Opini 4 menit baca

Dampak Konversi Kawasan Konservasi Semarang Terhadap Risiko Bencana Hidrometeorologis

Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T.

Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T.

Ketua Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Islam Sultan Agung / UNISSULA

Dampak Konversi Kawasan Konservasi Semarang Terhadap Risiko Bencana Hidrometeorologis
Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T., Pakar Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) UNISSULA Semarang, menyoroti pentingnya tata ruang dan sabuk hijau sebagai solusi mitigasi cuaca panas Semarang

Hasil penelitian memperkirakan Kota Semarang akan mengalami penurunan luas kawasan konservasi yang signifikan di masa depan. Penyebab utamanya adalah konversi lahan yang terus meningkat di wilayah hulu seperti Gunungpati, Mijen, dan Ngaliyan (Kemdikbud, n.d.). Proyeksi perubahan penggunaan lahan menunjukkan bahwa hingga tahun 2034, luas lahan hutan dan kawasan konservasi Semarang akan berkurang sekitar 18.433 hektar. Sementara itu lahan terbangun akan meningkat secara drastis.

Penurunan ini mencerminkan tekanan pembangunan dan ekspansi kota yang semakin besar. Hal ini mengakibatkan daya dukung lingkungan Kota Semarang akan semakin menurun di masa mendatang.​

Perubahan penggunaan lahan di wilayah hulu berdampak langsung pada wilayah hilir. Fungsi resapan air dan pengendalian limpasan permukaan berkurang, menyebabkan risiko banjir dan bencana hidrometeorologis lainnya meningkat.

Penelitian di Sub DAS Beringin, yang mencakup wilayah Mijen, Ngaliyan, dan Tugu, menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan dari hutan dan kebun campuran menjadi kawasan industri dan pemukiman telah menyebabkan peningkatan erosi, lahan kritis, degradasi lahan, serta banjir di daerah hilir (Sukmawardhono & Nugroho, 2020). Pada periode 2015–2021, luas lahan terbangun di Kecamatan Mijen dan Ngaliyan bertambah menjadi 1.161 hektar. Sementara itu lahan terbuka berkurang menjadi 1.938 hektar.​

Dampak Berkurangnya Kawasan Konservasi Semarang

Berkurangnya kawasan konservasi Semarang di wilayah hulu berdampak langsung pada wilayah hilir. Fungsi resapan air berkurang, limpasan permukaan meningkat dan banjir lebih sering terjadi di wilayah hilir saat hujan lebat. Selain itu, berkurangnya vegetasi dan hutan juga menurunkan kapasitas pengendalian erosi dan konservasi air. Pada gilirannya hal tesebut meningkatkan risiko longsor di daerah perbukitan.​

Penurunan luas kawasan konservasi juga berdampak pada kualitas hidup masyarakat. Degradasi lahan di Semarang memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas pertanian dan kualitas hidup warga. Lokasinya terutama di wilayah pesisir yang mengalami konversi mangrove dan hutan kota (E-Journal IVET, 2024).

Kerusakan hutan mangrove di kawasan pesisir menyebabkan erosi pantai dan kerusakan pada area tambak produktif warga sekitar. MangroveTag (2025) merilis data, luasan hutan mangrove di Semarang yang kritis dan rusak telah mencapai 11 hektar (73,33%). Dari luas yang sudah minim tersebut hanya 4 hektar (26,67%) yang masih dalam kondisi baik.​

Konversi Lahan Tingkatkan Bencana

Dengan berkurangnya kawasan konservasi, wilayah hulu akan mengalami peningkatan risiko longsor dan kekeringan. Di sisi lain wilayah hilir lebih rentan terhadap banjir dan rob, terutama di kawasan pesisir yang juga mengalami konversi mangrove dan hutan kota. Data menunjukkan bahwa banjir besar di Semarang pada awal 2023 dan kerugian ekonomi akibat banjir rob mencapai miliaran rupiah, terutama di daerah dengan konversi lahan konservasi yang tinggi.​

Analisis temporal dari riset BRIN (2024) mengungkapkan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir terjadi penurunan luas tutupan lahan mangrove di pesisir Semarang, yang berkontribusi terhadap peningkatan kerentanan bencana banjir rob. Peningkatan risiko bencana ini juga dipengaruhi oleh penurunan tanah tiap tahun yang mencapai 5–10 cm. Hal ini akibat eksploitasi sumber daya alam, seperti penambangan galian C, yang menambah kompleksitas risiko bencana di wilayah Semarang.​

Pelestarian Ekosistem Kawasan Konservasi

Untuk mencegah bencana serupa di masa depan, diperlukan kebijakan tata ruang yang tegas, pemantauan berkala, serta partisipasi masyarakat dalam program konservasi (Jurnal Fakultas Sains dan Arsitektur, n.d.). Penguatan zona hijau permanen dan penegakan sanksi terhadap pembangunan ilegal di kawasan konservasi Semarang menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian ekosistem dan mencegah bencana di Semarang.​

Pemerintah Kota Semarang perlu memperkuat komitmen terhadap pelestarian kawasan konservasi melalui regulasi yang jelas dan implementasi yang efektif. Namun, hingga kini belum ada upaya yang serius dari Pemerintah Kota Semarang untuk melestarikannya, sehingga banyak bangunan yang tidak terawat, rusak, bahkan roboh dengan sendirinya. Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam upaya konservasi, baik melalui program edukasi maupun partisipasi aktif dalam pengelolaan kawasan hijau.​

Konversi lahan di kawasan konservasi Semarang akan terus mengurangi luasan kawasan hijau, memperburuk daya dukung lingkungan, dan meningkatkan risiko bencana banjir, longsor, serta kekeringan baik di wilayah hulu maupun hilir. Kebijakan dan pengawasan yang kuat sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan kota dan mencegah bencana hidrometeorologis yang semakin sering terjadi.​

Editor Opini: Agung S Bakti
Isi opini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Opini
Bagikan: