Jatuh Bangun Menaklukkan Puncak di Slamet Trail Run 2026
TEGAL, Jatengdata.com – Bertempat di kawasan wisata Guci hingga jalur puncak Gunung Slamet, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sebanyak 1.031 pelari beradu ketangguhan fisik dan mental dalam perhelatan Slamet Trail Run 2026 yang berlangsung pada 24–25 Oktober 2026. Sejak perlombaan dimulai pada tengah malam, para peserta langsung menantang dinginnya udara lereng gunung demi menuntaskan ajang prestisius penggerak sport tourism Jawa Tengah tersebut.
Satu kilometer menjelang puncak Gunung Slamet berubah menjadi ujian terberat bagi Devi, seorang pelari perempuan asal Tangerang. Ia harus menguras tenaga ekstra selama satu jam penuh hanya untuk melewati lintasan berpasir curam pada kategori 45K Ultra. Bahkan, langkah kakinya berkali-kali merosot jatuh sebelum sempat mencapai titik tertinggi.
Belum usai berjibaku menghadapi kemiringan medan, bongkahan batu yang meluncur dari atas tiba-tiba menghantam betisnya hingga terluka. “Jadi seperti kita naik 2 (langkah) turun 1 (langkah). Perosot lagi, naik lagi, turun lagi. Terus, kaki juga sempat kena bongkahan batu dari atas jadi agak sobek,” ceritanya, menggambarkan sulitnya jalur berpasir tersebut.
Kendati harus menahan perih akibat luka di betis, semangat Devi untuk menaklukkan tantangan Slamet Trail Run 2026 untuk kedua kalinya ini sama sekali tidak padam. Ia terus melangkah menyusuri lereng gunung hingga akhirnya sukses mencatatkan waktu tempuh sekitar 11 jam. Ketangguhan itu sekaligus mengantarkan dirinya menjadi pelari perempuan pertama yang menyentuh garis finis di kategori 45K.
Keramahan Warga dan Sensasi Kuliner Wisata Guci
Rasa lelah selama sebelas jam perjalanan seketika terbayar lunas saat Devi menuntaskan misi berat tersebut. “Slamet Trail Run 2026, keren abis,” katanya.
Lebih dari sekadar urusan menaklukkan puluhan kilometer lintasan ekstrem, keramahan penduduk lokal di sepanjang rute turut meninggalkan kesan hangat di hati Devi. Sejumlah warga desa di lereng gunung dengan tulus menyemangati para pelari, menyodorkan kudapan, hingga melontarkan ajakan jenaka yang mencairkan suasana.
“Ada yang ngajak mampir ke rumah juga. Nawarin makan, nawarin minum. Ada yang mau ngeboncengin juga,” ujarnya mengenang momen lucu itu.
Selepas melewati garis finis, Devi langsung bersiap memanjakan diri dengan berendam di pemandian air panas wisata Guci dan berburu hidangan khas Tegal. “Setiap kali saya pulang lari pasti coba wisata kuliner. Kita jalan-jalan, keliling-keliling di sini,” katanya.
Daya Pikat Atap Tertinggi di Slamet Trail Run 2026
Pesona keindahan jalur pendakian di Kabupaten Tegal itu juga memikat hati Iis, pelari asal Yogyakarta yang berlaga di kategori 25K Summit. Pengalaman mendaki Gunung Slamet pada masa lalu mendorong dirinya untuk kembali datang dan menjajal sensasi berlari lintas alam di jalur yang sama.
“Saya sudah pernah pernah muncak ke Slamet,. Apalagi via Guci itu emang bagus banget,” tuturnya.
Seusai menuntaskan lomba, Iis telah menyusun rencana untuk berkemah guna meresapi kesejukan alam lebih lama. Selain itu, ia juga aktif menggali informasi dari warga sekitar tempat penginapannya. Khususnya mengenai rekomendasi kuliner legendaris dan destinasi wisata di Tegal.
Sementara itu, Abdi Ramadan sengaja datang dari Kabupaten Cilacap demi menguji ketahanan mentalnya di kategori 25K. Reputasi gunung tertinggi di Jawa Tengah yang kerap wira-wiri di media sosial memicu adrenalinnya untuk menaklukkan rute tersebut.
“Kita di Slamet di atap tertinggi Jawa Tengah. Jadi saya rasa menarik dan sangat menantang,” katanya.
Dukungan Pemprov Perkuat Sport Tourism Jawa Tengah
Kemeriahan ajang lari lintas alam yang menghimpun 908 peserta umum dan 123 atlet Kejuaraan Daerah (Kejurda) Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Jawa Tengah ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah provinsi. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah sekaligus Ketua ALTI Jateng, Sumarno, hadir langsung mengibaskan bendera flag off untuk melepas peserta di lima kategori. Yakni mulai dari 45K Ultra, 25K Summit, 15K Forest, 7K Vertikal, hingga 5K Fun Run.
Tak sekadar membuka acara di garis start, Sumarno turut terjun langsung menjajal tanjakan beraspal pada kategori 5K. Ia mengenakan topi oranye, kaus biru tua bernomor dada M7161, serta sepatu lari kuning menyala. Ditemani tiga pendamping berseragam biru, Sumarno berlari santai menjaga ritme langkahnya menyusuri lintasan Guci.
Keikutsertaan orang nomor satu di jajaran birokrasi Pemprov Jateng ini mempertegas komitmen pemerintah dalam menjadikan sektor pariwisata dan ekonomi syariah sebagai program unggulan tahun 2027. “Dan nanti minta dukungan dari teman-teman pengurus ALTI Jawa Tengah untuk kita bersama-sama memajukan trail run ini juga menjadi bagian dari kegiatan sport tourism di Jawa Tengah,” kata Sumarno.
Melalui kolaborasi erat antara penyelenggara olahraga ekstrem dan pengelola destinasi daerah, ajang tahunan ini mampu menggerakkan roda perekonomian warga lokal secara nyata. “Ini juga menjadi bagian kita untuk men-support peningkatan pariwisata di Jawa Tengah,” imbuh Ketua ALTI Jateng itu.
Jejak langkah ribuan pelari di Slamet Trail Run 2026 membuktikan bahwa ganasnya medan Gunung Slamet selalu menyimpan ruang bagi kehangatan manusia dan keindahan alam. Sinergi antara ketangguhan atlet, senyum tulus warga di kawasan wisata Guci, serta komitmen pemerintah terhadap sport tourism Jawa Tengah kini menjadi energi baru untuk membawa pariwisata daerah berlari lebih jauh.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.