Rilis BMKG Terbaru: Kapan Musim Kemarau 2026 Jateng Tiba Sepenuhnya?
SEMARANG, Jatengdata.com – Data terbaru Stasiun Klimatologi BMKG mencatat perbedaan signifikan terkait datangnya musim kemarau di Jawa Tengah tahun ini. Meski wilayah seperti Karimunjawa sudah memasukinya pada awal April, sebagian Banyumas dan Kebumen baru akan mengalaminya pada pertengahan Juni mendatang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga agar tetap waspada terhadap anomali cuaca selama masa pancaroba. Meskipun sebagian pesisir utara telah menyambut musim kering, potensi hujan lebat April nyatanya masih sangat membayangi. Fenomena ini muncul akibat dinamika atmosfer yang masih labil di tengah pergeseran musim.
“Awal musim kemarau di wilayah Jawa Tengah umumnya diperkirakan terjadi pada Mei 2026,” ujar Goeroeh Tjiptanto, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, mengonfirmasi data tersebut melalui rilis resmi pada Selasa (21/4/2026) via laman Kompas.com.

Data Sebaran Musim Kemarau 2026 Jateng
Berdasarkan analisis Zona Musim (ZOM), BMKG memprediksi 66,7 persen wilayah Jawa Tengah baru memasuki musim kemarau pada bulan Mei. Cakupan wilayah ini meliputi Kabupaten Cilacap, Magelang, Boyolali, Grobogan, Klaten, hingga Kota Semarang. Sebaliknya, wilayah Rembang dan sebagian Pati justru sudah memulai fase kemarau sejak dasarian pertama April 2026.
Di sisi lain, BMKG Pusat mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem pada Rabu (22/4/2026) pukul 09.30 WIB melalui portal bmkg.go.id. Peringatan tersebut menyebutkan potensi sistem awan konvektif membawa hujan berintensitas sedang hingga lebat bersama kilat dan angin kencang. Akibatnya, wilayah seperti Purbalingga dan Boyolali menjadi titik utama yang perlu mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi singkat.
Antisipasi Dampak Puncak Kemarau
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau baru terjadi secara merata pada bulan Agustus 2026. Oleh karena itu, instansi pemerintah daerah harus segera merumuskan mitigasi terhadap sektor pertanian dan persediaan air bersih sejak dini. Langkah ini menjadi krusial karena BMKG memprediksi sifat hujan pada kemarau tahun ini berada di bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
Otoritas cuaca juga mengimbau masyarakat untuk rutin memantau pembaruan prakiraan cuaca harian. Langkah mitigasi ini sangat penting guna menghindari risiko saat masyarakat beraktivitas di luar ruangan selama masa transisi. Pada akhirnya, kesiapan literasi data yang akurat menjadi kunci utama untuk meminimalisir kerugian akibat perubahan iklim.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.