Harga Sempat Anjlok, Petani Singkong Banjarnegara Bangkit Lewat Inovasi Mocaf

15 Mei 2026, 08:42 WIB • 2 menit baca
Harga Sempat Anjlok, Petani Singkong Banjarnegara Bangkit Lewat Inovasi Mocaf
produsen UMKM bangga memegang kantong Tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) merek Mocafine. Meja di depannya dipenuhi berbagai produk olahan singkong lokal lainnya seperti camilan dan biskuit, menunjukkan inovasi pangan lokal yang bebas gluten.

BANJARNEGARA, Jatengdata.com – Kehidupan ekonomi petani singkong Banjarnegara kini berubah drastis setelah harga jual panen mereka melonjak dari Rp200 menjadi lebih dari Rp1.000 per kilogram. Peningkatan kesejahteraan ini terwujud berkat inisiatif pengolahan tepung mocaf (modified cassava flour) sejak 2015 yang secara konsisten menyerap puluhan ton hasil panen warga setiap bulannya.

Sebelum inovasi ini muncul, nasib petani sangat memprihatinkan. Harga panen ubi kayu di daerah tersebut pernah anjlok hingga menyentuh level terendah. Kondisi ini membuat kesejahteraan warga merosot tajam. Namun, situasi berubah total semenjak kehadiran inovasi pengolahan modifikasi tepung singkong atau mocaf tersebut.

Riza Azyumardi Azra mengambil inisiatif berani untuk mengubah nasib itu. Ia mendirikan Rumah Mocaf sebagai langkah strategis menyerap hasil panen masyarakat. Melalui inisiatif ini, ia mengolah ubi kayu mentah menjadi beragam produk bernilai jual tinggi. Langkah konkret ini sukses menjadi wujud nyata pemberdayaan UMKM di wilayah tersebut.

Harga Singkong Naik Tajam

Dampak positif dari gerakan ini langsung dirasakan oleh warga lokal. Saat ini, harga singkong naik signifikan hingga menyentuh lebih dari Rp1.000 per kilogram. Petani asal Desa Parakan, Latif, mengakui perubahan besar tersebut.

“Dulu kesusahan kalau mau jual, sampai harus ke luar kota. Sekarang kami siap menampung dengan harga yang sedikit lebih tinggi,” ujar Latif.

Infografis yang merangkum keberhasilan revolusi singkong di Banjarnegara berkat inovasi tepung mocaf. Visual ini menampilkan data lonjakan harga panen hingga 500%, produktivitas lahan mencapai 21 ton per tahun, masifnya permintaan pasar, serta aneka diversifikasi produk non-gluten.

Selain itu, produktivitas lahan desa kini makin meningkat pesat. Para petani di desa Latif mampu memproduksi hingga 21 ton ubi kayu per tahun dari lahan seluas 1–2 hektare. Mereka juga secara rutin memasok kebutuhan bahan baku produksi secara berkelanjutan.

“Kalau kami untuk penjualan tepung mocaf bekerja sama dengan Mas Riza, sebulan bisa 10-15 ton. Harapannya, tepung ini bisa dikenal ke seluruh Indonesia,” ujar Latif.

Permintaan Pasar Terus Melonjak

Sementara itu, Riza mengubah bahan mentah lokal menjadi aneka produk non-gluten unggulan. Produk tersebut meliputi chocolate chips, chiffon cake, selondok, hingga gula cair. Selanjutnya, Riza menyalurkan produk ini untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan internasional secara masif.

“Dalam satu bulan untuk pasar domestik sekitar 30-40 ton. Kini tren permintaannya terus naik,” ujar Riza.

Kini, kehidupan ekonomi petani singkong Banjarnegara jauh lebih sejahtera. Mereka tidak lagi memandang tanaman ini sebagai pangan kasta kedua. Terlebih lagi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendukung kemandirian ini dengan menjadikan olahan mocaf sebagai cadangan pangan resmi daerah.

Editor: Muhammad Raihan Dwi Azile Aziz
Sumber: Pemprov Jateng
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.