Target 15 Menit ala Jepang, Gubernur Pacu Tim Reaksi Cepat Jateng
SEMARANG, Jatengdata.com – Gubernur Ahmad Luthfi menantang TRC atau Tim Reaksi Cepat Jateng memangkas waktu tiba di lokasi bencana secara drastis. Ia mematok target operasional 15 menit meniru standar Jepang, di tengah ancaman kekeringan ekstrem dan maraknya kebakaran yang menelan kerugian puluhan miliar rupiah.
Luthfi menegaskan tantangan tersebut saat menutup Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personel TRC Jawa Tengah di BPKH Penggaron, Kabupaten Semarang, Ahad (6/9/2026). Kecepatan respons fase awal sangat menentukan efektivitas penyelamatan jiwa. Relawan wajib membarengi kemampuan teknis dengan kesiapan siaga penuh di lapangan.
“Kecepatan penanganan awal bencana Jepang itu nomor satu di dunia. Minimal di Jepang 15 menit sudah sampai di TKP. Di tempat kita masih di atas itu,” kata Luthfi.
Ancaman Kerugian Puluhan Miliar
Luthfi menilai pelatihan teknis berperan sebagai instrumen penting untuk memangkas waktu respons. Ratusan personel perwakilan daerah harus siap menghadapi ancaman yang semakin beragam, mulai dari kekeringan hingga tanah gerak.
“Latihan itu perlu untuk meningkatkan profesionalitas dan teamwork, serta membiasakan diri dalam penanganan awal terkait tanggap bencana,” ujarnya.
“Pelatihan itu 60 persen dari pelaksanaan tugas personel dan relawan tanggap bencana,” katanya.
Situasi kebencanaan di Jawa Tengah saat ini menuntut kewaspadaan tingkat tinggi. Kemarau panjang memicu krisis air bersih dan melipatgandakan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah mencatat 615 kejadian kebakaran per 30 Agustus 2026. Kebakaran gedung dan permukiman mendominasi insiden ini sebanyak 333 kasus, sementara karhutla menyumbang 282 kejadian. Institusi tersebut menaksir total kerugian material mencapai Rp 38,5 miliar.
Mitigasi Dini dan Pemetaan Risiko
Pemerintah daerah merespons ancaman kekeringan melalui pemetaan wilayah rawan secara komprehensif. Pemprov memfokuskan langkah mitigasi pada pengamanan pasokan air bersih warga dan penyelamatan lahan pertanian.
“Semua sudah kita petakan agar dampak kekeringan tidak melanda terlalu dalam di daerah kita,” jelas Luthfi.
Kolaborasi lintas sektor kini berjalan masif. Pemprov Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota mendistribusikan sekitar 8,5 juta liter air bersih ke wilayah terdampak. Percepatan distribusi ini melibatkan koordinasi ketat dengan aparat TNI dan Polri.
Gubernur juga menginstruksikan para kepala daerah agar proaktif mengecek kondisi lapangan secara berkala. Instruksi ini merespons peristiwa kebakaran kawasan TPA Putri Cempo di Kota Surakarta sebagai pembelajaran bersama.
“Surat edaran sudah dibuat oleh Pak Sekda Provinsi Jawa Tengah, dan ini harus menjadi perhatian kita bersama,” tegasnya.
Pemerintah turut mengimbau masyarakat terkait potensi paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Warga perlu menyiapkan langkah antisipasi mandiri sedini mungkin, meskipun dampak abu belum mencapai wilayah Jawa Tengah.
“Belum ada laporan pasti terkait dampak abu vulkanik di wilayah kita. Tapi seandainya sampai wilayah kita, masyarakat kita imbau untuk mengenali masker,” kata Luthfi.
Penanganan bencana menuntut setiap personel memahami tugas operasionalnya secara utuh. Setiap elemen Tim Reaksi Cepat Jateng harus sigap bekerja sebagai satu kesatuan tim dan hadir memberi pertolongan sejak menit pertama krisis melanda masyarakat.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.