Merawat Napas di Tanah Suci: Evolusi Gotong Royong dalam Ekosistem Haji Ramah Lansia Jawa Tengah
SEMARANG, Jatengdata.com – Usianya tak lagi muda, langkah kakinya bergetar menahan beban tubuh yang digerogoti waktu. Bagi Mbah Sastro, dan puluhan ribu jemaah senja asal Jawa Tengah lainnya, berangkat ke Makkah bukan sekadar perjalanan spiritual, melainkan pertaruhan fisik yang mengancam nyawa. Di tengah himpitan waiting list haji Jateng yang mengular hingga tiga dekade, negara tak lagi bisa membiarkan para lansia ini bertarung sendirian di bawah terik matahari Arab Saudi. Ketika keluarga tak lagi diizinkan mendampingi, sebuah rekayasa empati dalam wujud Haji Ramah Lansia lahir mengubah cara kita melihat ibadah paripurna ini.
Realita di lapangan sering kali jauh lebih keras daripada deretan angka di atas kertas. Sebagai contoh, tengok saja pelataran masjid desa di penjuru Jawa Tengah. Jemaah berjalan tertatih dengan tongkat. Bahkan, ada pula yang napasnya terengah hanya untuk menaiki tiga anak tangga. Pada akhirnya, ini menjadi potret keseharian kita.
Bertahun-tahun, mereka menyisihkan rupiah hasil bertani atau berdagang demi mengantongi nomor porsi keberangkatan. Tragisnya, panggilan ke Tanah Suci sering tiba saat fisik mereka sudah menua. Urat sendi melemah, sementara daya ingat memudar. Lebih jauh lagi, rekam medis mencatat berbagai penyakit bawaan. Realitas pahit inilah yang memaksa negara memutar otak. Oleh karena itu, slogan Haji Ramah Lansia bukan sekadar pemanis bibir, melainkan sabuk pengaman darurat yang mutlak perlu. Tanpa rekayasa sosial dan perombakan sistem radikal, langkah ini sangat berisiko. Sebab, memberangkatkan puluhan ribu lansia ibarat menantang maut di tengah ekstremnya gurun pasir Jazirah Arab.
Demografi Senja di Ujung Daftar Tunggu
Untuk memahami krisis ini, kita harus melihat anatomi data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama. Secara demografis, Jawa Tengah ibarat bom waktu. Pasalnya, daftar tunggu (waiting list) haji Jateng luar biasa panjang. Estimasi masa tunggunya secara konsisten berada di atas 25 hingga 30 tahun. Akibatnya, hitungan matematisnya menjadi sangat kejam. Misalnya, seorang warga Jepara mendaftar haji pada usia 40 tahun. Maka, ia baru akan menginjakkan kaki di pelataran Ka’bah pada usia 70 tahun.

Kondisi ini diperparah oleh penundaan massal akibat pandemi yang membuat tumpukan antrean semakin menggunung. Imbasnya, komposisi jemaah bergeser drastis setiap musimnya. Berdasarkan catatan tren historis Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) Kemenag, jemaah lanjut usia (di atas 65 tahun) dan berisiko tinggi (Risti) asal Jawa Tengah selalu mendominasi. Celakanya, mereka terbang membawa komorbid serius; mulai dari hipertensi akut, diabetes melitus, hingga gangguan kardiovaskular.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan selalu menegaskan bahwa haji adalah ibadah fisik (badaniyah). Ritual Tawaf dan Sa’i menuntut jemaah berjalan kaki berkilo-kilometer. Belum lagi, puncak haji di Arafah dan Mina berlangsung dalam suhu ekstrem. Keseluruhan proses ini mutlak menuntut kebugaran optimal. Tentu saja, menyatukan jemaah rentan dengan rute fisik seberat ini butuh lebih dari sekadar doa. Maka dari itu, pemerintah membutuhkan intervensi sistemik.
Dilema Pendampingan: Antara Empati dan Keadilan Sistem
Dahulu, negara memang memiliki regulasi pelonggaran. Anggota keluarga muda bisa memotong antrean demi mendampingi jemaah haji lansia. Sebagai ilustrasi, jika seorang ayah 80 tahun mendapat jadwal berangkat, anaknya bisa melompat maju untuk menemani. Padahal, sang anak mungkin baru mendaftar lima tahun lalu. Di atas kertas, solusi ini terlihat manusiawi dan kental dengan nilai kekeluargaan.
Kendati demikian, praktiknya justru menciptakan “lubang hitam” ketidakadilan. Setiap kali satu anak muda melompat maju, berarti ada satu jemaah reguler yang kehilangan haknya. Otomatis, mereka harus mundur ke tahun depan. Merespons fenomena ini, Ombudsman RI dan berbagai lembaga pengawas pun bersuara keras. Mereka menemukan bahwa jalur pendamping keluarga kerap menjadi celah manipulasi antrean.

Akibatnya, Kementerian Agama segera merespons teguran sistemik tersebut. Mereka secara bertahap menghapus privilese lompat antrean bagi pendamping keluarga. Meski kebijakan ini sukses mengembalikan muruah keadilan Siskohat, sebuah krisis baru malah lahir. Kini muncul pertanyaan mendesak: siapa yang akan menuntun ratusan lansia asal Jawa Tengah ke toilet di Mina? Siapa yang akan mengingatkan mereka meminum obat di tenda Arafah, mengingat aturan kini melarang anak cucu mereka ikut terbang?
Rekayasa Sosial di Balik Embarkasi Solo
Beruntungnya, krisis pendampingan ini melahirkan sebuah manuver kebijakan cerdas yang kemudian menjadi nyawa dari ekosistem Haji Ramah Lansia. Mengingat negara tidak bisa melipatgandakan jumlah petugas medis secara tak terbatas, Kemenag Jawa Tengah akhirnya memutuskan untuk melakukan rekayasa sosial langsung di dalam kloter jemaah.
Panitia mulai mengeksekusi mekanisme ini persis di gerbang Asrama Haji Donohudan (Embarkasi Solo). Dengan memanfaatkan data Siskohat dan rekam medis digital Siskohatkes, panitia memetakan jemaah. Pemetaan ini tidak hanya berdasarkan asal daerah, tetapi juga memadukan usia dan profil kebugaran. Alhasil, panitia bisa menykenariokan komposisi yang seimbang dalam satu regu (11 orang) atau satu rombongan (4 regu).

Melalui skema ini, jemaah muda yang bugar memikul tugas moral secara sistematis. Mereka diamanatkan untuk mengawal jemaah lansia yang bukan anggota keluarganya. Sebagai langkah penguatan, panitia memberi orientasi khusus kepada Ketua Regu (Karu) dan Ketua Rombongan (Karom) di embarkasi. Mereka harus mengenali betul anggota yang mengidap demensia atau butuh kursi roda. Secara tidak langsung, kebijakan ini mengubah jemaah menjadi “unit keluarga baru” yang saling menjaga nyawa di negeri orang. Pada titik ini, pemerintah sukses mentransformasikan gotong royong budaya Jawa Tengah menjadi instrumen mitigasi risiko bertaraf internasional.
Distribusi Kuota Prioritas yang Terukur
Selain rekayasa sosial, pemerintah juga mengatur instrumen percepatan antrean melalui skema kuota prioritas lansia. Demi menghindari ketidakadilan, algoritma aplikasi Siskohat pusat mengunci rapat pedoman alokasi ini. Perlu dicatat, penerima kuota ini bukanlah lansia biasa. Mereka adalah jemaah berusia tertua—seringkali menyentuh 85 hingga 90 tahun lebih—yang juga telah mengantre dengan batas minimal waktu tertentu.
Akan tetapi, distribusi kuota prioritas ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, langkah ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi negara kepada warga lansia. Namun di sisi lain, masuknya kelompok super-elderly ini tentu membutuhkan pengawasan berlapis, apalagi mereka berangkat tanpa pendampingan anak kandung. Menyikapi hal ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah dan Kemenag harus bekerja ekstra keras. Mereka memperketat tahap Istitha’ah (kemampuan) kesehatan di tingkat Puskesmas. Intinya, tim medis harus memastikan penyakit penyerta jemaah prioritas ini tetap terkontrol.
Dalam praktiknya, tim medis akan memantau ketat kemandirian aktivitas sehari-hari (Activity of Daily Living). Jika lansia tidak bisa makan sendiri atau mengalami demensia berat, regulasi akan otomatis menunda keberangkatan mereka. Tentu saja, edukasi psikologis di tahap ini menjadi sangat krusial. Petugas daerah harus mampu memberi pemahaman kepada keluarga bahwa penundaan bukanlah sebuah diskriminasi. Sebaliknya, ini adalah ikhtiar syariat yang bertujuan mencegah hilangnya nyawa akibat memaksakan ibadah melebihi batas anatomis manusia.
Kini, masyarakat tidak lagi mengukur kesuksesan ibadah dari kemegahan acara pelepasan oleh bupati. Parameter keberhasilan sejati telah berubah drastis. Sistem Siskohat, mitigasi klinis Puskesmas, dan rekayasa solidaritas Asrama Haji Donohudan harus melebur menjadi satu kekuatan pelindung. Pada akhirnya, penyelenggaraan Haji Ramah Lansia di Jawa Tengah akan selalu menemukan jalannya, asalkan jemaah dan petugas terus merawat asas gotong royong ini. Kita harus memastikan kakek dan nenek kita tidak pernah merasa sendirian, sejauh apa pun mereka melangkah dari rumah.
Ikuti Terus Update Topik Khusus dari Jateng Data
Dapatkan update pilihan langsung di perangkat Anda.