Opini 4 menit baca

Antara Tenggelam dan Tumbuh, Arah Baru Ekonomi Pesisir Jawa Tengah

Achid Shoimul Fajri

Achid Shoimul Fajri

Mahasiswa Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Islam Sultan Agung

Antara Tenggelam dan Tumbuh, Arah Baru Ekonomi Pesisir Jawa Tengah
Achid Shoimul Fajar, Mahasiswa Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UNISSULA.

Kawasan pantai utara kini menghadapi dua nasib yang saling bertolak belakang. Banjir rob Pantura dan penurunan muka tanah terus menenggelamkan wilayah ini secara harfiah. Namun, pemerintah daerah justru melihat peluang baru dari balik lumpur dan hutan bakau tersebut. Potensi karbon biru kini menjadi tumpuan harapan bagi masa depan ekonomi pesisir Jawa Tengah.

Pertanyaannya, apakah pemulihan ekologis akan menang melawan kerusakan yang makin masif?

Awal tahun 2026 menjadi alarm keras bagi kerentanan pesisir utara. Organisasi WALHI mencatat bencana banjir menerjang 13 kabupaten di Jawa Tengah pada awal tahun ini. Mayoritas bencana tersebut menghantam kawasan pantai utara secara langsung.

Sepanjang tahun 2023 hingga 2025, provinsi ini mencatat 146 kejadian banjir dan 126 longsor. Kerusakan daerah aliran sungai dan alih fungsi lahan memicu rentetan bencana alam ini.

Lebih lanjut, Jawa Tengah kehilangan tutupan hutan hingga 11.179 hektare dalam sepuluh tahun terakhir. Ironisnya, izin pertambangan yang beroperasi justru mencapai 14.033 hektare.

WALHI Jawa Tengah menilai kondisi ini sebagai ongkos mahal dari pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan. Akibatnya, masyarakat pesisir semakin kehilangan ruang hidup, sementara industri terus berekspansi.

Krisis ini bukan hal baru bagi warga Semarang. Mereka telah bertahun-tahun melawan rob permanen dan kerentanan tanah yang ekstrem. Menariknya, respons ekonomi kreatif justru muncul dari tingkat akar rumput di tengah krisis tersebut.

Contohnya, PLN Indonesia Power melalui unit pembangkitan Semarang membangun program rumah kaca energi (green house) di Tanjung Mas. Program ini sukses mendorong kemandirian pangan warga pesisir. Inisiatif ini menjadi langkah simbolis untuk menyokong ekonomi pesisir Pantura yang tetap produktif.

Potensi Karbon Biru Sebagai Penyelamat Fiskal

Perkembangan kebijakan fiskal kini menunjukkan tren yang sangat menjanjikan. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Jawa Tengah menyoroti peluang besar kawasan pesisir. Pemerintah provinsi mulai memperkuat ketahanan fiskal lewat program karbon biru. Langkah strategis ini berjalan selaras dengan mandat Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025.

Saat ini, Jawa Tengah memiliki potensi hutan mangrove sekitar 31 ribu hektare. Sekitar 14 ribu hektare dari area tersebut sangat berpeluang masuk ke dalam skema perdagangan karbon. Potensi karbon biru ini membuka sumber pendapatan asli daerah yang baru. Selain itu, skema ini bisa menekan anggaran belanja korektif untuk penanganan abrasi setiap tahunnya.

Cara pandang pemerintah kini mengalami pergeseran yang mendasar. Sebelumnya, lahan mangrove di Kendal, Demak, Pekalongan, hingga Batang sering dianggap tidak produktif. Lahan tersebut kerap beralih fungsi menjadi tambak atau kawasan industri. Kini, sisa mangrove tersebut justru menjadi benteng alami penahan abrasi sekaligus aset bernilai tinggi bagi ekonomi pesisir Jawa Tengah.

Dilema Industri dan Wisata Bahari Karimunjawa

Sayangnya, potensi lingkungan ini harus berbenturan dengan agenda pembangunan berskala masif. Kawasan Industri Batang dan Kendal terus berkembang pesat sebagai proyek strategis nasional. Ekspansi industri raksasa ini memunculkan dilema klasik dalam penataan ruang kawasan pesisir. Pemerintah harus memacu investasi tanpa mengorbankan ekologi yang kini memiliki nilai finansial tinggi dari pasar karbon.

Di sisi lain, Kepulauan Karimunjawa di Kabupaten Jepara menawarkan alternatif yang sangat menyegarkan. Kawasan ini sukses membangun kemandirian melalui wisata bahari Karimunjawa yang berkelanjutan. Masyarakat Desa Parang mulai memaksimalkan potensi wisata laut mereka secara mandiri. Mereka menawarkan aktivitas snorkeling, diving, hingga produk olahan lokal seperti kerupuk dan sirup jambu mete. Langkah ini membuktikan bahwa ekonomi pesisir tidak melulu bergantung pada industri ekstraktif.

Meskipun demikian, sektor pariwisata ini masih membutuhkan instrumen pendukung yang lebih memadai. Desa-desa tersebut belum memiliki standar sertifikasi kebersihan, keselamatan, dan sistem pendataan wisatawan yang baik.

Sementara itu, pemerintah provinsi juga tengah merintis jalur pelayaran dari Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap. Program ini bertujuan mendongkrak kesejahteraan pesisir selatan yang masih tertinggal dibandingkan kawasan utara.

Tiga Model Utama Penggerak Ekonomi Pesisir Jawa Tengah

Jawa Tengah saat ini sedang mempertaruhkan tiga model tata ruang secara bersamaan. Pertama, ekspansi ekonomi industri skala besar di kawasan Batang dan Kendal. Kedua, optimalisasi karbon biru berbasis konservasi mangrove di sepanjang Pantura. Ketiga, pengembangan wisata bahari berbasis komunitas di wilayah Karimunjawa dan pesisir selatan. Ketiga model ini harus bersaing merebut sumber daya di tengah ancaman kerusakan lingkungan.

Tantangan terbesarnya bukan sekadar mencari keuntungan perekonomian nasional semata. Pemerintah wajib memastikan model ekonomi ini memberi manfaat nyata bagi nelayan kecil dan petambak lokal. Masyarakat inilah yang selama belasan tahun gigih menjaga pesisir tetap lestari.

Jika mitigasi struktural gagal berjalan, ancaman tenggelamnya kawasan ini akan datang lebih cepat. Bencana tersebut bisa menyapu bersih semua janji manis ekonomi pesisir Jawa Tengah yang selama ini tertulis di atas kertas kebijakan.

Editor Opini: Agung S Bakti
Isi opini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Opini
Bagikan: