Opini 5 menit baca

Konservasi Pesisir Lasem: Menjaga Harmoni Ekologi dan Budaya “Tiongkok Kecil” Rembang

Achid Shoimul Fajri

Achid Shoimul Fajri

Mahasiswa Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Islam Sultan Agung

Konservasi Pesisir Lasem: Menjaga Harmoni Ekologi dan Budaya “Tiongkok Kecil” Rembang
Achid Shoimul Fajar, Mahasiswa Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UNISSULA.

Kawasan pesisir Lasem di Kabupaten Rembang menawarkan pesona alam lebih dari sekadar garis pantai. Keistimewaan ini membuat agenda konservasi pesisir Lasem sangat penting untuk menjaga kelestarian wilayah sepanjang 18 kilometer tersebut. Di sana, kita bisa menemukan benteng ekologis berupa hamparan hutan mangrove Rembang dan perairan terumbu karang.

Selain itu, kawasan ini memiliki akar sejarah budaya yang kuat sehingga mendapat julukan bergengsi “Tiongkok Kecil”. Namun, pesona cantik batik tulis dan kelenteng tua bergaya klasik ini rupanya menyimpan ancaman senyap.

Kerusakan lingkungan kini mempertaruhkan masa depan ekosistem sekaligus kesejahteraan ekonomi nelayan setempat. Oleh karena itu, langkah mitigasi dan pelestarian yang konkret menjadi agenda yang sangat mendesak untuk segera direalisasikan.

Ancaman Kerusakan Ekosistem Pesisir Lasem

Pesisir merupakan zona transisi yang sangat produktif sekaligus rentan. Masalah utama di perairan Lasem berakar dari paradoks pembangunan ekonomi jangka pendek. Banyak pihak sering mengejar keuntungan secara cepat tanpa memikirkan dampak lingkungan jangka panjang.

Akibatnya, mereka membiarkan berbagai aktivitas eksploitatif berlangsung liar tanpa kendali. Riset terbaru mengungkap fakta yang sangat mengkhawatirkan tentang kondisi alam perairan ini. Survei biofisik dan analisis citra satelit (2010–2023) menunjukkan degradasi masif pada ekosistem mangrove.

Saat ini, sekitar 78 persen ekosistem mangrove di Lasem mengalami kerusakan berat. Hanya tersisa 22 persen kawasan pelestarian alam yang masih bertahan dalam kondisi baik. Selain itu, fenomena kerusakan terumbu karang juga telah menimpa 72 persen wilayah perairan ini.

Ketimpangan tata lahan juga terlihat sangat nyata di lapangan. Lahan tambak intensif mendominasi hingga 30 persen tata ruang pesisir. Sebaliknya, kawasan hijau perlindungan alam justru menyusut drastis hingga tersisa 14 persen saja. Angka ini berada jauh di bawah standar target global minimum sebesar 30 persen.

Ancaman polusi industri juga semakin memperparah penderitaan lingkungan pesisir Lasem. Industri batik tulis kerap membuang limbah cair pewarna kimia tanpa proses pengolahan yang tepat. Limbah beracun ini mencemari estuari Sungai Babagan dan merusak 30 persen ekosistem sungai.

Polusi ini juga sangat mengancam kualitas air tambak masyarakat dan laut di sekitarnya. Nelayan lokal pun merasakan langsung dampak buruk dari degradasi habitat dan pencemaran ini. Mereka melaporkan penurunan drastis hasil tangkapan ikan hingga 60 persen dalam dua dekade terakhir.

Tantangan Tata Kelola dan Pengelolaan Kawasan Pesisir

Kerusakan lingkungan pesisir di Rembang terus berlanjut hingga detik ini. Padahal, pemerintah daerah sudah memiliki instrumen regulasi pelestarian yang tertulis rapi. Analisis indikator tata kelola pesisir (Coast Governance Index) menemukan tiga akar masalah kelembagaan.

Pertama, birokrasi mengalami kelemahan sangat signifikan dalam hal koordinasi antarsektor. Skor tata kelola pesisir Lasem sebelumnya hanya mampu mencapai angka 2,02 dari skala 5. Rendahnya skor ini terjadi akibat tingginya ego sektoral antar dinas pemerintah terkait.

Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas PUPR sering berjalan sendiri-sendiri. Mereka belum memiliki keselarasan tata ruang (spatial alignment) dalam satu peta perencanaan terpadu.

Kedua, pelaksana kebijakan menghadapi jurang pemisah (implementation gap) antara rencana dan penegakan hukum. Lemahnya pengawasan ini membuat petambak bermodal besar sangat mudah merambah wilayah lindung. Para pemodal ini biasanya memiliki pengaruh sosial-politik lokal yang cukup kuat.

Kondisi ini semakin memburuk akibat pendekatan hukum yang bersifat instruktif (top-down). Penyuluhan lingkungan yang kaku justru sering memicu resistensi dari masyarakat nelayan setempat. Padahal, masyarakat nelayan Lasem sebenarnya memiliki ikatan sosial komunal yang sangat erat.

Oleh karena itu, kita membutuhkan strategi pengelolaan kawasan pesisir yang lebih partisipatif. Pemerintah harus mulai menggunakan pendekatan dari bawah ke atas untuk merangkul seluruh warga secara humanis.

Solusi Konservasi dan Potensi Ekowisata Heritage Lasem

Penerapan konsep Integrated Coastal Zone Management (ICZM) menjadi jalan keluar paling ideal dari krisis ini. Pendekatan pengelolaan kawasan pesisir terpadu ini sepenuhnya melibatkan partisipasi dari komunitas lokal. ICZM menyatukan prinsip perlindungan alam, peningkatan ekonomi rakyat, dan penguatan penegakan regulasi hukum.

Riset aksi selama tiga tahun telah membuktikan keberhasilan nyata dari model pelestarian inovatif ini. Program ini tidak serta-merta melarang aktivitas tambak warga secara radikal. Sebaliknya, fasilitator mengajak petambak secara persuasif untuk beralih menggunakan sistem silvofishery.

Sistem ini menggabungkan praktik penanaman mangrove produktif dengan budi daya tambak ramah lingkungan. Hasilnya, masyarakat secara kolektif berhasil memulihkan kembali ekosistem mangrove seluas 680 hektare.

Pemulihan sabuk hijau ini menciptakan potensi ekonomi karbon hingga 1,4 juta dolar AS per tahun. Selain itu, produktivitas panen ikan bandeng dan udang menjadi jauh lebih sehat dan berkualitas. Sistem terpadu ini terbukti sukses mendongkrak pendapatan rata-rata nelayan lokal hingga 36 persen.

Pendapatan mereka kini meningkat tajam dari Rp1,65 juta menjadi Rp2,24 juta setiap bulannya. Pada saat yang sama, warga juga mulai cerdas mengembangkan paket ekowisata heritage Lasem. Paket wisata bertajuk “Pesisir-Heritage” ini menawarkan pengalaman liburan yang sangat unik dan berkesan.

Pengunjung bisa menikmati tur sejarah kelenteng kuno dan menyusuri kampung batik lama. Setelah itu, mereka akan melanjutkan perjalanan seru menjelajahi ekowisata mangrove wilayah Dasun. Kolaborasi inovatif ini pada akhirnya berhasil menaikkan tingkat kunjungan wisatawan sebesar 28 persen.

Masa Depan Kelestarian Pesisir Lasem

Kawasan pesisir Lasem di Rembang sempat mengalami masa kelam akibat degradasi ekosistem yang parah. Eksploitasi ekonomi berorientasi jangka pendek dan lemahnya koordinasi instansi menjadi penyebab utamanya. Namun, penerapan pendekatan ICZM berbasis komunitas kini telah hadir sebagai solusi terpadu yang efektif.

Inovasi silvofishery terbukti sukses mengembalikan kelestarian alam di lingkungan pesisir. Program pelestarian ini juga secara bersamaan berhasil memompa pendapatan ekonomi nelayan lokal. Pengembangan paket ekowisata heritage Lasem turut mendongkrak denyut nadi kunjungan wisata daerah.

Secara makro, pemerintah daerah kini berhasil meningkatkan skor koordinasi lintas dinas sebesar 94,7 persen. Pada akhirnya, peleburan rencana zonasi pesisir ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) akan mengunci semua keberhasilan ini. Kebijakan tata ruang yang tegas akan menjamin keberlanjutan masa depan konservasi pesisir Lasem.

Editor Opini: Agung S Bakti
Isi opini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Opini
Bagikan: