Pantura Kritis! Jateng Bangun Benteng Mangrove Sebelum Giant Sea Wall

8 Oktober 2026, 21:08 WIB • 3 menit baca
Warga dan kelompok pelajar melakukan aksi penanaman bibit mangrove di pesisir Pantura Jawa Tengah sebagai benteng ekologis dan mitigasi penurunan muka tanah sebelum berdirinya proyek strategis Giant Sea Wall Pantura.
Sejumlah warga dan elemen pelajar bergotong royong menanam bibit mangrove di kawasan pesisir lumpur Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah. Penanaman vegetasi pesisir ini menjadi representasi langkah mitigasi ekologis berbasis pemberdayaan masyarakat yang digencarkan sebelum konstruksi fisik Giant Sea Wall Pantura direalisasikan.

SEMARANG, Jatengdata.com – Ancaman penurunan muka tanah hingga 11 sentimeter per tahun memaksa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) bergerak cepat. Mereka membangun benteng ekologis berupa kawasan mangrove di Sayung, Kabupaten Demak, mendahului mega proyek infrastruktur fisik Giant Sea Wall Pantura.

Langkah darurat namun berkelanjutan ini dibahas langsung dalam pertemuan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Kepala BOPPJ Fadil Imran di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (8/10/2026). Keduanya sepakat bahwa perlindungan Pantai Utara (Pantura) tidak boleh semata-mata menunggu selesainya pembangunan tembok laut raksasa.

Solusi Ekologis Atasi Penurunan Tanah

Kawasan pesisir utara kini menghadapi kondisi lingkungan yang sangat kompleks. Selain hantaman abrasi dan banjir rob, garis pantai pesisir utara sepanjang 651,47 kilometer menderita penurunan muka tanah yang ekstrem. Karena itu, penanaman mangrove berbasis Nature-based Solution di Sayung akan menjadi proyek percontohan atau demonstration plot (demplot) perlindungan awal mengiringi agenda pembangunan Giant Sea Wall Pantura.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa upaya ekologis ini selaras dengan langkah mitigasi dari pihak provinsi. Penanaman vegetasi pesisir harus mendahului konstruksi beton di lapangan.

“Sehingga upaya pencegahan sejak dini ini diberikan sebelum pelaksanaan (Giant Sea Wall) dilaksanakan,” ujar Ahmad Luthfi.

Ia memaparkan bahwa intervensi ekologis ini sejalan dengan inisiatif Mageri Segoro yang telah sukses merangkul berbagai elemen masyarakat pesisir di Jawa Tengah.

“Tentu saja program BOPPJ itu selaras dengan program Jawa Tengah. Kita punya program Mageri Segoro yang itu sudah melibatkan seluruh komponen masyarakat,” kata Luthfi.

Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

Proyek pertahanan pesisir ini tidak hanya berfokus pada penahan gelombang laut, tetapi juga menyasar peningkatan perekonomian warga. Wakil Kepala BOPPJ Fadil Imran menjelaskan bahwa pengelolaan Teluk Semarang, Demak, dan Kendal telah masuk menjadi prioritas utama penanganan.

“Presiden sudah memerintahkan BOPPJ untuk mengoptimalkan perlindungan ekologis dan pengembangan ekonomi masyarakat di Pantura. Salah satu wilayah yang menjadi titik untuk dikelola adalah di Teluk Semarang, Demak, dan Kendal,” kata Fadil seusai pertemuan.

Fadil memastikan para warga yang bermukim di pesisir akan dilibatkan secara penuh sebagai aktor utama dalam merawat benteng alami tersebut.

“Pasti (libatkan masyarakat). Jadi mitra kebersamaan pemberdayaan masyarakat memang itu tujuan utama dari BOPPJ. Giant Sea Wall dalam konsep besarnya adalah pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat,” ujarnya.

Adopsi Kearifan Lokal

Untuk memastikan keberhasilan demplot pelindung ini, BOPPJ siap mereplikasi praktik sukses dari wilayah pesisir lainnya. Salah satu rujukan utamanya berasal dari kiprah tokoh pemuda Brebes, Mohammad Bangkit, yang berhasil memajukan kawasan Ekowisata Hutan Mangrove di Desa Kaliwlingi.

“Nanti kami juga akan bertukar ilmu tentang kearifan lokal bahwa ternyata tanaman yang tumbuh di pesisir pantai ini bisa dimanfaatkan,” katanya.

Pada akhirnya, saat megaproyek strategis Giant Sea Wall Pantura sepanjang 274,7 kilometer dari Brebes hingga Rembang resmi berdiri, masyarakat pesisir Jawa Tengah sudah siap. Mereka tidak lagi terkejut, melainkan sudah terbiasa hidup produktif berdampingan dengan benteng ekosistem tersebut.

“Harapannya masyarakat sudah terbiasa dengan kehidupan alam dengan penanaman mangrove kemudian cemara, kemudian kelapa nyiur dan sebagainya,” katanya.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.