Snex Meledak! PSIS Semarang Mandul, Manajemen Dapat Tenggat Waktu Evaluasi

2 November 2026, 09:12 WIB • 4 menit baca
Ketua Umum Snex Fredy Chandra yang mengenakan kaos hitam berdiri di lintasan atletik Stadion Jatidiri bersiap memimpin aksi Snex protes manajemen PSIS di hadapan para suporter.
TURUN KE LAPANGAN – Ketua Umum Semarang Extreme (Snex), Fredy Chandra (kanan, mengenakan kaos hitam), memantau situasi dari lintasan atletik Stadion Jatidiri, Semarang, Ahad (1/11/2026). (Foto: Imam Abu Maulana/Jatengdata.com)

SEMARANG, Jatengdata.com – Kesabaran suporter ternyata memiliki batas ukur yang tegas. Ketika kemenangan tak kunjung datang, permainan tim terus mengecewakan, dan barisan depan membuang banyak peluang emas, kemarahan publik akhirnya meledak.

Pertandingan pada Ahad (1/11/2026) malam di Stadion Jatidiri Semarang tidak sekadar mencatat kegagalan PSIS mencetak gol.Lebih dari itu, hasil minor ini memicu aksi kelompojk suporter Snex protes manajemen PSIS secara langsung demi mempertaruhkan tingkat kepercayaan suporter terhadap kondisi internal tim.

Skuad Mahesa Jenar kembali memperpanjang catatan tanpa kemenangan usai bermain imbang 0-0 melawan Persikad Depok. Buntut dari hasil mengecewakan tersebut, sorotan paling tajam mengarah langsung dari tribun utara. Suporter Semarang Extreme (Snex) menolak untuk sekadar berteriak menahan kecewa dari atas tribun. Sebagai gantinya, langkah Snex protes manajemen PSIS diambil untuk menuntut pertanggungjawaban secara terbuka.

Kekecewaan yang selama empat laga terakhir tertahan akhirnya pecah tak terbendung. Ketua Umum Snex, Fredy Chandra, bersama sejumlah koordinator lapangan (korlap), mendatangi perwakilan manajemen. Mereka melayangkan kritik tajam atas performa tim yang mereka nilai semakin kehilangan arah.

“Wah, pemainnya kacau. Ini sudah seharusnya kita protes. Kalau hari ini manajemen sama pelatihnya tidak mau keluar, kita akan aksi,” ungkap Fredy Chandra kepada wartawan Jatengdata.com seusai pertandingan.

Menurut Fredy, situasi ini bukan lagi sekadar persoalan menang atau kalah di lapangan hijau. Lebih lanjut, kondisi tim saat ini menyangkut harga diri daerah, harapan ribuan suporter, serta tanggung jawab moril para pengelola klub.

Buang Penalti dan 18 Peluang Emas di Kandang

Hasil imbang melawan Persikad nyatanya memberikan pukulan telak tambahan bagi mental pemain. Mengingat pada tiga pertandingan sebelumnya mereka juga gagal meraup poin penuh, skuad tuan rumah lagi-lagi membuang keuntungan krusial saat bermain di kandang sendiri.

Ironisnya, Laskar Mahesa Jenar sebenarnya mengantongi peluang emas untuk mengamankan tiga poin. Wasit memberikan hadiah penalti kepada tuan rumah pada menit ke-38. Namun sayangnya, eksekusi Felipe Cadenazzi justru gagal menggetarkan jala gawang lawan.

Sepanjang pertandingan bergulir, barisan penyerang sebenarnya terus tampil spartan menekan jantung pertahanan tim tamu. Serangan cepat melalui pergerakan Deri Corfe, Miftahul Hamdi, dan Cadenazzi beberapa kali merepotkan barisan belakang lawan. Akan tetapi, penyelesaian akhir kembali menjelma menjadi penyakit kronis yang belum kunjung sembuh.

Menjelang akhir laga, Jonathan Bustos sempat menebar ancaman berbahaya melalui tembakan jarak jauh dari luar kotak penalti pada menit ke-81. Namun, bola hasil sepakan keras tersebut masih membentur tiang gawang setelah kiper Dafa Al Gasemi menepisnya secara gemilang.

Sementara itu, Jhon Mena turut memperoleh kesempatan emas di depan gawang, tetapi barisan pertahanan Persikad dengan sigap memblok tembakannya. Sepanjang 90 menit pertandingan, para pemain melepaskan total 18 percobaan tembakan tanpa menghasilkan satu pun gol penentu kemenangan.

Transisi Kedewasaan Menuju Protes Bermartabat

Peluit panjang wasit nyatanya tidak mengakhiri kekecewaan malam itu. Seusai pertandingan, situasi di kawasan tribun utara memanas dengan sangat cepat. Para pendukung meluapkan kemarahan serta kekecewaan mendalam mereka. Beruntung, para korlap bergerak sangat sigap meredam emosi anggotanya sehingga keadaan berangsur kondusif.

Oleh karena itu, Fredy sengaja memimpin penyampaian kritik langsung dari atas tribun. Ia menilai momen tersebut sangat krusial untuk menjaga marwah suporter saat menyuarakan ketidakpuasan secara kolektif. Mereka secara tegas menuntut manajemen untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh, terutama terhadap jajaran pelatih.

“Pastinya kita akan menuntut untuk pelatih dan yang membuat tim seperti ini. Ini kami deadline sebelum pertandingan berikutnya harus sudah ada jawaban,” tegas Fredy.

Tenggat waktu tersebut menjadi peringatan keras yang tidak bisa manajemen anggap remeh. Melalui langkah teguran ini, Snex membuktikan bahwa sikap keras dalam mengkritik tidak mengharuskan tindakan brutal di lapangan. Menjaga ketertiban tidak berarti mereka harus bungkam melihat tim kebanggaan mereka hancur.

Sebelum tribun utara benar-benar memalingkan wajah dan kehilangan kepercayaan, para pengurus harus segera berbenah menyadari kondisi krisis ini. Tim mungkin saja gagal mencetak gol di lapangan hijau, tetapi aksi Snex protes manajemen PSIS ini pantang menemui kegagalan serupa dalam merengkuh perbaikan nyata dari pihak pengelola klub.

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.