaku spiritual dari luar daerah selalu memadati lokasi ini. Bahkan, mereka rela berendam berjam-jam di dalam aliran air dingin.
Akan tetapi memasuki tahun 2026, wajah perayaan itu berevolusi drastis. Generasi muda saat ini tidak lagi memikul beban laku ritual berat. Sebagai gantinya, mereka memilih cara baru untuk menjaga tradisi tetap hidup. Misalnya, warga berkumpul, bertegur sapa, dan menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Hal ini kemudian terwujud nyata melalui semarak kuliner Semarang malam. Walaupun demikian, sebagian kecil orang tetap menjalankan ritual kungkum di Tugu Suharto ini untuk menjaga tradisi. Warisan leluhur dan kehidupan modern generasi saat ini sukses melebur. Mereka saling merawat, menghargai, dan menghidupi.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.