Demo di Semarang, Terungkap Kisah Driver Ojol Wanita Ngojek Sambil Momong

21 Mei 2026, 03:06 WIB • 3 menit baca
Demo di Semarang, Terungkap Kisah Driver Ojol Wanita Ngojek Sambil Momong
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berinteraksi langsung dan mendengarkan keluhan seorang pengemudi ojek online wanita (driver ojol) yang membawa anaknya saat memantau aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur, membahas tarif rendah dan penitipan anak (day care)

SEMARANG, Jatengdata.com – Jeritan ekonomi memaksa seorang ibu tiga anak mengendarai sepeda motor sambil mengasuh balitanya dari pagi hingga malam hari. Realita getir ini mencuat dalam aksi unjuk rasa pengemudi daring di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (20/5/2026), tepat ketika Ahmad Luthfi menyambangi para demonstran.

Kisah driver ojol wanita ini mencerminkan kerasnya perjuangan kaum ibu di jalanan. Sehari-hari, Ratna harus menyusuri Kota Semarang sejak pukul 05.30 WIB hingga 19.00 WIB. Ia tidak bekerja sendirian karena balitanya selalu menemani di atas motor. Tuntutan ekonomi memaksa ibu tiga anak ini memeras keringat belasan jam.

Kondisi keluarga menjadi alasan utama Ratna memilih jalan terjal tersebut. Suaminya saat ini sedang mengadu nasib sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

“Sekarang ngekos di daerah Lamper. Sudah lama jadi driver ojol, sejak tahun 2017 sampai sekarang,” ujar Ratna.

Fenomena driver ojol bawa anak ini terpaksa Ratna lakoni demi bertahan hidup. Ia sebenarnya tidak tega membiarkan buah hatinya terus-menerus terpapar debu jalanan. Oleh karena itu, ia sangat mendukung rencana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang ingin menyediakan fasilitas penitipan anak (daycare) khusus pekerja transportasi daring.

Infografis visual yang memaparkan realita getir beban ekonomi pengemudi ojek online wanita, jam kerja panjang, potongan aplikasi, dan tuntutan fasilitas daycare serta tarif adil kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Tentu saja, menyewa jasa pengasuh anak bukanlah pilihan yang masuk akal bagi Ratna. Penghasilan hariannya jauh dari kata cukup untuk menutupi biaya tambahan tersebut.

“Saya ngojek online sambil momong anak dari pagi sampai sore. Kalau mau ambil orang buat momong, nggak sanggup bayarnya,” ujar Ratna.

Tercekik Potongan Aplikasi Ojol

Beban hidup Ratna semakin berat akibat sistem komisi perusahaan yang amat merugikan. Ia mengaku mendapat sekitar 10 pesanan setiap hari dengan total nilai mencapai Rp70 ribu hingga Rp80 ribu. Namun, pendapatan bersih yang ia bawa pulang sangat memprihatinkan. Besarnya potongan aplikasi ojol membuat Ratna hanya menerima uang tunai sebesar Rp40 ribu sampai Rp50 ribu per hari.

Realita getir inilah yang memicu ratusan pengemudi turun ke jalan. Mereka menggelar demo ojol Semarang untuk menuntut keadilan tarif dan regulasi pelindungan. Menanggapi situasi tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi langsung merespons keluhan para pengunjuk rasa.

Gubernur bahkan berjanji akan mengawal tuntutan ini hingga ke tingkat kementerian di Jakarta. Pemerintah provinsi juga sudah mengirimkan surat resmi kepada Kementerian Perhubungan. Ke depannya, Luthfi berencana membawa langsung perwakilan pengemudi untuk berhadapan dengan Menteri Perhubungan.

“Kita sudah wadahi dan akan kawal terus. Persoalan ini tidak hanya di Jawa Tengah, tapi semua provinsi juga sama,” ujar Ahmad Luthfi.

Editor: Muhammad Raihan Dwi Azile Aziz
Sumber: Pemprov Jateng
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.