Memburu Jejak Macan Tutul Jawa di Hutan Gunung Ungaran
UNGARAN, Jatengdata.com – Di atas hamparan daun kering yang menutup lantai hutan Gunung Ungaran, Jawa Tengah, dua anggota tim peneliti berjongkok menghadap pangkal batang pohon besar. Seorang personel tampak mengikatkan perangkat kamera jebak (camera trap) pada batang pohon. Sementara rekannya memantau layar ponsel di tangannya.
Aksi pada Ahad di pekan keempat Oktober 2026 tersebut merupakan kolaborasi banyak pihak untuk mengungkap keberadaan macan tutul Jawa (Panthera pardus melas). Mereka terdiri atas Yayasan Lansekap Nusantara Hijau (YLNH), Yayasan Akar Banir, serta Jurusan Biologi Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Rimbunnya pepohonan dan sunyinya belantara Gunung Ungaran masih menyimpan teka-teki ilmiah mengenai kelestarian satwa liar di dalamnya. Bersama pakar biologi UNNES, Prof. Dr. Margareta Rahayuningsih, tim gabungan menyusuri jalur hutan guna memetakan kondisi keanekaragaman hayati yang selama ini belum terdata secara merata. Mereka memfokuskan pemantauan pada macan tutul Jawa. Hal ini karena sang predator puncak memegang peran kunci sebagai penanda keseimbangan ekosistem hutan.
Mengingat kucing besar tersebut memiliki sifat soliter, selalu waspada, dan menghindari perjumpaan dengan manusia, pengamatan langsung di lapangan menjadi hal yang sangat sulit. Oleh karena itu, tim mengandalkan kamera jebak sebagai instrumen utama. Kamera ini akan merekam pergerakan satwa secara otomatis tanpa mengganggu perilaku alaminya di habitat asli.
Menguji Estimasi Lama Populasi Macan Tutul Jawa
Upaya melacak jejak macan tutul Jawa di kawasan Gunung Ungaran ini berangkat dari catatan ilmiah yang pernah muncul beberapa tahun silam. Pada 2023, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Hendra Gunawan, menyampaikan estimasi bahwa populasi predator puncak di kawasan tersebut berkisar antara empat hingga tujuh individu.
Angka tersebut sekilas memberi harapan bahwa sang penguasa rimba masih bertahan hidup di hutan Gunung Ungaran. Namun, estimasi itu ternyata merujuk pada pemodelan daya dukung habitat tahun 2010. Dengan demikian belum mencerminkan penghitungan populasi terkini di lapangan.
Perubahan bentang alam serta dinamika ekosistem selama belasan tahun terakhir menuntut pembaruan data ilmiah secara langsung. Langkah pemasangan kamera jebak ini akhirnya menjawab kebutuhan mendesak tersebut. Hal ini agar upaya konservasi tidak lagi bertumpu pada asumsi masa lalu, melainkan berpijak pada bukti aktual mengenai daya dukung habitat saat ini.
Melengkapi Peta Kehidupan Liar Gunung Ungaran
Sebelum ekspedisi gabungan ini berjalan, Prof. Dr. Margareta Rahayuningsih bersama Yayasan Akar Banir sebenarnya telah melakukan pemantauan mamalia dengan kamera jebak di sisi lereng barat Gunung Ungaran. Kendati demikian, ketersediaan data mengenai keberadaan mamalia besar di kawasan lereng selatan dan area sekitarnya masih memerlukan penguatan lebih lanjut.
Di tingkat nasional, Yayasan SINTAS Indonesia juga tengah menjalankan program Java-Wide Leopard Survey. Program ini memetakan status populasi macan tutul Jawa di luar kawasan konservasi Pulau Jawa. Sayangnya, program survei berskala besar tersebut belum memasukkan wilayah Gunung Ungaran ke dalam daftar lokasi pengamatan mereka.
Kekosongan cakupan wilayah itulah yang memicu kolaborasi tiga lembaga ini untuk bergerak mandiri melakukan pendataan di lapangan. Selain mengincar kemunculan macan tutul Jawa, kamera jebak juga membidik aktivitas berbagai satwa mamalia besar lainnya.
Selanjutnya, tim peneliti akan menganalisis seluruh rekaman visual. Ha ini guna mengidentifikasi jenis spesies, waktu aktif, hingga pola pemanfaatan ruang habitat di dalam hutan.
Rekomendasi Ilmiah untuk Pengelolaan Hutan
Ketua Yayasan Lansekap Nusantara Hijau, Ario Bhirowo, menegaskan bahwa survei keanekaragaman hayati ini merupakan wujud komitmen lembaganya dalam mendata spesies kunci yang masih bertahan di Gunung Ungaran. Dalam keterangannya pada Kamis (29/10/2026), ia turut mengapresiasi Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah yang telah memberikan izin dan dukungan penuh bagi pelaksanaan studi di kawasan hutan tersebut.
Menurut Ario, kerja keras tim di lapangan tidak boleh berhenti sebatas mengumpulkan dokumentasi foto atau video satwa liar semata. Ia menekankan bahwa temuan survei harus membawa manfaat nyata sebagai pijakan ilmiah dalam menata kelestarian kawasan hutan ke depan.
“Kami berharap hasil dari survei ini nantinya akan dapat menghasilkan suatu rekomendasi arah pengelolaan hutan di Gunung Ungaran,” tegas Ario.
Lebih lanjut, Ario menyampaikan terima kasih atas sinergi erat antara Yayasan Akar Banir dan jajaran akademisi UNNES dalam ekspedisi penelitian ini. Kolaborasi lintas elemen antara pegiat lingkungan, perguruan tinggi, serta pengelola kawasan hutan menjadi modal utama untuk memperluas jangkauan pendataan biodiversitas di Jawa Tengah.
Deretan kamera jebak yang menempel di balik lumut pepohonan kini menjadi saksi yang menanti jawaban dari jantung rimba. Melalui kolaborasi Yayasan Lansekap Nusantara Hijau, Yayasan Akar Banir, dan UNNES, upaya melacak macan tutul Jawa ini mengemban misi besar. Sebuah misi untuk memastikan hutan Gunung Ungaran tetap menjadi rumah yang aman bagi seluruh penghuni liarnya.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.