Jumlah Penduduk Miskin Jawa Tengah Turun, Beras dan Rokok Tetap Jadi Beban Utama

10 Agustus 2026, 11:22 WIB • 2 menit baca
Close-up tangan pekerja keras yang sedang menghitung uang kertas Rupiah lusuh di dekat tumpukan beras dan rokok kretek di atas meja kayu, mewakili beban ekonomi penduduk miskin Jawa Tengah.
Beban Pengeluaran Warga Miskin: Ilustrasi sepasang tangan menghitung sisa uang pecahan Rupiah di samping tumpukan beras dan rokok kretek. Berdasarkan data BPS Maret 2026, komoditas beras dan rokok masih menjadi dua penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan di Jawa Tengah. (Ilustrasi: AI Generated)

SEMARANG, Jatengdata.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mengumumkan kabar baik terkait jumlah penduduk miskin Jawa Tengah pada Maret 2026. Lembaga ini mencatat angka penduduk miskin turun menjadi 3,29 juta orang. Penurunan ini mencapai 59,39 ribu orang jika membandingkannya dengan data September 2025.

Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Dr. Ali Said, MA, merilis Berita Resmi Statistik terbaru pada 5 Agustus 2026. Laporan tersebut menunjukkan persentase penduduk miskin Jawa Tengah saat ini berada di level 9,21 persen. Angka ini menyusut 0,18 poin persen dari periode September 2025.

Pemerintah daerah berhasil menekan angka kemiskinan secara konsisten. Namun, tantangan baru justru muncul di wilayah perdesaan. Persentase kemiskinan perdesaan malah naik tipis menjadi 9,96 persen dari sebelumnya 9,92 persen.

Garis Kemiskinan dan Harga Kebutuhan

Infografis jatengdata menunjukkan beras dan rokok kretek filter sebagai penyumbang utama pengeluaran 3,29 juta penduduk miskin di Jawa Tengah, mendominasi 75,98 persen beban kebutuhan makanan.
Rincian Pengeluaran Warga Miskin: Infografis porsi beban pengeluaran penduduk miskin Jawa Tengah. Konsumsi beras (22,39% di desa; 20,73% di kota) dan rokok kretek filter (9,50% di kota; 8,51% di desa) menjadi dua penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan. (Grafis: jatengdata.com)

BPS juga menetapkan Garis Kemiskinan pada Maret 2026 sebesar Rp596.676 per kapita setiap bulannya. Komoditas makanan mendominasi beban pengeluaran masyarakat miskin hingga 75,98 persen. Beras memberikan sumbangan terbesar terhadap Garis Kemiskinan, yakni 20,73 persen di perkotaan dan 22,39 persen di perdesaan.

Selain beras, rokok kretek filter menempati posisi kedua sebagai penyumbang terbesar. Beban konsumsi rokok mencapai 9,50 persen di perkotaan dan 8,51 persen di wilayah perdesaan.

Secara rata-rata, rumah tangga miskin memiliki 4,31 anggota keluarga. Mereka harus mengeluarkan minimal Rp2.571.674 per bulan agar tidak masuk kategori miskin.

Data riil penduduk miskin Jawa Tengah ini menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah. Strategi pengendalian harga pangan pokok sangat krusial untuk mempertahankan tren positif ini ke depannya.

Editor: Agung S Bakti
Sumber: BPS Jateng
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.