Gumregut Nyawiji: Meracik Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah untuk Menekan Laju Kemiskinan

20 Agustus 2026, 17:45 WIB • 4 menit baca
Ilustrasi vektor infografis Hari Jadi ke-81 Jateng, menampilkan pria batik memegang tablet grafik pertumbuhan, dikelilingi tumpukan koin emas, panah menanjak, pabrik, dan bangunan ikonik. Teks panel kiri: "Hari Jadi ke-81 Jateng: Ekonomi Tumbuh, Kemiskinan Menurun" dengan data pertumbuhan 5,80%, investasi Rp 48,54 T, dan pengurangan kemiskinan 59.390 orang.
Infografis Hari Jadi ke-81 Jateng: Menyoroti pertumbuhan ekonomi 5,80% dan penurunan kemiskinan 59.390 orang pada Semester I-2026. (Sumber: Jatengdata.com)

SEMARANG, Jatengdata.com –Di tengah pusaran ketidakpastian perdagangan internasional dan tekanan geopolitik, Provinsi Jawa Tengah justru memperlihatkan resiliensi yang kokoh. Memasuki perayaan Hari Jadi ke-81, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mencetak angka impresif sebesar 5,80 persen secara kumulatif pada Semester I-2026. Laju ekspansi ini berhasil melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, capaian ini tidak sekadar menjadi deretan angka di atas kertas. Kinerja positif tersebut beriringan langsung dengan penurunan angka kemiskinan, peningkatan arus investasi, dan penyerapan ratusan ribu tenaga kerja baru.

Keberhasilan menggerakkan roda perekonomian sejatinya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dampak nyata dari tren positif ini tercermin kuat dari merosotnya jumlah penduduk miskin di wilayah tersebut.

Berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, total penduduk miskin pada periode Maret 2026 menyusut menjadi 3,29 juta orang, atau setara dengan 9,21 persen dari total populasi.

Tren penurunan ini menunjukkan grafik yang sangat konsisten. BPS mencatat penurunan sebanyak 59.390 jiwa jika membandingkannya dengan kondisi pada September 2025 yang saat itu menyentuh 9,39 persen. Lebih jauh lagi, apabila ditarik garis perbandingan year-on-year dari Maret 2025 (9,48 persen), jumlah penduduk miskin sukses ditekan hingga berkurang 81.250 orang.

Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, memvalidasi bahwa penyusutan tingkat kemiskinan ini merupakan indikator kuat adanya perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

“Kontribusi Jawa Tengah terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen atau sebesar 8,19 persen terhadap perekonomian nasional. Hal tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai kontributor perekonomian terbesar keempat secara nasional,” ungkap Ali dalam sebuah konferensi pers daring pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Infografis analitis Rapor Biru Ekonomi Jateng 2026 yang menampilkan angka capaian pertumbuhan ekonomi makro Semester I sebesar 5,80 persen dan kontribusi PDB Jawa 14,50 persen, serta indikator kesejahteraan sosial dengan 81.250 jiwa berhasil keluar dari kemiskinan (tingkat kemiskinan 9,21 persen).
Infografis capaian makro ekonomi dan kesejahteraan sosial Provinsi Jawa Tengah pada Semester I-2026. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,80 persen berhasil melampaui rata-rata nasional dan berdampak langsung pada tren penyusutan jumlah penduduk miskin secara year-on-year. (Sumber data: BPS Jawa Tengah / Olahan visual: jatengdata.com)

Magnet Investasi dan Penyerapan Tenaga Kerja

Faktor pendorong utama yang membuat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah terus berakselerasi adalah iklim investasi yang kondusif. Geliat ekonomi ini tecermin dari realisasi investasi pada Semester I-2026 yang menembus angka Rp 48,54 triliun. Arus modal raksasa tersebut mengalir ke dalam 55.989 proyek yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.

Kehadiran modal ini memicu efek ganda (multiplier effect) yang luar biasa. Proyek-proyek tersebut berhasil menyerap tenaga kerja hingga mencapai 213.217 orang. Fakta ini memperlihatkan bahwa aktivitas investasi tidak hanya mendongkrak angka produk domestik regional bruto, tetapi juga sukses mendistribusikan kesempatan kerja secara merata kepada masyarakat.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, merinci aliran dana tersebut. Ia menjelaskan bahwa realisasi investasi bermula dari Rp 23,02 triliun pada triwulan pertama, kemudian melonjak menjadi Rp 25,53 triliun pada triwulan kedua.

“Alhamdulillah, di tengah kondisi geopolitik yang tidak baik-baik saja, Jawa Tengah tetap bertambah dan bertumbuh 10,88 persen dari triwulan pertama,” jelas Sakina pada Rabu, 29 Juli 2026.

Dominasi investasi ini rupanya dikendalikan oleh penanaman modal asing (PMA) yang menyumbang Rp 25,92 triliun atau 53,40 persen. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mengekor ketat dengan capaian Rp 22,62 triliun atau 46,60 persen.

Untuk menjaga momentum emas ini, pemerintah provinsi aktif mendorong seluruh daerah agar terus mengembangkan kawasan industri terpadu. Langkah strategis ini bertujuan memperkuat dukungan infrastruktur sekaligus menggaransi kemudahan berbisnis bagi para penanam modal.

Infografis komposisi dan tren pertumbuhan investasi Jawa Tengah Semester I-2026, menampilkan total realisasi Rp 48,54 triliun dengan dominasi PMA 53,40 persen, pertumbuhan triwulanan 10,88 persen, serta dampak efek ganda berupa penyerapan 213.217 tenaga kerja dari 55.989 proyek.
Peta arus investasi Provinsi Jawa Tengah pada Semester I-2026 mencatatkan total realisasi Rp 48,54 triliun. Iklim investasi yang kondusif ini menciptakan efek ganda (multiplier effect) yang sukses menyerap 213.217 tenaga kerja baru dan mendorong tren pertumbuhan positif antartriwulan. (Sumber data: DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah / Olahan visual: jatengdata.com)

Pemerintahan Kolaboratif sebagai Kunci Nyawiji

Merawat ketahanan ekonomi sebuah wilayah seluas Jawa Tengah tentu membutuhkan orkestrasi yang matang. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyadari betul bahwa capaian pembangunan tidak mungkin dikerjakan oleh pemerintah seorang diri. Ia meyakini bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci absolut untuk memastikan pembangunan benar-benar mengalirkan dampak nyata.

“Maka kita punya semangat collaborative government (pemerintahan kolaboratif), karena kita tidak bisa sendiri-sendiri,” tegas Luthfi menggarisbawahi visinya.

Luthfi memandang dinamika pembangunan di 35 kabupaten dan kota menuntut kehadiran sebuah tim yang solid. “Gubernur bukan superman, melainkan harus menggunakan super team dalam rangka melakukan pembangunan di wilayah kita. Provinsi (Jateng) dengan 35 kabupaten/kota dan segala aspek yang ada, (maka) collaborative government harus kita ciptakan,” instruksinya lugas.

Ia secara terbuka mengajak para bupati, wali kota, tokoh agama, pelaku usaha, hingga media untuk mengambil peran aktif.

Visi besar Luthfi ini terefleksi sempurna dalam tema peringatan Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah, yaitu “Gumregut Nyawiji”. Tema ini merangkum pesan mendalam tentang semangat bergerak bersama dan bergotong royong.

Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menilai tagline tersebut adalah pijakan utama kebersamaan masyarakat. “Semangatnya adalah bareng-bareng membangun Jawa Tengah. Ini selaras dengan arahan Pak Gubernur, bahwa kita harus berkolaborasi dengan semua pihak,” terang Sumarno.

Pada akhirnya, di tengah gempuran krisis global, memelihara pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah menuntut komitmen kolektif. Gumregut Nyawiji kini bukan lagi sekadar slogan perayaan tahunan. Frasa tersebut telah bermetamorfosis menjadi ruh pergerakan untuk memastikan setiap rupiah investasi dan setiap kebijakan ekonomi senantiasa bermuara pada satu tujuan luhur: kesejahteraan rakyat.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Update Topik Khusus dari Jateng Data

Dapatkan update pilihan langsung di perangkat Anda.