Tak Rela Kehilangan Pembeli, Warung Kecil di Kendal Kini Melek QRIS

22 Agustus 2026, 15:31 WIB • 2 menit baca
Dua mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang mendampingi pelaku UMKM memegang cetakan barcode QRIS untuk warung kecil di Desa Putatgede Kendal.
AKSI NYATA DIGITALISASI: Mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Posko 211 menyerahkan cetakan fisik barcode QRIS kepada pemilik warung di Desa Putatgede, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal. Pendampingan ini memberdayakan UMKM lokal agar siap menerima pembayaran cashless dan mencegah hilangnya pelanggan.

KENDAL, Jatengdata.com – Fenomena kehilangan pelanggan akibat ketiadaan uang tunai kini tak lagi menghantui pelaku UMKM di Desa Putatgede, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal. Pelanggan kini mudah menemukan warung-warung kecil yang semula ‘gaib’ di Google Maps. Hal ini seiring kemampuan para pedagang melayani transaksi digital berkat intervensi teknologi tepat guna.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terprogram (MIT) UIN Walisongo Semarang Posko 211 memotori perubahan ini melalui aksi nyata pada Rabu (19/08/2026). Mereka langsung turun tangan mengedukasi sekaligus mengeksekusi pembuatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan pemetaan digital bagi para pedagang.

Langkah taktis ini juga menjadi solusi strategis mahasiswa untuk menjaring pelaku UMKM yang selama ini luput dari pendataan Dinas Koperasi dan UKM (Diskop) setempat.

Menjemput Bola, Menyelamatkan Transaksi

Tim mahasiswa mengawali proses digitalisasi ini dengan mendata sejumlah tempat usaha secara door-to-door yang belum memiliki akses pembayaran digital. Mereka menempuh cara ini agar program pendampingan teknologi benar-benar menyentuh masyarakat bawah yang paling membutuhkan akses transformasi bisnis.

“Untuk data program digitalisasi UMKM ini membutuhkan upaya untuk mendatangi beberapa tempat usaha yang ada di wilayah Putatgede. Hal ini untuk memastikan program digitalisasi dengan pembuatan QRIS dan Mapping tepat sasaran,” ujar Koordinator Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 211, Alif Maulana.

Para mahasiswa mengawal pendampingan QRIS untuk warung kecil ini secara menyeluruh dari awal hingga tuntas. Mereka membantu pedagang mengunduh aplikasi, mengisi data, memverifikasi sistem, hingga mencetak wujud fisik QRIS agar pedagang siap memajangnya di etalase warung.

Sementara untuk pemetaan lokasi, tim mahasiswa membimbing pedagang mendaftar di aplikasi Google Maps. Mereka pastikan para pedagang dapat memublikasikan titik koordinat usaha secara daring.

Solusi Praktis Cegah Gagal Beli

Para pedagang langsung merasakan manfaat kehadiran opsi pembayaran cashless ini. Sebelumnya banyak yang kehilangan potensi pendapatan karena calon pembeli, terutama anak muda, hanya membawa saldo di smartphone.

Kadur, salah satu pelaku UMKM di Desa Putatgede, mengaku sangat bersyukur karena terobosan teknologi ini kini melengkapi warungnya.

“Dengan pendampingan pembuatan QRIS ini memudahkan pembeli yang tidak membawa uang tunai, dapat melakukan pembayaran melalui HP,” ungkap Pak Kadur.

Tim KKN berharap program pendampingan QRIS untuk warung kecil ini mampu mengikis kesenjangan teknologi antara masyarakat urban dan pedesaan. Transformasi digital terbukti bukan hanya milik pengusaha bermodal besar, melainkan juga hak pedagang kecil untuk terus bertahan dan meluaskan jangkauan pasar mereka di era modern.

Kontributor: KKN UIN Walisongo Semarang Posko 211
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.