Aturan Eropa Mengancam, Industri Hijau Jadi Senjata Jateng

24 Juli 2026, 11:44 WIB • 3 menit baca
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berpidato di podium dengan latar belakang layar Jateng Green Industrial Summit 2026 di Semarang, mendorong penerapan industri hijau.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara Jateng Green Industrial Summit 2026 di Semarang, Kamis (23/7/2026). Pemprov Jateng mewajibkan transformasi industri hijau sebagai langkah strategis menyelamatkan ekspor dan investasi daerah dari ancaman regulasi global. (Foto: Humas)

SEMARANG, Jatengdata.com – Desakan 41 negara Eropa yang mewajibkan produk rendah emisi karbon kini mengancam nasib miliaran dolar ekspor dari Jawa Tengah. Demi menyelamatkan rantai pasok global, seluruh pabrik di provinsi ini wajib melakukan transformasi besar-besaran menuju industri hijau.

Tuntutan perubahan standar perdagangan dunia memang bergerak sangat dinamis. Negara-negara maju kini mematok syarat ketat terkait produk rendah emisi karbon. Situasi ini langsung memicu Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, untuk bertindak cepat. Ia memandang adaptasi sigap memegang peranan kunci bagi kelangsungan bisnis daerah.

Pertemuan Luthfi dengan perwakilan 41 negara Uni Eropa di Solo membuktikan urgensi tersebut. Para delegasi asing itu menyoroti pentingnya rantai pasok barang yang ramah lingkungan.

“Mereka menyampaikan bahwa sustainability, industri hijau, dan energi baru terbarukan sekarang sudah menjadi kebutuhan,” ujarnya.

Menurutnya, transformasi tersebut bukan sekadar wacana masa depan. Pemprov Jateng menjadikan langkah perombakan ini sebagai kebutuhan paling mendesak agar produk lokal terus merajai pasar ekspor.

“Penerapan green economy dan green industry menjadi prioritas utama kita. Dunia internasional harus melihat, Jawa Tengah serius membangun industri yang berkelanjutan,” kata Ahmad Luthfi saat membuka Jateng Green Industrial Summit 2026 di Grand Candi Hotel, Semarang, Kamis malam (23/7/2026).

Benteng Regulasi dan Insentif Investasi

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tentu tidak membiarkan pelaku usaha berjuang sendirian. RPJMD 2025-2029 resmi memasukkan pengembangan ekosistem ramah lingkungan ke dalam prioritas. Pergub Jawa Tengah Nomor 26 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Fasilitasi Industri Hijau makin memperkuat landasan hukumnya.

Melalui payung hukum ini, pemerintah daerah menyiapkan beragam insentif khusus. Fasilitas tersebut menyasar kawasan perindustrian maupun perusahaan mandiri yang mulai memanfaatkan energi baru terbarukan. Pemprov mewajibkan perubahan ini menjangkau semua level bisnis, dari industri kecil hingga skala besar dengan melibatkan peran perguruan tinggi.

Forum Jateng Green Industrial Summit 2026 mewujudkan pergerakan nyata tersebut. Acara yang menggandeng Institute for Essential Services Reform (IESR) ini mengkonsolidasikan pemerintah, pelaku industri, hingga lembaga pembiayaan. Tujuannya sangat jelas, yakni mengakselerasi ekosistem industri hijau yang kuat di Jawa Tengah.

Strategi Mempertahankan Tren Ekspor

Langkah cepat ini sangat krusial jika melihat data ekonomi makro terkini. Kinerja ekspor Jawa Tengah justru sedang mencetak rapor yang sangat cemerlang. Sepanjang Januari hingga April 2026, nilai transaksi menembus USD 4,57 miliar, meroket 19,5 persen jika membandingkannya dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

CEO IESR, Fabby Tumiwa, membedah anatomi data ekonomi tersebut. Ia mencatat produk olahan manufaktur sangat mendominasi ekspor daerah ini. Pasar utamanya menyasar negara adidaya seperti Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Belanda, dan Korea Selatan.

“Ini menunjukkan ekspor Jawa Tengah ditopang sektor manufaktur, bukan komoditas mentah. Namun pasar ekspor kini semakin menuntut rantai pasok rendah emisi karbon, sehingga transformasi menuju industri hijau menjadi kebutuhan,” kata Fabby.

Untuk merealisasikan ekosistem tersebut, IESR terus mendampingi pemerintah daerah selama tiga tahun terakhir. Mereka aktif menyusun indeks kesiapan, melatih pemerintah kabupaten, hingga membentuk Industrial Assessment Centre. Pihaknya berharap penerapan industri hijau ini makin memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai tujuan investasi berkelanjutan yang berorientasi pada pasar global.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.