Opini 5 menit baca

Makna “Satu Bangsa” di Era Gen Z

Makna “Satu Bangsa” di Era Gen Z
Asriyantie, pemerhati isu pendidikan, sosial, dan lingkungan, mengulas transformasi makna Sumpah Pemuda dan ikrar Satu Bangsa di era Gen Z dari ruang komunal fisik menuju solidaritas organik di ruang digital. (Foto: Dok. Istimewa)

Ikrar ‘Satu Bangsa’ yang lahir di Kramat Raya 106, Batavia pada tahun 1928, tidak pernah dirancang untuk menjadi monumen sejarah yang kaku. Di tangan Gen Z hari ini, ikrar tersebut sedang mengalami transformasi perilaku dalam memaknai hidup berbangsa—sebuah pergeseran dari ruang-ruang komunal fisik menuju lanskap digital yang tak bertepi.

Sejak satu abad yang lalu para pemuda Indonesia dari berbagai daerah, suku, dan agama, telah memiliki kesadaran kolektif. Meski berbeda latar belakang, persamaan senasib menghadapi penjajah membuat mereka berkumpul dalam suatu Kongres Pemuda.

Kongres Pemuda I yang diselenggarakan di Batavia pada tahun 1926, mempertemukan pemuda dari berbagai daerah. Seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi, Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, hingga Jong Islamieten Bond untuk membangun rasa persatuan.

Dua tahun kemudian, Kongres Pemuda II digelar pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Kali ini berhasil melahirkan kesepakatan monumental: pengakuan atas tanah air, bangsa dan bahasa yang satu, yaitu Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Saat itu, Indonesia telah terbentuk sebagai bangsa mendahului negaranya. Hal ini selaras dengan catatan sejarah yang menyebutkan bahwa 28 Oktober 1928 merupakan hari lahirnya bangsa Indonesia.

Komunitas yang Dibayangkan

98 tahun telah berlalu, semangat persatuan dalam Sumpah Pemuda ini selalu diperingati dan dijadikan pembelajaran antargenerasi. Dalam hal konsep kebangsaan, Benedict Anderson menggambarkan bangsa sebagai “imagined community” (komunitas yang dibayangkan); sebuah kondisi di mana setiap individu merasa terhubung satu sama lain meskipun mereka tidak pernah bertemu. Konstruksi sosial ini diciptakan melalui media dan bahasa.

Oleh karena itu, bahasa Indonesia hadir sebagai alat pemersatu. Dengan adanya bahasa persatuan dan ikatan tanah air—tempat di mana budaya serta asal-usul seseorang terbentuk—di sanalah berdiri suatu bangsa.

Jika pada 28 Oktober 1928, ratusan pemuda dari berbagai penjuru Nusantara rela menempuh perjalanan laut berminggu-minggu demi bisa duduk di satu ruangan yang sama, di bawah intaian ketat polisi kolonial Belanda, dengan risiko karier dan nyawa untuk memperjuangkan persatuan, maka hari ini, 98 tahun kemudian, potret pergerakan itu telah berubah total. Generasi Z hari ini mewarisi nama “Indonesia” di dalam ruang mereka masing-masing, terisolasi oleh sekat algoritma gawai dan kenyamanan digital.

Fenomena ini sering kali memicu kritik dari generasi yang lebih tua. Anak muda zaman sekarang kerap dicap terlalu individualis, apatis, dan kurang memiliki rasa gotong royong karena jarang terlihat di pos ronda atau kerja bakti RT/RW. Namun, benarkah nasionalisme itu telah luntur?

Solidaritas Organik Digital

Zaman memang sudah berubah. Berbagai jurnal sosiologi lokal mengonfirmasi bahwa teknologi dan internet mengubah cara Gen Z berinteraksi. Anak muda saat ini lebih terbiasa memecahkan masalah atau mencari hiburan secara mandiri lewat gawai daripada melibatkan komunitas fisik di sekitarnya. Modernisasi, urbanisasi, dan industrialisasi menjadi faktor utama yang memicu meningkatnya praktik individualistik di seluruh dunia.

Jika ditinjau dari teori sosiologi Émile Durkheim mengenai pergeseran solidaritas mekanik ke organik, pemuda di generasi sebelumnya melihat gotong royong fisik (seperti kerja bakti) sebagai kewajiban sosial yang mutlak. Bagi Gen Z, gotong royong fisik yang kaku sering kali dianggap sebagai beban. Sementara fungsi-fungsi komunal tersebut kini banyak digantikan oleh layanan profesional—misalnya menggunakan jasa katering alih-alih rewang memasak bersama tetangga.

Dan jika kita melihat lebih dalam, yang terjadi sebenarnya bukanlah pengikisan nilai Sumpah Pemuda, melainkan sebuah transformasi perilaku dalam memaknai hidup berbangsa. Ruang siber telah menjadi medan juang baru.

Pemuda hari ini mungkin canggung bertegur sapa dengan tetangga sebelah rumah. Tetapi, mereka bisa dengan sangat militan menggalang dana miliaran rupiah dalam hitungan jam untuk korban bencana lintas pulau melalui platform crowdfunding.

Mereka mungkin absen dalam rapat warga. Tetapi, mereka berada di barisan terdepan dalam menandatangani petisi siber demi keadilan lingkungan dan sosial. Sekat geografis telah runtuh, digantikan oleh solidaritas organik berbasis komunitas minat.

Ikatan Emosional Satu Bangsa

Contoh konkret kebersamaan ini terlihat masif di media sosial. Masyarakat Indonesia kerap meluapkan kebanggaan kolektif. Hal tersebut dapat kita lihat misalnya saat Timnas Indonesia menjuarai ajang sepak bola senior FIFA ASEAN Cup 2026. Jutaan anak muda yang tidak saling kenal secara fisik, mendadak membanjiri kolom komentar dengan narasi kebanggaan yang sama, meramaikan tren video transisi kemenangan di Tiktok dan saling melempar apresiasi lintas wilayah. Hal ini membuktikan bahwa kemenangan segelintir orang dirasakan sebagai kemenangan seluruh bangsa.

Sebaliknya, ketika muncul berita negatif mengenai perilaku warga Indonesia di luar negeri, seperti kasus video viral WNI yang memperlihatkan aktivitas pelanggaran hukum dan norma di Jepang, publik serempak merasa malu dan mengecam tindakan tersebut karena dinilai merusak martabat negara. Keresahan ini adalah bukti bahwa ikatan emosional sebagai satu bangsa tetap ada.

Pada kenyataannya, konsistensi peringatan Hari Sumpah Pemuda hingga saat ini selalu menanamkan fondasi yang sama di setiap generasi. Yaitu selalu melihat kembali kepada akar diri bangsa berupa nilai-nilai luhur budaya serta kecintaan terhadap tanah air.

Kebudayaan, etika, tradisi, tata krama, serta semangat gotong royong diwariskan turun-temurun dan menjadi esensi dasar yang membentuk jati diri bangsa. Sedangkan cinta tanah air adalah perwujudan konkret dari rasa kasih sayang, kebanggaan, dan kesetiaan seseorang terhadap negara tempat ia berasal. Dengan mengenal akar diri tersebut maka nilai-nilai persatuan dan nasionalisme tidak akan mudah luntur oleh individualisme.

Menyeimbangkan Empati

Tantangan terbesar generasi digital hari ini bukanlah membuktikan nasionalisme mereka di media sosial, melainkan menghadapi ancaman slacktivism—sebuah aktivisme semu dimana seseorang merasa sudah berkontribusi bagi negara hanya dengan menekan tombol like, share, atau membubuhkan komentar kritis.

Ketika jempol selesai bersuara lewat donasi dan petisi online, kaki harus mulai melangkah ke ruang publik. Entah itu dengan bergabung dalam gerakan komunitas lokal, memungut sampah di taman kota, atau menyumbangkan keahlian digital untuk membantu UMKM di sekitar kita.

Pada akhirnya, kebersamaan dan gotong royong sebagai identitas bangsa yang telah mengakar sejak dulu tidak pernah hilang. Mereka tetap hidup, meski hadir dalam wujud yang terus berevolusi seiring pergantian zaman dan disrupsi teknologi.

Tugas kita hari ini bukan untuk meromantisasi gotong royong fisik masa lalu, melainkan menyeimbangkan empati di layar gawai dengan aksi nyata di atas tanah air yang sesungguhnya. Selamat Hari Sumpah Pemuda

Isi opini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Opini
Bagikan: