9.000 Orang Padati Jambore Nasional Onthelis di Kota Lama Semarang

18 Oktober 2026, 11:08 WIB • 4 menit baca
Ribuan peserta Jambore Nasional Onthelis mengayuh sepeda kuno berhias atribut perjuangan di kawasan Kota Lama Semarang.
PARADE SEPEDA KUNO – Sejumlah peserta mengayuh sepeda tua hias dalam ajang Jambore Nasional Onthelis Onthelista Indonesia di kawasan Kota Lama Semarang, Ahad (18/10/2026). (Foto: Imam Abu Maulana).

SEMARANG, Jatengdata.com – Sekitar 9.000 orang memadati Jalan Empu Tantular dan Jalan Sleko di kawasan Kota Lama Semarang pada Ahad (18/10/2026). Keramaian yang mencakup sekitar 6.000 peserta dari 16 provinsi dan 3.000 penonton ini menyemarakkan Jambore Nasional Onthelis Onthelista Indonesia. Ajang bersepeda kuno tersebut menghadirkan suasana nostalgia sekaligus memperkuat daya tarik wisata Kota Semarang.

Panitia memulai rangkaian acara pada pukul 08.30 WIB dengan menghadirkan komunitas sepeda kuno dan unik dari berbagai daerah di Indonesia. Para peserta datang dari wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga berbagai kota di Pulau Jawa. Wali Kota Semarang Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti secara resmi melepas ribuan peserta onthelis. Mereka menempuh rute sepanjang sekitar sembilan kilometer dengan titik awal dan garis finis di Taman Sleko.

Besarnya jumlah peserta dan penonton memperlihatkan bahwa sepeda kuno bukan sekadar kendaraan masa lalu. Di tangan komunitas Onthelista, sepeda lawas menjelma menjadi daya tarik yang menyatukan masyarakat dan menghidupkan ruang publik. Selain itu, perhelatan ini sukses mendatangkan ribuan wisatawan ke Ibu Kota Jawa Tengah.

Parade Kostum Lintas Zaman

Ketua panitia, Riyan Mandaki, saat berbincang dengan wartawan Jatengdata.com mengatakan bahwa Jambore Nasional Onthelis tersebut menjadi ajang berkumpulnya komunitas onthelis dari berbagai penjuru Tanah Air. Para peserta tidak hanya membawa sepeda dengan bentuk dan ciri khas masing-masing, tetapi juga mengusung semangat persaudaraan serta kecintaan terhadap warisan masa lalu. Rombongan pesepeda menyusuri rute Taman Sleko, Jalan Pemuda, kawasan Lawang Sewu, Jalan Pandanaran, Jalan Mataram, dan kawasan Johar sebelum kembali menuju Taman Sleko.

Sepanjang perjalanan, penampilan peserta yang beragam dan penuh warna langsung menarik perhatian warga. Sejumlah peserta mengenakan kostum Punokawan, penari gedruk, sinder era kolonial, dan Walisongo. Adapuna yang berkostum bak bangsawan Eropa, gaya koboi Barat, hingga pakaian khas suku Papua. Perpaduan sepeda klasik dengan kostum lintas zaman ini menciptakan suasana meriah sekaligus memberikan hiburan gratis bagi masyarakat di sekitar kawasan Kota Lama Semarang.

Melihat antusiasme tersebut, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengajak masyarakat menyambut seluruh peserta dengan ramah. Apabila ada warga yang ingin berfoto bersama peserta, ia mempersilakan mereka melayani permintaan itu dengan baik sebagai bagian dari keramahan tuan rumah.

Kehadiran peserta dari Lampung, Bengkulu, Banjarmasin, dan Palembang yang bersedia menempuh perjalanan darat menuju Semarang juga menarik perhatian khusus. Hal ini membuktikan besarnya antusiasme komunitas untuk mengikuti jambore sekaligus mengunjungi Kota Semarang.

Semarang Kembali Jadi Tuan Rumah Tahun Depan

Dalam sambutannya, Agustina menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah membawa nama Semarang ke tingkat nasional. Ia turut mengucapkan terima kasih atas kepercayaan komunitas onthelis yang menjadikan Semarang sebagai tuan rumah kegiatan tersebut.

Menurutnya, penyelenggara kembali mengarahkan pelaksanaan jambore tahun depan ke Semaran. Sebelumnya mereka merencanakan agenda itu berlangsung di Bali. Keputusan tersebut membuka peluang bagi kota ini untuk terus memperkuat daya tariknya sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan berskala nasional.

Pada kesempatan itu, Agustina juga menyinggung kegiatan olahraga masyarakat yang berjalan bersama Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Semarang, termasuk perlombaan permainan tradisional seperti egrang dan permainan anak-anak. Semangat melestarikan kegiatan klasik dan permainan tradisional ini sejalan dengan upaya pemerintah kota membangun kehidupan masyarakat yang aktif, kreatif, serta tetap menghargai budaya.

Di balik kemeriahan jambore, perhelatan ini menyimpan peluang ekonomi yang tidak kecil bagi warga. Ribuan peserta dan pengunjung berpotensi menggerakkan berbagai sektor, mulai dari hotel, transportasi, kuliner, jasa perjalanan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Agustina menegaskan bahwa kunjungan wisata memberikan dampak nyata terhadap perekonomian kota. Tercatat, kunjungan wisata ke Kota Semarang mencapai sekitar dua juta kunjungan hingga Desember 2025.

Dukungan Lintas Sektor Perkuat Daya Tarik Wisata

Oleh karena itu, kegiatan berskala nasional seperti Jambore Onthelista memiliki arti penting bagi daerah. Keramaian acara tidak cukup hanya menjadi tontonan sehari, tetapi perlu menjadi pintu masuk agar pengunjung mengenal lebih jauh kekayaan sejarah, budaya, kuliner, dan destinasi wisata Kota Semarang. Pemerintah kota juga melihat peluang untuk mengembangkan ruang atau kawasan bernuansa jadul sebagai daya tarik tambahan bagi masyarakat dan wisatawan.

Kehadiran jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, anggota DPRD Kota Semarang, serta perwakilan perangkat daerah terkait menunjukkan dukungan kuat terhadap kegiatan ini. Sinergi lintas sektor tersebut memadukan unsur komunitas, olahraga masyarakat, budaya, dan pariwisata secara harmonis.

Penyelenggaraan Jambore Nasional Onthelis ini membuktikan bahwa potensi wisata tidak selalu harus bertumpu pada atraksi modern. Ternyata, sepeda kuno, kostum bersejarah, permainan tradisional, dan semangat komunitas pun mampu menciptakan pengalaman wisata yang berkesan.

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.