Magnet Baru! Potensi Investasi Jawa Tengah Tembus Rp 19,07 Triliun

28 Agustus 2026, 13:17 WIB • 4 menit baca
Jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama delegasi menyentuh bola dunia digital bercahaya bertuliskan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat peresmian Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 di Jakarta.
Jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah beserta perwakilan delegasi secara simbolis meresmikan pembukaan Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 di Jakarta, Kamis (27/8/2026). Ajang ini sukses mengamankan potensi investasi mencapai Rp 19,07 triliun untuk pengembangan sektor strategis di Jawa Tengah.

JAKARTA, Jatengdata.com – Jawa Tengah kembali membuktikan daya tariknya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru setelah meraup potensi investasi sebesar Rp 19,07 triliun. Ajang Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 di Jakarta, Kamis (27/8/2026), mengungkap angka fantastis ini.

Potensi modal raksasa ini tidak sekadar mengejar target kuantitatif. Arus investasi Jawa Tengah kini menyasar sektor strategis mulai dari pengembangan industri manufaktur, energi bersih, pariwisata, hingga kawasan ekonomi khusus.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, memaparkan bahwa gelaran di ibu kota ini sukses menjembatani peluang bisnis daerah langsung kepada para pemilik modal.

“Kegiatan CJIBF diikuti sekitar 400 peserta yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, asosiasi, BUMD, BUMN, perbankan, serta calon investor dari dalam dan luar negeri,” ujar Sakina.

Forum tersebut memfasilitasi 74 agenda pertemuan one-on-one yang melibatkan 36 pelaku usaha. Pendekatan proaktif ini menghasilkan sejumlah penandatanganan Letter of Intent (LoI) yang signifikan.

Deretan Komitmen Proyek Raksasa

Beragam korporasi besar langsung mengunci peluang bisnis di Jawa Tengah. PT Fayyad Industri Pangan Halal Terhubung mencatatkan rencana investasi paling besar yang mencapai Rp 8,75 triliun.

Komitmen Penanaman Modal Asing (PMA) yang mencolok datang dari PT Yosun Tire and Rubber Indonesia asal China. Perusahaan tersebut menyuntikkan dana sebesar Rp 4 triliun khusus untuk pengembangan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang.

Dukungan investasi lokal juga terus mengalir deras. PT Hyrecmas Garam Nusantara merencanakan penanaman modal sebesar Rp 681,84 miliar. PT Cipta Kreasi Wisata turut menyumbang komitmen Rp 200 miliar, dan PT Hailex Technology Indonesia menanamkan modal senilai Rp 175 miliar.

Kerja sama pengelolaan lingkungan pun mengemuka melalui pengembangan Waste to Energy. PT Energy3 International (E3i) Inc resmi menggandeng tujuh kabupaten/kota di Jawa Tengah untuk mewujudkan ekosistem energi bersih.

Fokus Ekosistem Bisnis Hijau dan KEK

Daya tarik potensi investasi Jateng mendapat sorotan positif dari kalangan internasional. Perwakilan British Chamber, Danish Chamber of Commerce, dan Consul Asia, Ian Betts, menilai visi pembangunan daerah ini selaras dengan kebutuhan industri masa depan.

“Saya melihat ada ketertarikan besar terhadap sektor hijau dan berkelanjutan, serta ekowisata. Ini merupakan hal baru dan sangat menarik sehingga investor asing mungkin akan tertarik dengan peluang tersebut,” kata Ian.

Keberadaan kawasan industri yang terintegrasi menjadi nilai tambah yang sangat krusial bagi masuknya pemodal global.

“Saya tertarik dengan Batang dan Kendal karena keduanya terhubung dengan kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri. Bagi saya, kawasan seperti itu lebih mudah dipromosikan kepada investor asing,” ujarnya.

Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Ichsan Zulkarnaen, menegaskan hal senada. Ia memproyeksikan pergeseran investasi yang berfokus pada inovasi nilai tambah.

“Ke depan arah investasi Indonesia akan semakin beragam, tidak lagi hanya bertumpu pada ekstraksi sumber daya alam. Kita akan masuk kepada bagaimana menciptakan teknologi menengah dan tinggi, seperti data center, electric vehicle, artificial intelligence, digitalisasi logistik, dan energi baru terbarukan,” ujar Ichsan.

“Jawa Tengah menjadi salah satu pendorong investasi karena memiliki dua kawasan ekonomi khusus dan tujuh kawasan industri, yang beberapa di antaranya sudah memiliki fasilitas KLIK (Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi),” katanya.

Mengerek Kelas 4,2 Juta UMKM Lokal

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memberikan penekanan khusus terkait pemerataan manfaat ekonomi. Masuknya modal belasan triliun ini harus menciptakan ruang kolaborasi bagi 4,2 juta UMKM skala mikro di Jawa Tengah.

“Tugas kami adalah mempermudah izin, menyiapkan lahan, menjaga keamanan, serta menjamin kepastian agar pertumbuhan ekonomi dan bisnis berkembang di Jawa Tengah,” ujar Luthfi.

Pemerintah daerah mengarahkan investasi agar mampu melahirkan pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai kabupaten dan kota, tidak hanya berpusat di kawasan industri konvensional. Pemerintah memproyeksikan pelaku usaha lokal masuk langsung ke dalam rantai pasok industri.

“Yang dibutuhkan bukan hanya permodalan dan pemasaran, tetapi bagaimana usaha mikro bisa naik kelas menjadi kecil atau menengah,” katanya.

Integrasi UMKM ke dalam ekosistem industri ini menargetkan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas. Langkah taktis ini sekaligus memastikan masyarakat Jawa Tengah merasakan manfaat ekonomi secara merata.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.