Opini 3 menit baca

Pentingnya Perencana Wilayah dan Kota yang Berintegritas

Dr. Ir. Slamet Riyadi Bisri  M.B.A.

Dr. Ir. Slamet Riyadi Bisri M.B.A.

Dosen Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Unissula

Pentingnya Perencana Wilayah dan Kota yang Berintegritas
Dr. Ir. Slamet Riyadi Bisri M.B.A., Dosen Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (MPWK) UNISSULA. Dalam opininya, ia menekankan pentingnya integritas ahli perencana dalam menyusun dokumen tata ruang dan RDTR untuk mewujudkan Smart City. (Ilustrasi: Istimewa/Redaksi)

Presiden Prabowo menegaskan pentingnya peran perencana wilayah dan kota untuk mendampingi para pimpinan daerah. Langkah kolaboratif ini bertujuan untuk menciptakan tata ruang wilayah yang ideal dan berkelanjutan.

Menyusun RDTR dengan Tim Multidisiplin

Pemerintah segera menyusun perencanaan wilayah secara besar-besaran di Indonesia. Proyek masif ini mencakup penyusunan 400 paket RDTR (Rencana Detail Tata Ruang). Program strategis tersebut menjabarkan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dari area yang jauh lebih luas. Oleh karena itu, pemerintah sangat membutuhkan tim kerja multidisiplin untuk merumuskan dokumen tata ruang ini.

Seorang perencana wilayah dan kota yang profesional wajib memimpin tim multidisiplin tersebut. Team leader ini harus memiliki sertifikat relevan dan rekam jejak yang mumpuni.

Sayangnya, tidak banyak tenaga profesional yang mampu memenuhi kualifikasi ketat ini. Mengutip pernyataan mantan Ketua Umum Ikatan Ahli Perencana (IAP), seorang pemimpin tata ruang wajib mengedepankan integritas dan profesionalisme.

Mewujudkan Smart City Melalui Tata Ruang Berkeadilan

Infografis Jatengdata berjudul Integritas Kunci Perencanaan Kota Masa Depan, merangkum 4 poin utama tata ruang: target 400 paket RDTR nasional, syarat pemimpin tim bersertifikat profesional, larangan manipulasi data AI, dan pencapaian visi smart city yang berkeadilan spasial.
Poin-poin krusial yang menjadi tantangan dan pegangan etika bagi Perencana Wilayah dan Kota dalam menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Integritas menjadi harga mati untuk mencegah manipulasi data AI demi mewujudkan Smart City yang berkeadilan. (Infografis: Dok. Jatengdata)

Keberhasilan dalam menyusun RDTR berkualitas akan menjadi acuan utama dalam menerbitkan izin pembangunan. Selain itu, dokumen ini memandu perwujudan tata ruang yang adil, ramah lingkungan, dan mendukung keberlanjutan. Rencana strategis ini sekaligus menjadi rujukan penting dalam merespons kemajuan teknologi. Tujuannya, wilayah perencanaan dapat bertransformasi menjadi kawasan smart city (kota cerdas) yang nyaman bagi warganya.

Untuk mewujudkan target tersebut, perencana wilayah dan kota harus berpegang teguh pada etika profesi. Mereka perlu menerapkan prinsip ini saat memimpin tim maupun saat merangkul berbagai pemangku kepentingan (stakeholders). Pasalnya, seorang team leader tidak mungkin menyelesaikan tahapan rumit ini sendirian. Itulah sebabnya Kerangka Acuan Kerja (KAK) selalu mensyaratkan pelibatan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu.

Optimalisasi Survei dan Penggunaan Teknologi

Selama berinteraksi dengan stakeholders, perencana harus bertindak lugas sekaligus sangat akomodatif. Mereka wajib menampung beragam aspirasi yang mendukung tujuan mulia pengembangan wilayah. Selanjutnya, tahap perumusan masalah dan penentuan tujuan menjadi fase awal yang sangat krusial. Jika tim berhasil merampungkan tahap ini, mereka pada dasarnya telah menyelesaikan separuh dari keseluruhan pekerjaan.

Kemudian, tim harus mengoptimalkan tahap survei lapangan dalam waktu yang relatif singkat. Pekerjaan pengumpulan data ini tentu bukan sekadar rutinitas wisata kerja belaka. Sebaliknya, Perencana Wilayah dan Kota harus menyerap aspirasi publik secara terfokus. Mereka juga perlu memaksimalkan penggunaan teknologi audio visual untuk merekam realitas lapangan secara akurat.

Para ahli wajib memanfaatkan kemajuan teknologi secara bijaksana tanpa memanipulasi informasi. Mereka dilarang keras merekayasa data, apalagi dengan menyalahgunakan teknologi Artificial Intelligence (AI). Lebih dari itu, perencana harus selalu menggunakan “hati” atau kepekaan sosial selama menjalankan survei. Sensitivitas ini sangat penting untuk menangkap fenomena ketidakadilan dan merumuskan keadilan spasial pada rencana masa depan.

Inovasi Perencanaan dan Adaptasi Profesi

Pada tahap analisis dan penyusunan tata ruang, tim tidak boleh sekadar terpaku pada pendekatan seragam. Mereka harus menyadari bahwa kondisi setiap wilayah sangat berbeda satu sama lain. Meski begitu, para perencana tetap wajib memenuhi seluruh ketentuan standar dalam KAK. Oleh karena itu, tenaga ahli perlu menyeleksi teori, konsep, dan pendekatan secara cermat untuk diterapkan secara tepat sasaran.

Pada titik inilah, seorang perencana wilayah dan kota menunjukkan kreativitas dan inovasinya. Alasan ruang kreasi inilah yang membuat keilmuan perencanaan kota dan wilayah masuk ke dalam rumpun fakultas teknik.

Sebagai profesi modern yang relatif muda, planning (perencanaan) juga terus mengadaptasi pendekatan dari profesi lain. Penyesuaian lintas disiplin ini akhirnya membuat setiap dokumen RDTR menjadi sebuah mahakarya yang unik. Selamat bekerja, para perencana wilayah dan kota yang berintegritas tinggi!

Editor Opini: Agung S Bakti
Isi opini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Opini
Bagikan: