Berpacu dengan Waktu, Ahmad Luthfi Patok 2 Tahun Pembangunan Dry Port Jateng Harus Beroperasi

16 Agustus 2026, 09:11 WIB • 2 menit baca
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi tersenyum saat berbincang dengan petugas lapangan Subandi dalam kunjungan kerja di Cikarang Dry Port untuk persiapan pembangunan Dry Port Jateng.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi (kanan), berbincang hangat dengan petugas lapangan bernama Subandi saat melakukan studi komparatif di Cikarang Dry Port, Kabupaten Bekasi, Sabtu (15/8/2026). Kunjungan strategis ini dilakukan guna mematangkan konsep dan mempercepat realisasi pembangunan Dry Port Jateng di wilayah Batang dan Kendal.

BEKASI, Jatengdata.com – Arus distribusi yang lambat dan mahal perlahan bisa mencekik napas produk lokal di pasar global. Menyadari ancaman nyata tersebut, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memberikan tenggat waktu yang tak bisa ditawar. Dalam dua tahun, Dry Port Jateng harus sudah berdiri kokoh untuk menyelamatkan ekosistem logistik industri dari ketergantungan pada wilayah lain.

Merespons urgensi itu, Luthfi memacu percepatan realisasi infrastruktur ini. Ia memimpin langsung studi komparatif ke Cikarang Dry Port di kawasan Jababeka, Kabupaten Bekasi, pada Sabtu (15/8/2026).

Rombongan pemerintah provinsi (Pemprov) datang dengan formasi lengkap. Pengelola Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal turut hadir mendampingi. Begitu pula perwakilan Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) serta sejumlah organisasi perangkat daerah terkait.

Melalui kunjungan ini, Luthfi ingin memastikan konsep Dry Port Jateng benar-benar solutif. Fasilitas ini wajib menekan tingginya ongkos distribusi pengusaha.

“Sekitar 70 persen kontainer di Jawa Tengah pengirimannya masih banyak ke Jakarta dan Surabaya. Untuk menopang Pelabuhan Tanjung Emas yang kurang maksimal, salah satu solusinya adalah dry port,” kata Luthfi seusai berdiskusi dengan pengelola Cikarang Dry Port.

Simpul Baru Logistik Industri

Nantinya, fasilitas Dry Port Jateng beroperasi selayaknya pelabuhan laut. Terminal daratan ini menjamin kelancaran arus logistik industri secara terpusat.

Berbagai aktivitas krusial bisa tuntas di satu lokasi. Mulai dari proses bongkar muat, penyimpanan kontainer, pemeriksaan kepabeanan, hingga urusan dokumen ekspor-impor.

Saat ini, Pemprov Jateng fokus menggarap dua lokasi alternatif. Masing-masing lahan seluas sekitar 50 hektare telah disiapkan di KITB Batang dan Weleri, Kabupaten Kendal.

Sejauh ini, progres di wilayah Batang menunjukkan kemajuan paling memuaskan. Kesepahaman bersama telah resmi terjalin antara PT KAI, Pelindo, KITB, SPJT, dan BUMD Batang. Selanjutnya, pemerintah langsung mengebut tahap studi kelayakan dan pemilihan konsultan perencana.

“Yang sudah kita kerjakan sekarang adalah di KITB, sudah MoU, tapi juga menunggu perkembangan situasi. Prinsipnya, dua tahun ke depan dry port harus jadi,” tegas Luthfi.

Adopsi Keberhasilan Cikarang

Demi memenuhi target waktu, rombongan Jateng menyerap ilmu langsung dari sistem operasional Cikarang Dry Port. Fasilitas andalan ini telah terbukti memperlancar roda ekonomi sejak beroperasi pada 2010.

Direktur Cikarang Dry Port, Noor Yusuf, memaparkan bahwa fasilitasnya saat ini melayani sekitar 500 perusahaan industri. Cakupan penggunanya membentang dari Tangerang, Cikarang, Cikampek, hingga Bandung.

“Konsep dry port ini mendukung fasilitas lebih luas, termasuk storage. Jababeka juga sedang menyiapkan rencana pembangunan dry port di Weleri, Kendal,” ujarnya.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.