Merawat Sang Ibu, Guru MI Tuntaskan Disertasi S3 dengan Nilai Nyaris Sempurna

2 Oktober 2026, 11:14 WIB • 3 menit baca
Moh Miftahul Arief menerima tabung gelar Doktor Studi Islam dari Rektor UIN Walisongo Semarang dalam ujian terbuka promosi doktor.
Moh Miftahul Arief (kanan depan), seorang guru MI dan mantan loper koran, setelah ujian terbuka disertasi di UIN Walisongo, Semarang, Jawa Tengah.

SEMARANG, Jatengdata.com – Aroma antiseptik dan dinginnya ruang perawatan geriatri RSUP Dr. Kariadi pernah menjadi saksi bisu perjuangan tanpa lelah seorang anak yang berbakti. Di sela-sela merawat sang ibu yang terbaring lemah, jari-jemarinya tak henti menari di atas tuts laptop, merangkai kata demi kata yang kelak mengantarkannya meraih gelar Doktor UIN Walisongo Semarang dengan nilai nyaris sempurna.

Sosok tangguh itu adalah Moh. Miftahul Arief, seorang guru MI Miftahul Akhlaqiyah Ngaliyan berusia 45 tahun. Perjalanannya mencapai puncak akademik ini membentang jauh dari kata mudah. Jauh sebelum menyandang gelar prestisius tersebut, Arief muda pernah menggantungkan hidup sebagai loper koran di persimpangan lampu merah Kalibanteng demi menyambung napas pendidikannya.

Semangat pantang menyerahnya terus berkobar seiring berjalannya waktu. Ketika mulai mengabdi sebagai guru pada tahun 2005, ia membagi waktu antara ruang kelas dan menjaga gerai toko buku hingga larut malam.

“Saat menjadi guru MI, pagi mengajar, siang hingga malam menjaga outlet di Gramedia Pandanaran. Saat itu yang saya pikirkan sederhana, bagaimana tetap bisa belajar sambil bekerja,” kenangnya.

Bakti Sang Anak dan Riset Disertasi

Perjuangan itu membuahkan hasil manis. Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., memimpin langsung ujian terbuka promosi doktor tersebut pada Rabu, 30 September 2026. Sang Rektor secara resmi menetapkan Moh Miftahul Arief lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98.

“Kepadanya diberi gelar Doktor Studi Islam, dan merupakan doktor ke-456 yang telah diluluskan oleh UIN Walisongo,” kata Prof. Musahadi.

Namun, di balik kegemilangan Doktor UIN Walisongo Semarang ini, tersimpan pengorbanan yang menguras air mata. Proses penulisan disertasi pendidikan Islam miliknya berjalan beriringan dengan tugas mulianya menjaga sang ibu yang berjuang melawan penyakit komplikasi.

“Sebagian disertasi ini saya kerjakan di kamar geriatri RS Kariadi. Saat ibu dirawat, saya menunggu sendiri, mengantar dan menjemput beliau, sekaligus menyelesaikan berbagai bagian penelitian di samping tempat tidurnya,” ujarnya.

Dedikasi untuk Sang Ibunda Tercinta

Harapan terbesarnya untuk melihat sang ibu tersenyum di hari kelulusan harus pupus, lantaran sang ibunda telah lebih dahulu berpulang setahun yang lalu. Oleh karena itu, gelar akademik yang kini ia sandang memiliki makna yang jauh lebih mendalam.

“Doktor ini bukan hanya milik saya. Ada doa, pengorbanan, dan perjuangan ibu saya, perempuan hebat yang tak lulus Madrasah Aliyah dan memeras keringat demi pendidikan anak-anaknya,” katanya sambil berkaca-kaca.

Dalam ranah akademiknya, mantan Kepala Madrasah Berprestasi ini merumuskan inovasi Urban-Spiritual Resonance Model. Penelitiannya membuktikan bahwa masyarakat urban masa kini tidak hanya melihat agama dan kedekatan lokasi sekolah, tetapi sangat menuntut mutu pendidikan dan pelayanan madrasah yang unggul.

Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., turut mengapresiasi kegigihan serta keluwesan literasi sang jurnalis ini. Pada akhirnya, pencapaian luar biasa Doktor UIN Walisongo Semarang ini memberikan pesan moral yang sangat kuat. Bahwa bakti seorang anak kepada ibunya, yang dirajut dengan ketekunan tanpa henti, mampu menembus batas-batas kemustahilan dan mencetak sejarah emas di dunia pendidikan.

Baca juga:

Kuliah Sambil Pumping ASI, Perjuangan Hebat Lailiyah Raih Gelar Doktor UIN Walisongo

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.