Opini 6 menit baca

Fenomena Rocky Gerung: Kritik Politik, Etika Bahasa, dan Ujian Kedewasaan Demokrasi

Diryo Suparto

Pengamat Politik Senior , Dosen FISIP UPS Tegal, Direktur Pusat Studi Politik dan Kebijakan Publik (PSPK) Jawa Tengah

Fenomena Rocky Gerung: Kritik Politik, Etika Bahasa, dan Ujian Kedewasaan Demokrasi
Ilustrasi Pengamat Politik dan Dosen FISIP, Diryo Suparto, dalam rubrik opini yang mengulas dinamika hukum dan politik terkait Kasus Sudewo di Kabupaten Pati.

Membaca kritik politik bukan hanya dari keberaniannya menantang kekuasaan,
melainkan juga dari kemampuannya memperbaiki mutu percakapan publik.

Melihat Fenomena dari Cermin yang Berbeda

Fenomena Rocky Gerung sering dipandang melalui dua lensa yang berlawanan. Bagi sebagian
orang, ia adalah suara akal sehat yang berani menantang kekuasaan. Sebagian lainnya memandang ia sebagai figur provokatif yang memperkeruh percakapan politik.. Pertanyaan yang
lebih penting bukan apakah Rocky harus dipuja atau ditolak, melainkan apa yang diungkapkan
kehadirannya tentang mutu demokrasi dan ruang publik Indonesia.

Dari perspektif ini, Rocky bukan semata-mata tokoh oposisi ekstraparlementer maupun
produsen kontroversi. Ia adalah gejala ekosistem politik yang belum mampu mempertemukan
kritik politik yang tajam dengan jawaban substantif. Ketika masyarakat menganggap parlemen kurang efektif mengawasi, mereka mencari figur alternatif.. Namun, jika kritik lebih mudah beredar
sebagai potongan video, diksi keras, dan pertentangan personal, ruang publik dapat kehilangan
kedalamannya.

Karena itu, fenomena ini sebaiknya dibaca sebagai cermin dua arah. Satu sisi memantulkan
kebutuhan masyarakat terhadap oposisi yang berani. Sisi lainnya memperlihatkan kelemahan
budaya deliberasi kita: masyarakat masih terlalu sering mengukur perdebatan politik dari siapa yang paling keras berbicara, bukan siapa yang paling kuat membuktikan argumennya.

Kritik adalah Hak, Bahasa adalah Tanggung Jawab

Dalam negara demokratis, kritik politik terhadap kekuasaan bukan gangguan terhadap
pemerintahan, melainkan bagian dari mekanisme koreksi. Pejabat publik memang harus
memiliki daya tahan lebih besar terhadap perbedaan pendapat, karena kebijakan mereka memengaruhi kehidupan warga. Pemerintah yang sehat tidak menjawab kritik dengan
pelabelan, intimidasi, atau serangan terhadap pribadi pengkritik. Ia menjawab dengan data,
penjelasan, dan perbaikan kebijakan.

Akan tetapi, kebebasan mengkritik tidak otomatis membebaskan pengkritik dari tanggung jawab
atas bahasa yang dipilihnya. Dalam demokrasi deliberatif, tujuan komunikasi politik bukan
hanya memenangkan perhatian, melainkan memungkinkan warga menguji alasan secara
rasional. Diksi yang sengaja mengejutkan dapat membuka telinga publik, tetapi ia juga dapat
menggeser pembicaraan dari isi kritik menuju pertengkaran mengenai kesopanan, penghinaan,
atau loyalitas politik.

Di sinilah ambivalensi gaya Rocky terlihat. Metafora dan kemampuannya membongkar
inkonsistensi memiliki nilai pedagogis; istilah filsafat dan logika masuk ke dalam percakapan
sehari-hari. Namun, ketika satu kata kontroversial lebih diingat daripada argumentasinya,
pendidikan politik dapat berubah menjadi pertunjukan verbal. Publik lebih sering menilai kritik dari daya ledaknya, bukan dari ketepatan diagnosis dan kelayakan jalan keluar.

Ketika Logika Bertemu Ekonomi Perhatian

Ruang digital bekerja dengan logika yang berbeda dengan ruang seminar. Platform media sosial
memberi penghargaan kepada konten yang memancing emosi, pertentangan, dan reaksi cepat.
Dalam ekonomi perhatian semacam ini, kalimat yang keras lebih mudah dipotong, disebarkan,
dan diperdebatkan daripada penjelasan yang panjang dan bernuansa. Figur dengan
kemampuan retorika tinggi akan memperoleh panggung besar, tetapi panggung itu sekaligus
mendorong penyederhanaan.

Karena itu, viralitas kritik politik tidak selalu identik dengan keberhasilan deliberasi. Sebuah
pernyataan dapat menjangkau jutaan orang, tetapi hanya mempertegas kubu yang sudah ada.
Pendukung memaknainya sebagai keberanian; penentang membacanya sebagai penghinaan.
Masing-masing membawa pulang pembenaran, sementara substansi kebijakan yang
dipersoalkan justru tertinggal di belakang.

Masalah ini bukan tanggung jawab Rocky seorang. Media, pembuat konten, pendukung
pemerintah, oposisi, dan publik terlibat dalam rantai produksi kontroversi. Media memilih judul
menarik, algoritma memperbesar konflik, elite memanfaatkan polarisasi, dan warga
membagikan cuplikan tanpa konteks. Fenomena Rocky Gerung juga perlu dipahami sebagai
perjumpaan antara kritik intelektual dan industri perhatian digital.

Risiko Personalisasi Oposisi

Ketika saluran oposisi formal melemah, munculnya figur publik yang konsisten melontarkan
kritik politik kepada pemerintah memang dapat mengisi kekosongan. Namun, demokrasi menjadi rapuh apabila fungsi kontrol terlalu bergantung pada satu atau beberapa tokoh.
Personalisasi oposisi menciptakan paradoks: masyarakat memperoleh simbol perlawanan yang
mudah dikenali, tetapi kapasitas kritik kolektif tidak otomatis bertumbuh.

Kritik yang sehat seharusnya melembaga di dalam parlemen, kampus, organisasi masyarakat
sipil, media, komunitas profesional, dan forum warga. Ia membutuhkan riset, akses data,
perlindungan hukum, serta jaringan advokasi yang mampu mengawal isu dari pernyataan awal
hingga perubahan kebijakan. Figur publik dapat menyalakan alarm, tetapi alarm tidak sama
dengan sistem pemadam kebakaran. Setelah kegaduhan muncul, tetap diperlukan institusi yang
memeriksa fakta, merumuskan alternatif, dan memastikan tindak lanjut.

Perspektif ini tidak mengecilkan kontribusi Rocky, tetapi menempatkannya pada ukuran yang
lebih demokratis. Nilai seorang intelektual publik bukan pada kemampuannya menggantikan
lembaga oposisi, melainkan pada keberhasilannya mendorong warga dan institusi berpikir
mandiri. Jika publik hanya menunggu satu figur mengartikulasikan kemarahan, oposisi berubah
menjadi ketergantungan simbolik.

Pemerintah Tidak Boleh Berlindung di Balik Etika

Pemerintah tidak boleh menjadikan penekanan pada etika bahasa sebagai alasan untuk menghindari substansi kritik. Kekuasaan memiliki sumber daya, kewenangan, dan akses informasi yang jauh
lebih besar daripada warga. Karena itu, beban utama untuk menjaga kualitas percakapan tetap
berada pada institusi publik. Pemerintah perlu membedakan kritik kebijakan, satir politik,
serangan pribadi, dan informasi palsu secara cermat. Pemerintah tidak boleh menyapu semuanya dengan satu label yang sama.

Respons yang proporsional adalah tanda kedewasaan. Jika kritik memuat kekeliruan,
pemerintah dapat menunjukkan data pembanding secara terbuka. Namun kalau kritik mengungkap
persoalan nyata, jawaban terbaik adalah koreksi kebijakan. Dan jika bahasa yang digunakan
dianggap melampaui batas hukum, prosesnya harus transparan, tidak selektif, dan tidak
menimbulkan kesan bahwa hukum menjadi perisai reputasi penguasa. Dalam demokrasi, legitimasi tidak tumbuh karena kekuasaan berhasil membungkam kritik, melainkan karena kekuasaan
mampu menjelaskan dan mempertanggungjawabkan tindakannya.

Sebaliknya, para pengkritik juga perlu menaikkan standar mereka sendiri. Kritik politik yang
dilengkapi bukti, konteks, dan alternatif kebijakan akan lebih sulit dipatahkan dengan tuduhan
provokasi. Ketajaman bahasa tetap dapat dipertahankan tanpa menutup pintu dialog. Perbedaan
antara keberanian dan kecerobohan terletak pada kesediaan untuk mempertanggungjawabkan
makna, data, serta akibat sosial dari setiap pernyataan.

Menuju Ruang Publik yang Lebih Dewasa

Fenomena Rocky Gerung memberi pelajaran bahwa demokrasi Indonesia membutuhkan lebih
dari sekadar kebebasan berbicara. Ia membutuhkan infrastruktur untuk mendengar,
memeriksa, dan menindaklanjuti. Parlemen harus memperkuat pengawasan berbasis bukti.
Pemerintah perlu menyediakan data yang mudah diakses dan forum konsultasi yang tidak
seremonial. Kampus harus menjaga kebebasan akademik sekaligus membangun tradisi
argumentasi yang disiplin. Media perlu memberi konteks, bukan hanya memperdagangkan
konflik. Warga pun perlu membedakan kritik yang mencerahkan dari konten yang semata-mata
memuaskan emosi politik.

Dalam kerangka tersebut, Rocky dapat dipandang sebagai alarm demokrasi, tetapi bukan satu-
satunya kompas demokrasi. Alarm berguna karena membangunkan orang dari rasa aman yang semu; kompas diperlukan agar masyarakat mengetahui ke mana harus bergerak setelah
terbangun. Kritik perlu mengungkap masalah, sementara deliberasi harus membantu
menemukan pilihan yang dapat diuji, dinegosiasikan, dan dilaksanakan.

Pada akhirnya, kita tidak mengukur kedewasaan politik dari seberapa cepat kita membela atau mengecam seorang tokoh.. Ia diukur dari kemampuan kita memisahkan pribadi dari argumen,
membedakan ketidaknyamanan dari ancaman, dan menerima bahwa kritik maupun pengkritik
sama-sama dapat diperiksa. Pemerintah tidak boleh kebal dari kritik; pengkritik juga tidak boleh
kebal dari kritik balik.

Demokrasi Membutuhkan Palu dan Jembatan

Kritik politik yang tajam dapat diibaratkan sebagai palu yang memecahkan dinding kebekuan.
Namun, demokrasi tidak dapat dibangun hanya dengan palu; ia juga memerlukan jembatan
yang menghubungkan perbedaan, data, dan kepentingan publik. Fenomena Rocky Gerung
penting bukan karena setiap ucapannya harus dibenarkan atau ditolak, melainkan karena ia
memaksa kita memeriksa kualitas hubungan antara kekuasaan, kritik, media, dan warga negara.

Jika pemerintah belajar menjawab kritik secara substantif, pengkritik menjaga ketajaman tanpa
kehilangan tanggung jawab, media memberi konteks, dan warga menilai argumen secara
mandiri, maka kontroversi dapat berubah menjadi pendidikan politik. Itulah perspektif yang
lebih produktif: tidak menjadikan seorang figur sebagai pusat demokrasi, melainkan
menggunakan fenomenanya untuk memperkuat institusi dan kedewasaan publik.

Isi opini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Opini
Bagikan: