Bahaya Mikroplastik Mengintai, Peneliti Unsoed ke Cina Pelajari Ini

17 September 2026, 15:01 WIB • 2 menit baca
Suasana kelas pelatihan internasional analisis mikroplastik laut di Qingdao, Cina, yang diikuti oleh peneliti Pusat Riset Biodiversitas dan Maritim Unsoed bersama delegasi negara Asia lainnya.
Peneliti Pusat Riset Biodiversitas dan Maritim Unsoed bersama para ahli kelautan dari berbagai negara Asia saat mengikuti sesi pemaparan materi dalam Training Course on Marine Microplastic Analysis and Bio-Indicator yang diselenggarakan di Qingdao, Cina.

QINGDAO, CINa, Jatengdata.com – Ancaman bahaya mikroplastik di lautan kini semakin mengkhawatirkan hingga mendorong para pakar kelautan bergerak cepat. Merespons kondisi darurat polusi tersebut, seorang peneliti dari Pusat Riset Biodiversitas dan Maritim Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengikuti pelatihan internasional di Qingdao, Cina. Langkah strategis ini bertujuan untuk menguasai teknologi identifikasi polutan laut yang terstandar secara global.

Langkah strategis ini berwujud pengiriman Dr. Dyahruri Sanjayasari, M.Si. ke ajang Training Course on Marine Microplastic Analysis and Bio-Indicator. Pelatihan intensif tersebut berlangsung pada 14–18 September 2026 di bawah naungan The First Institute of Oceanography (FIO), Kementerian Sumber Daya Alam Cina. Bersama ahli kelautan dari tujuh negara Asia, peneliti Indonesia ini mendalami teknik ekstraksi mikroplastik menggunakan instrumen mutakhir micro-Fourier Transform Infrared Spectroscopy (micro-FTIR) dan micro-Raman.

Fokus utama penelitian tidak sekadar berkutat pada pengoperasian alat laboratorium canggih. Para peserta juga mempelajari pemanfaatan organisme laut, khususnya kekerangan, sebagai bio-indikator alami. Metode ini membantu ilmuwan mengukur tingkat akumulasi mikroplastik sekaligus mengidentifikasi besaran dampak kerusakannya terhadap ekosistem laut.

Langkah Nyata Selamatkan Laut Indonesia

Pemantauan polutan pesisir antarnegara membutuhkan standarisasi metode agar validitas datanya seragam secara global. Kolaborasi dengan institusi internasional membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengatasi persoalan limbah mikroskopis ini secara lebih terukur.

“Keikutsertaan Unsoed dalam pelatihan ini menjadi kesempatan penting untuk memperkuat kapasitas peneliti dalam menganalisis mikroplastik,” ujar Kepala Pusat Riset Biodiversitas dan Maritim Unsoed, Dr.rer.nat. Riyanti, M.Biotech.. Ia menegaskan bahwa pengetahuan ini akan dikembangkan lebih lanjut dalam ekosistem penelitian nasional.

Pengalaman meriset langsung di Cina memberikan wawasan taktis bagi pelestarian pesisir Nusantara. Praktik pemantauan dan standardisasi data menjadi modal utama institusi pendidikan dalam mendukung keberlanjutan kelautan.

“Pelatihan ini memberikan pengalaman dan wawasan mengenai metode analisis mikroplastik yang lebih terstandar, termasuk penggunaan instrumen untuk identifikasi mikroplastik dan pemanfaatan biota sebagai bio-indikator,” ungkap Dr. Dyahruri Sanjayasari.

Unsoed meyakini kolaborasi global ini menjadi langkah krusial bagi pelestarian kelautan Indonesia. Penguasaan metodologi deteksi mutakhir ini akan secara nyata membantu ilmuwan dan pemangku kebijakan dalam memitigasi bahaya mikroplastik yang mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir Nusantara di masa depan.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.