Minimalisasi Uang Tunai, UMKM di Pelosok Demak Kini Makin Praktis Pakai QRIS

5 September 2026, 23:31 WIB • 2 menit baca
Mahasiswa KKN menjelaskan panduan transaksi digital sambil memegang cetakan QRIS untuk UMKM kepada pedagang kedai Kuy Boba & Tea di Desa Tangkis, Demak.
Mahasiswa KKN MIT ke-22 Posko 82 UIN Walisongo mendampingi pemilik usaha Kuy Boba & Tea di Desa Tangkis, Kabupaten Demak, saat proses penyerahan dan edukasi penggunaan QRIS untuk UMKM. Pendampingan ini memastikan pelaku usaha memahami cara transaksi digital yang aman sekaligus meminimalisasi penggunaan uang tunai.

DEMAK, Jatengdata.com – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Tangkis, Kecamatan Guntur, mulai meminimalisasi penggunaan uang tunai dalam transaksi harian. Kehadiran Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS untuk UMKM kini menjadi solusi praktis bagi para pedagang kelontong hingga pemilik warung makan demi melayani kebiasaan baru konsumen yang menginginkan transaksi serba cepat dan digital.

Kehadiran kode pembayaran di meja kasir membuat operasional usaha desa semakin efisien sekaligus melengkapi metode konvensional. Konsumen mendapat alternatif pembayaran yang lebih modern. Di samping itu, pemilik usaha juga bisa menerima dana secara presisi tanpa harus selalu pusing menyediakan uang pecahan untuk kembalian.

“Alhamdulillah, terima kasih ya, Dek, sudah dibantu. Ini jadi lebih mudah pembayarannya,” ungkap pemilik usaha Mie Ayam Bakso Kinan Desa Tangkis.

Mendorong Ekosistem Bisnis yang Adaptif

Kalangan akademisi rupanya turut mendorong perluasan opsi pembayaran di desa ini. Mahasiswa KKN MIT ke-22 Posko 82 UIN Walisongo Semarang terjun langsung memfasilitasi penerapan QRIS untuk UMKM sejak Jumat hingga Minggu (28-30/8/2026). Tim mendatangi belasan merchant secara door-to-door untuk mengawal kesiapan infrastruktur digital tersebut dari proses pendaftaran hingga beroperasi penuh.

Sebagian pedagang sebenarnya menaruh minat besar pada pembaruan sistem kasir mereka agar lebih adaptif. Akan tetapi, mereka menghadapi kendala akses informasi dan teknis pendaftaran sistem pembayaran baru tersebut.

“Saya sebenarnya ingin membuat seperti ini, tapi masih belum tahu caranya. Terima kasih sudah dibantu, ya,” ujar mbak Ayu satu pemilik usaha Kuy Boba & Tea di Desa Tangkis.

Benteng Keamanan dari Modus Penipuan

Penerapan alternatif teknologi finansial tentu menuntut peningkatan literasi, khususnya tentang keamanan siber. Mahasiswa membekali para pedagang dengan panduan khusus mengenai mitigasi penipuan transaksi digital.

Tim menginstruksikan para penjual agar selalu memeriksa mutasi saldo sebelum menyerahkan pesanan kepada pembeli. Edukasi ini mencegah pedagang sekadar mempercayai tangkapan layar bukti transfer yang pelanggan tunjukkan.

“Saya ingin edukasi yang diberikan tidak hanya sebatas membantu pembuatan QRIS, tetapi juga memastikan pemilik usaha memahami cara bertransaksi dengan aman, termasuk mengenali bukti pembayaran palsu dan berbagai modus penipuan QRIS,” ujar Salsabila Atiq Khoirunnisa, penanggung jawab program KKN MIT-22 Posko 82.

Langkah taktis para pedagang Desa Tangkis ini menjadi indikator positif bagi resiliensi ekonomi daerah. Penerapan QRIS untuk UMKM membuktikan bahwa modernisasi sistem keuangan sukses menembus akar rumput ketika penyelenggara program menyesuaikan edukasi dengan kapasitas nyata pelaku usaha kecil.

Kontributor: KKN MIT-22 Posko 82 UIN Walisongo Semarang Posko 5
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.